Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

SENI & BUDAYA

07 April 2021|15:38 WIB

Ledekan Dalam Lawakan

Setiap orang punya keunikan masing-masing yang bisa digali dan menjadi materi roasting.
ImageIlustrasi panggung 'stand up comedy'. shutterstock

Oleh Gisantia Bestari*

Seorang pelawak tunggal (stand up comedian alias komika) bernama Kiky Saputri tampak kebingungan di sebuah acara televisi yang disiarkan secara langsung. Di acara tersebut, salah satu dari dua pembawa acara (host) meminta Kiky untuk me-roasting dirinya.

Kiky sontak terkejut dengan permintaan itu. Pasalnya, ajakan dadakan tersebut justru berkebalikan dengan keinginan tim kreatif yang meminta agar tidak me-roasting host yang dimaksud.

Permintaan tim kreatif disampaikan kepada Kiky setengah jam sebelum acara dimulai. Alasan yang diungkapkan tim kreatif, sang host tidak ingin menjadi sasaran roasting.

Padahal, beberapa jam sebelum acara, Kiky dan tim kreatif acara sudah saling berkomunikasi mengenai materi roasting yang akan Kiky bawakan. Namun, karena permintaan tim kreatif juga, Kiky sepakat untuk tak membawakan materi tersebut.

Tak heran, sontak Kiky kaget campur bingung. Ketika acara berlangsung, sang host malah meminta Kiky untuk me-roasting dirinya

Akan tetapi, tim kreatif pun memberikan kode dari kejauhan, agar Kiky tidak perlu mengabulkan permintaan sang host. Sebuah permintaan yang dianggap basa-basi. Peristiwa ini diceritakan oleh Kiky di channel Youtube Denny Sumargo, pertengahan Maret 2021.

Terus, sebenarnya ada apa sih dengan roasting? Mengapa salah satu teknik melawak dalam stand up comedy ini membuat khawatir sebagian orang?

Teknik Mengolok
Sejatinya, ada banyak sekali teknik melawak dalam seni stand up comedy. Beberapa di antaranya yang populer adalah rule of three, riffing, call back, one liner, impersonation, act out, dan tentu saja roasting.

Roasting sendiri bisa dibilang merupakan teknik mencela, mencibir, menghina, atau mengejek orang lain. Objek yang menjadi sasaran roasting bisa dewan juri, tokoh terkenal, atau sesama komika.

Dalam teknik roasting, komika melontarkan serangkaian lelucon atau candaan yang bermaksud untuk meledek seseorang yang jadi objek sasaran. Seperti di pergaulan sehari-hari, ceng-cengan semacam itu diharapkan dapat mengundang tawa penonton.

Sekilas, jika kita menonton komika sedang melakukan roasting, teknik ini tampak mudah digunakan karena kerap kali tak jauh berbeda dengan candaan kita sehari-hari bersama teman-teman yang kerap terselip ejekan.

Padahal, di panggung, hal tersebut tak semudah ledek-ledekan di tongkrongan.  Untuk dapat melakukan roasting di atas panggung, seorang komika harus mengobservasi atau profiling orang yang akan menjadi sasaran ledekan.

Misalnya, kejadian teranyar apa yang baru saja dialami orang tersebut, apa keunikannya, apa yang disukai dan tidak disukainya, dan sebagainya. Hal ini diperlukan agar roasting yang digencarkan dapat relevan, kekinian, tepat, tajam, dan berisi.

Namun, karena ini adalah sebuah komedi, maka komika harus berusaha agar materi yang disampaikan tidak hanya relevan tapi juga bisa ditertawakan. Harus ada sisi lucu yang bisa diangkat dari kisah orang yang menjadi target. Demikian kira-kira proses kreatif seorang komika dalam merancang materi komedi roasting.

Dalam acara televisi, terutama yang disiarkan secara langsung, materi yang akan dibawakan oleh komika umumnya harus melalui proses pengecekan oleh tim acara. Lelucon yang terlalu sensitif, misalnya berisikan SARA, biasanya menjadi jenis candaan yang harus dihindari.

Tantangan lain yang harus dihadapi komika yang melakukan roasting di acara televisi adalah jika harus melakukannya kepada seseorang yang belum terlalu dikenal secara pribadi. Rasa sungkan dan segan mungkin saja muncul, sebab dikhawatirkan akan muncul rasa tersinggung karena menyangkut kehidupan pribadi seseorang.

Karena itu, perlu adanya pemahaman terlebih dahulu bahwa roasting akan dilakukan dan objek sasaran sudah setuju untuk menjadi incaran roasting

Kepada penulis, komika senior Gilang Bhaskara mengatakan, jarang sekali acara stand up comedy disiarkan secara langsung di televisi. Sebab, pihak televisi khawatir akan muncul kata-kata kasar dan candaan sensitif yang tidak sengaja keluar begitu saja dari mulut komika.

Dengan menayangkan siaran rekaman (taping), pihak televisi dapat memotong, menyunting, atau melakukan sensor terhadap kata-kata komika yang dinilai kurang pantas disiarkan.

Memang, konsekuensinya penonton di rumah menjadi tidak nyaman akan banyaknya sensor dan suntingan di sana-sini ketika menyaksikan penampilan komika. Namun, hal ini harus dilakukan demi kebaikan bersama.

Itulah mengapa, banyak acara stand up comedy yang diselenggarakan secara eksklusif. Acara digelar bukan untuk disiarkan di televisi maupun diunggah secara resmi ke Youtube.

Jenis acara seperti ini biasanya memungut bayaran dan dipenuhi oleh para penikmat setia stand up comedy yang tidak akan bawa perasaan (baper) oleh candaan apapun yang dilontarkan komika. Baik komika maupun penonton, mereka datang dengan pemikiran yang terbuka atas segala hal.  Intinya, mereka sudah siap mendengar, meledek atau diledek dengan langsung atau sarkas.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam acara "Local Standup Day" di Jakarta, pada bulan April 2018. Twitter @aniesbaswedan

Penulis sendiri pernah menghadiri acara stand up comedy seperti di atas. Selama menonton pagelaran tersebut, penulis menyaksikan perbedaan yang sangat jauh antara seni stand up comedy yang diperlihatkan di televisi dan yang disuguhkan di acara itu.

Komika bisa dengan bebas melempar lelucon vulgar, berbau SARA, serta imajinasi-imajinasi ekstrem yang tidak mungkin ditayangkan di televisi. Tak terkecuali, deretan roasting yang begitu lepas dan bebas dilontarkan para komika kepada satu sama lain. Mulai dari roasting ringan hingga cukup menohok dan parah, mereka tetap tertawa bersama.

Bentuk Rasa Hormat
Pada hakikatnya, orang-orang yang saling melakukan roasting adalah mereka yang memiliki hubungan baik di belakang pertunjukan. Adanya batasan-batasan dalam roasting yang telah disepakati sebelum disuguhkan kepada penonton, adalah bukti para pelaku dan penerima roasting sesungguhnya saling menghormati dan menghargai.

Artinya, rasa tersinggung sudah tidak menjadi hal yang harus dicemaskan, karena sudah terbentuk pemahaman bahwa hinaan yang dilontarkan bukan untuk ditanggapi dengan serius.

Pada sejumlah perlombaan stand up comedyroasting menjadi salah satu teknik yang harus dikuasai oleh para peserta dan termasuk salah satu item penilaian juri.

Seorang peserta akan mendapatkan roasting dari peserta lain, yang kemudian harus dibalas dengan roasting juga. Kecerdasan dan kreativitas peserta pun diuji pada sesi ini. 

Jika ada seseorang yang menolak untuk menjadi sasaran roasting, maka ini bukan soal benar dan salah. Jika seseorang tersebut adalah tokoh yang dikenal luas oleh masyarakat, kemungkinan ada beberapa alasan yang melatarbelakangi penolakannya.

Misalnya, kekhawatiran bahwa roasting akan menjadi bahan pemberitaan media bersentimen negatif yang memengaruhi nama baik sang tokoh. Belum lagi, para penggemar yang tersinggung karena idolanya mendapatkan roasting.

Pada akhirnya, begitulah seni dari berkomedi. Berbagai aspek dalam kehidupan berpotensi menjadi bahan tertawaan dan setiap orang punya keunikan masing-masing yang bisa digali dan menjadi materi roasting.

Dalam stand up comedy, kejutan bisa datang kapan saja. Materi yang dikira akan bikin tersinggung, malah tidak menyinggung siapa-siapa. Sebaliknya, materi yang tidak bermaksud menyinggung, malah bikin sejumlah pihak tersinggung. Padahal, intinya semua pelaku seni tentu ingin mencapai apa yang menjadi tujuan utama dari berkesenian, yakni untuk menghibur.

Singkatnya, kalau gak siap dicengin, jangan nongkrong di tongkrongan yang suka bercanda dan saling ledek. Kalau gak siap di-roasting atau mendengar roasting-an, jangan tonton acara stand up comedy. 

Jangan juga pura-pura asyik dengan mengundang si tukang ngecengin untuk meledek. Nanti baper, repot urusan. Lebih baik, cari hiburan lain, misalnya menggambar bunga di taman warga atau mencari kutu air di rawa-rawa bareng keluarga.

*) Peneliti Muda Visi Teliti Saksama

Referensi:
Loyang, Yaser Karuba. (2019). Pemanfaatan Gaya Bahasa dalam Stand Up Comedy Academy Stasiun Televisi Indosiar Periode September-Oktober 2017. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta=

Muhammad, Oki. (2016). GAYA KOMUNIKASI COMIC KOMUNITAS STAND UP INDO PKU PEKANBARU. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau Pekanbaru

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA