Selamat

Senin, 17 Mei 2021

VISTA

15 Maret 2021|21:24 WIB

Jalan Juang Onte Menjaga Alam

Miris menyaksikan hutan semakin rusak akibat pembalakan tidak sah, dia nekat menyusup ke kelompok penebang liar, demi menyadarkan mereka
ImageSilverius Oscar Unggul, Aktivis lingkungan Indonesia. Sumberfoto: Ist/dok

JAKARTA – Silverius Oscar Unggul bergidik, saat sebilah parang disorongkan ke arah wajahnya. Para pembalak liar kayu jati marah, ketika dia mencoba mengingatkan tindakan keliru mereka.

"Kalau kau larang kita tebang kayu, lama-lama kau yang kita tebang," ceritanya, menirukan ucapan satu pembalak liar.

Siang itu pada 2015, Onte, sapaan Silverius, nekat mengajak berbincang belasan pelaku illegal logging di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dia miris menyaksikan kerusakan hutan yang kian meluas. Di sisi lain, dia juga memahami, orang-orang itu tidak membalak atas kemauan sendiri. Mereka hanya diperalat para cukong.

"Mereka melakukan illegal logging karena ada orang yang menyuruh dan memberi uang," kata Onte kepada Validnews, Jumat 12 Maret lalu.

Dia pun mengerti, pembalak liar bukanlah pekerjaan yang tanpa risiko. Seringkali mereka harus sigap berlari, demi menghindari kejaran polisi hutan. Jika tertangkap, hukuman bui menanti. Merekalah yang dijadikan "tumbal". Sementara para bandar dan penadah, tetap berada di tempat aman.

Maka, untuk menyelamatkan hidup para perambah hutan itu, Onte melakukan pendekatan. Karena dia paham betul, melarang bukanlah solusi.

Hal yang dipikirkan adalah, mengarahkan kelompok itu agar berpindah ke ladang nafkah yang lain. Yakni, mengelola dan mendapatkan hasil dari hutan secara berkelanjutan. Bukan dijadikan korban.

Sandiwara Pembalak
Lantas, Onte mendirikan Koperasi Hutan Jaya Lestari Indonesia atau KHJLI. Harapannya, para pembalak kayu ilegal mau bergabung. Meski dia tahu, itu bukan perkara mudah. Karena selama ini orang-orang itu bisa mendapat uang dengan cepat, setelah menebang kayu yang bukan milik mereka.

Rentetan pertanyaan dari pelaku illegal logging harus dijawab satu per satu. Yang paling disorot, apakah setelah masuk ke koperasi, mereka bisa tetap mendapat pemasukan?

Dalam keadaan terpojok, Onte pun menjawab, harga kayu yang dikelola koperasi, 30% lebih tinggi dibanding patokan tengkulak. Jawaban itu tentu ngawur dan gegabah. Onte hanya ingin meredam para pembalak, agar tak bertambah marah.

Mendengar itu, sontak raut wajah orang-orang itu berubah. Mereka mulai bertanya, bagaimana caranya?

Onte lalu memberi jawaban teknis. Tidak boleh mengusung kayu yang belum masuk usia tebang, dengan minimal diameter batang sekitar 100 cm, dan harus menanam 10 bibit pohon jati setelah menebang satu pohon.

Juga, tidak boleh menebang pohon di lahan miring, bantaran sungai, dan sekitar mata air.

Namun, para pembalak kembali geram. Menurut mereka, aturan tersebut terlalu rumit. Lagi-lagi Onte berusaha meyakinkan, bahwa itu semua demi kelangsungan ekosistem hutan rakyat.

"Tidak ada yang lebih penting selain kami kasih makan anak-istri," jawab mereka, sembari menodongkan parang ke depan mata Onte.

Detik itu juga Onte sadar, keadaan tak bisa lagi dikendalikan. Dan, dia pun menyerah.

Tak lama setelah peristiwa tersebut, Onte melancarkan siasat kedua. Dia memilih bergabung dengan para pembalak, agar memahami pola pikir mereka. Tak tanggung-tanggung, dia turut dalam rombongan, keluar masuk hutan melakukan illegal logging. Termasuk ikut kucing-kucingan, dan kabur dari kejaran polisi hutan. Itulah yang menjadikannya diterima oleh para pembalak liar.

Dari situ, obrolan-obrolan soal "mimpi"-nya dimulai. Berangsung-angsur, Onte merasukkan pesan-pesan penyadaran. Jika pekerjaan membalak liar itu terus dilakukan bagaimana dengan masa depan keluarga mereka? Bila tertangkap dan harus mendekam di dalam hotel prodeo, apakah anak-anak mereka bisa bersekolah lebih tinggi?

Tak ada satu pun dari mereka yang pernah memikirkan itu. Yang mereka tahu hanyalah mencari uang untuk hari ini dan esok. Perlahan, "rayuan" soal koperasi kembali dilontarkan. Onte meyakinkan, melalui koperasi tersebut, kehidupan para pembalak akan berubah lebih baik.

Di luar dugaan, setelah tujuh bulan keluar-masuk hutan menjadi pembalak, jurusnya membuahkan hasil. Secara sukarela, satu per satu warga bergabung dengan koperasi buatan Onte.

"Hampir semua anggota awalnya adalah pelaku ilegall logging," imbuhnya.

Peran Koperasi
Sejak hari itu, warga berbenah diri. Tidak lagi yang menebang secara ilegal. Semua berdampingan menjalankan pengelolaan hutan rakyat lestari. Program tebang pilih mulai dilakukan.

Hanya pohon berdiameter tertentu saja yang ditebang. Saat kayu jati tersebut ambruk, petani langsung mengambil 10 bibit baru untuk ditanam. Sejalan itu, Onte dan warga mulai melakukan pendataan kayu milik masing-masing petani.

Secara berkesinambungan program dijalankan, hingga koperasi itu mendapatkan sertifikat ekolabel dari The Forest Stewardship Council (FSC). Di dalamnya dijelaskan, kayu jati dari koperasi Onte memiliki standar internasional pada pemenuhan kayu bagi furnitur di tingkat dunia.

Lebih keren lagi, sertifikasi tersebut adalah yang pertama di kawasan asia pasifik. Alhasil harga kayu para petani melonjak dua kali lipat. Jika semula dihargai Rp1,5–2 juta, setelah penerbitan sertifikat tersebut, naik menjadi Rp6 juta per meter kubik.

"Berbondong-bondonglah petani ikut dalam koperasi itu," ujar Onte puas. "Sampai sekarang ide itu berkembang ke kota-kota lainnya," tandasnya.

Keberhasilan Onte dan koperasinya menyulut lantas kemarahan para tengkulak kayu jati ilegal. Seorang di antara mereka, melaporkan koperasi Onte ke polisi, dengan tuduhan melakukan pembalakan liar.

Atas aduan tersebut, polisi langsung menangkap seorang pengurus koperasi yang kala itu sedang melakukan bongkar muat kayu. Namun tuduhan itu sirna, setelah polisi menelusuri asal-usul kayu dan barcode yang tertera di batang pohon.

Dari situ didapati sejarah kayu tersebut. Semua tertera jelas, dari nama pemilik, masa awal ditanam, usia panen, dan koordinat lokasi pohon.

"Waktu ditangkap dan kami jelaskan nomor-nomor itu akhirnya polisinya keki deh," cerita Onte tergelak.

Akhirnya, Onte pun mengajak para tengkulak untuk terlibat dalam koperasi. "Hingga kini jumlah anggota koperasi sudah 12 ribu lebih petani," tegasnya.

Awal Perjuangan
Bagi Onte, hasil yang didapat kini, merupakan buah keprihatinannya pada kondisi alam yang kian lama semakin mengenaskan. Sejak remaja, dia sudah menjadi saksi kerusakan-kerusakan itu.

Semasa kuliah di Jurusan Pertanian Universitas Haluoleo, Onte memiliki kegemaran mendaki gunung. Berbeda dengan yang ada di Pulau Jawa, gunung-gunung di Kendari adalah perbukitan yang tertutup hutan lebat.

Singgah ke rumah warga di desa terakhir, menjadi kebiasaannya tiap kali mendaki. Sekadar menikmati sapaan ramah warga setempat, sembari mengudap makanan hasil hutan dan sungai.

Namun, seiring kemarakan pembalakan liar, suasana indah itu memudar.

"Di usia muda kita lihat bagaimana alam yang baik membuat masyarakat sejahtera. Sementara waktu alamnya rusak, masyarakatnya menderita," imbuh Onte.

Itulah yang memicu Onte mendirikan Yayasan Pecinta Alam atau Yascita, di kampus. Bersama rekan-rekan yang peduli kelestarian hutan, Onte membuat investigasi besar-besaran terkait dampak buruk illegal logging. Hasilnya nanti, diharapkan bisa menarik perhatian media lokal di Kendari.

Namun, niat baik itu tidak ada yang menyambut. Dengan terpaksa, Onte membuat media sendiri untuk mengabarkan informasi tersebut. Ia memilih jalur radio, yang diberi nama, Swara Alam.

Studionya mungil, penuh keterbatasan. Sampai-sampai, Onte menjulukinya radio kandang ayam. Untuk mendapatkan sinyal, antena harus diikat di atas pohon mangga. "Yang penting bisa menyuarakan apa yang kita lihat," tukasnya.

Pelan tapi pasti, radio Swara Alam mulai mendapatkan tempat di hati pendengar. Untuk mendapatkan sorotan lebih luas, Onte dan kawan-kawannya lantas membuat saluran televisi bernama Kendari TV. Sadar, betapa mahal biaya pembuatan acara, Onte pun merancang program partisipatif dari masyarakat Kendari.

Masyarakat semangat terlibat, dengan membuat konten masak, sunatan, sampai kawinan. Mereka boleh mengirimkan video kegiatan, yang akan disiarkan dengan jadwal tertentu. Di luar dugaan, program tersebut mengerek pamor Kendari TV.

"Nah akhirnya TV jalan, kampanye kita lakukan anti-illegal logging," tukasnya.

Bagi Onte, alam yang baik akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Kelestarian hutan akan membuat hidup lebih seimbang. Sederhananya, oksigen yang hari ini dinikmati adalah jawaban dari cara menjaga alam. 

Terus Jaga Keseimbangan Alam
Onte teringat pada satu peristiwa di World Economic Forum (WEF) di New York, Amerika Serikat, pada 2010 lalu. Kala itu, sebagai salah satu perwakilan Indonesia, Onte berdebat hebat dengan seorang petinggi perusahaan asing. Keduanya mempersoalkan pemberdayaan sosial dan pelestarian hutan.

Menurut Onte, seringkali Indonesia dijadikan kambing hitam atas kerusakan hutan. Padahal, pasar dari para perusak hutan adalah orang-orang asing. Cukong-cukong di balik pelaku ilegal logging pun rata-rata dari luar negeri.

"Padahal market-nya cukong-cukong besarnya dari Singapura, Malaysia, dan China. Kebakaran hutan hebat disalahkan kita padahal itu kebun miliknya orang asing yang terbakar," tegasnya.

Oleh karenanya, Onte berpendapat, masalah lingkungan mesti menjadi tanggung jawab global dan tidak saling menyalahkan. Karena tidak mungkin ada yang berani mencuri kayu tanpa kehadiran pasar ilegalnya.

"Jadi semuanya harus berperan serta jadi enggak bisa hanya salahkan Indonesia. Semua punya salah," tuturnya.

Pun, Onte juga memberikan apresiasi kepada pemerintah karena sudah menempatkan proses illegal logging sebagai sebuah perilaku kejahatan berat. Dari segi pasar, sekarang orang mulai membeli kayu-kayu dari hutan yang terkelola berkelanjutan.

Ia juga meminta konsistensi pemerintah untuk terus memberikan hak pengelolaan hutan kepada rakyat. Dengan begitu, rakyat serta merta akan menjaganya.

Atas dedikasinya dalam melestarikan alam, Onte mendapat banyak penghargaan. Antara lain, “Wirausaha Sosial Tahun Ini di Indonesia” pada 2008, Penghargaan Lingkungan Conde Nast Traveler pada tahun 2008, Pemimpin Muda Global pada tahun 2009, Teman Ashoka tahun 2009, Penghargaan Skoll tahun 2010, dan Penghargaan Liputan 6 SCTV kategori Pemberdayaan Masyarakat tahun 2010.

Itu semua, juga bentuk pengakuan berbagai pihak atas kerja keras Onte dalam memberdayakan seluruh petani kayu jati di daerahnya. (Dwi Herlambang)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER