Selamat

Sabtu, 23 Oktober 2021

27 April 2021|11:09 WIB

Masjid Al Alam Marunda dan Kisah Kesaktian Pasukan Fatahillah

Konon cerita masjid itu hanya dibangun dalam satu malam
ImageMasjid Al Alam Marunda, Jakarta Utara. Sumber foto: Jakarta Islamic Centre.

JAKARTA – Masjid Al Alam Marunda merupakan saksi bisu perjalanan waktu di Marunda, Jakarta Utara, selama sekitar 400 tahun. Sejak didirikan abad pada ke-17, masjid ini menjadi tempat aktivitas ibadah sekaligus sosial bagi masyarakat sekitarnya.

Perjalanan waktu tak membuat Masjid Al Alam Marunda hilang atau ditinggalkan. Hingga kini, masjid ini masih berdiri kokoh, dengan gaya arsitektur yang sederhana, namun tetap indah. Bangunan masjid seluas 500 meter menyatu dengan pekarangan masjid yang bersih dan terawat.

Sementara interior di bagian dalamnya juga sederhana, dengan konsep warna dinding dan pilar-pilar berwarna putih. Tak ada hiasan dinding yang mencolok di dalam masjid, selain sebuah mihrab tua yang diperkirakan usianya sama dengan usia masjid.

Masjid-masjid tua biasanya selalu punya sejarah yang hebat, begitu pula dengan Masjid Al Alam Marunda yang terletak di dekat pantai ini. Menurut cerita yang diturunkan secara turun temurun, masjid ini dibangun oleh pasukan Raden Fatahillah atau dikenal juga dengan nama Jayakarta. Pembangunan masjid terjadi di masa berkobarnya perang antara pasukan Raden Fatahillah dengan pasukan Belanda.

Cerita yang paling populer tentang Masjid Al Alam Marunda yaitu, masjid ini dibangun hanya dalam satu malam. Konon, pasukan Fatahillah terkenal sakti, sehingga mampu membangun masjid dalam waktu sekejap.

Karena kisah itu pula, sejarah pendirian masjid ini disebut ‘gaib’ oleh masyarakat. Artinya, tak ada yang secara pasti mengetahui proses pembangunan masjid ini. Kisah ini dibenarkan oleh Juru Kunci Masjid Al Alam Marunda, Kusnadi.

"Memang ini berdasarkan cerita turun-temurun, masjid ini didirikan para aulia dalam waktu semalam,” ungkap Juru Kunci Masjid Al Alam Marunda, Kusnadi, dalam sesi bincang-bincang tour virtual yang digelar Jakarta Experience Board (JXB), Minggu (25/4).

Menurut cerita lagi, Masjid Al Alam Marunda dibangun oleh pasukan Raden Fatahillah sebagai tempat beristirahat sejenak sambil menyusun strategi, sebelum berhadapan dengan pasukan penjajah. Tempat menyusun strategi itu yaitu di bagian aula masjid yang hingga kini masih kokoh berdiri.

Dari bukti peninggalan fisik, Masjid Al Alam Marunda kemungkinan juga menjadi tempat persinggahan bahkan pusat aktivitas pengajian para ulama Islam di masa setelah periode Raden Fatahillah. Hal itu dikuatkan dengan adanya beberapa makam kuno di salah-satu sisi pekarangan masjid. Menurut catatan Jakarta Islamic Centre di situs Dunia Masjid, salah-satu makam tersebut adalah makam seorang kyai.

Terlepas dari sejarah pendirian maupun sejarah aktivitas keagamaan yang masih belum terang, Masjid Al Alam Marunda telah menjadi salah-satu masjid yang dianggap penting oleh masyarakat Jakarta, dan merupakan peninggalan sejarah bernilai tinggi. Karena itu, sejak tahun 70-an itu, pengelolaan Masjid Al Alam Marunda pun telah ditanggung oleh pemerintah DKI Jakarta.

Masjid Al Alam Marunda dulunya bernama Masjid Agung Aulia. Hal ini merujuk kisah pendiriannya dilakukan oleh para aulia, orang alim yang dipandang sebagai wali. Nama itu kemudian berubah menjadi Masjid Al Alam Marunda pada tahun 1975, ketika kawasan Marunda yang sebelumnya masuk wilayah Provinsi Jawa Barat, resmi masuk ke wilayah Provinsi DKI Jakarta. (Andesta Herli)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER