Selamat

Senin, 17 Mei 2021

VISTA

11 Maret 2021|00:15 WIB

Dari ODHA Untuk Sesama

Keadaan sulit yang berhasil dilalui setelah divonis mengidap HIV, menjadi pendorongnya untuk membangun sesuatu yang bermanfaat bagi penderita yang lain.
ImageScott Alfaz, Chief Executive Officer hayVee. Sumberfoto: Instagram/(scotchandsoba__)

JAKARTA – Scott Alfaz kesal luar biasa, ketika tahu seorang sahabat mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Dia kecewa, si kawan tidak belajar dari kesalahan-kesalahannya. Padahal, berkali-kali dia mengingatkan untuk waspada dengan virus itu. Kini, mereka berdua sama-sama terpapar human immunodeficiency virus atau HIV.

Sebenarnya, Alfaz tidak ingin sok menjadi juru selamat. Hanya, dia paham betul, betapa seseorang bisa sangat terpukul saat menerima kabar buruk itu. Seakan sudah berada di garis akhir kehidupan. Sebab keadaan itulah yang dia rasakan pada tahun 2012.

Masa tersebut, dia sedang bungah menjalani pekan pertama sebagai mahasiswa baru di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Ospek dijalaninya dengan riang seraya tanpa beban. Bahkan, kegembiraan itu pula yang mendorong laki-laki asal Jember itu untuk turut mendonorkan darah pada sebuah pos PMI yang dibuka di sana.

Nahas, niatan luhur itu justru mengubah cerita hidupnya.

"Beberapa hari kemudian PMI Kota Jogja panggil aku, tapi mereka belum bilang kalau darahnya ada HIV. Dari PMI aku dirujuk ke Puskesmas di Jogja," ujar Alfaz ketika berbincang dengan Validnews, Selasa 9 Maret 2021.

Di puskesmas, dalam ruang berukuran 12 meter persegi, dia divonis positif mengidap HIV. Alfaz seperti mati rasa, saat menerima hasil tes. Detak jantungnya serasa nyaris berhenti.

Dia kalut, kehabisan kata. Di kepalanya berpusar kecemasan: HIV telah menggiringnya ke akhir kehidupan. Mimpinya membangun keluarga di masa depan langsung buyar, digantikan ketakutan-ketakutan.

Namun, momok itu disimpannya rapat di benak. Dia mengunci mulut di depan keluarga.

"Karena enggak ingin bikin keluarga sedih. Bukan takut ditolak atau diusir, lebih takut bikin keluarga sedih," ujarnya.

Alfaz hanya bisa menumpahkan unek-unek kepada teman barunya. Wajar saja, di perantauan dia belum mengenal banyak orang. Beruntung, sambat itu disambut dukungan. Setidaknya bisa sedikit melonggarkan pikiran.

Namun cara itu, ternyata tak berhasil membuatnya tenang sediakala. Bahkan, pada beberapa kesempatan, Alfaz ingin mengakhiri hidup. Namun, upaya itu berkali-kali pula diurungkannya.

"Dua tahun pertama on and off gitu, kadang bisa berdamai, kadang muncul lagi. Merasa enggak punya masa depan, malu-maluin siapapun," ujar Alfaz.

Keputusasaan merundungnya. Kerap, ketika menjelang tidur, ia bertanya di dalam hati, mengapa harus hidup bersama HIV?

Seiring waktu, tubuhnya kian mengurus. Kulit melegam dan rambutnya rontok. Katanya, itu akibat alergi obat. 

Alfaz harus melalui dua tahun yang berat. Di sela-sela kegiatan kampus, ia mesti diiring oleh pendamping sebaya dari komunitas pemerhati penderita HIV. Namun, si pendamping itu juga mengidap HIV itu memiliki kondisi yang lebih parah. Bukan mendapat suntikan energi, malah terkadang Alfaz yang memberikan kekuatan.

Teman-temannya mulai menjauhi. Alfaz mewajarkan itu. Tak semua orang nyaman dengan keadaan yang disandangnya.

Keterkucilan Alfaz makin menjadi-jadi ketika pulang ke kampung halaman. Dia mesti menyembunyikan atau paling tidak menyamarkan bungkus obat HIV dengan mengganti kemasan.

Berjuang Demi Sesama
Hingga suatu hari pada akhir 2013, Alfaz sampai pada sebuah kesadaran. Jalan tunggal yang harus dilaluinya ialah meneruskan hidup! Sementara, itu semua mustahil ditempuh bila dia tidak berdamai dengan kenyataan.

"Jadi itu jadi wakeup call juga. Ya sudah kalau milih berakhir, ya yang berhasil jangan kayak kemarin-kemarin. Kalau mau lanjut, ya yang berhasil jangan kayak kemarin juga. Berhubung milih buat lanjut hidup, aku menganggap hidup aku harus lebih cerah dari yang sudah-sudah," tuturnya.

Tekad untuk melanjutkan hidup pun diteguhkan. Ia tak ingin menjadi beban keluarga.

Pada 2015, Alfaz berhasil menyandang gelar sarjana hukum. Setahun bekerja di sebuah firma, pada 2017 Alfaz melanjutkan studi ke Belanda. Satu cita-cita yang sudah lama diidamkannya.

Hidup di Negeri Kincir angin membawanya kepada kesadaran baru: hidup akan lebih bermakna jika bisa bermanfaat untuk orang lain. Maka pada tahun 2019, seusai lulus dan pulang ke Indonesia, Alfaz merintis pendirian hayVee. Sebuah platform digital edukasi yang mewadahi para pengidap HIV. Alfaz tidak sendiri, tapi bersama dengan orang-orang sepaham dengannya.

Ia berharap hayVee bisa menjadi wahana berbagi untuk siapa saja yang membutuhkan informasi mengenai HIV. "Ini mengedukasi teman-teman yang belum kena. Semoga enggak sampai kena. Semoga mereka bisa aware, semoga mereka bisa tau penularannya lewat apa, cara mencegahnya gimana," ungkap Alfaz.

Alfaz mencoba menerbitkan harapan. Utamanya kepada mereka yang membutuhkan informasi mengenai virus perusak sistem kekebalan tubuh itu. HayVee digunakan Alfaz untuk membantu orang dengan HIV/Aids alias ODHA, termasuk menolong seorang sahabatnya yang telanjur tertular meski telah diwanti-wanti untuk berhati-hati.

Sepanjang 2020, hayVee menggandeng banyak psikolog untuk mengedukasi masyarakat yang membutuhkan pengetahuan lebih tentang HIV.

Suatu waktu, Alfaz berkesempatan menjadi pembicara di sebuah televisi swasta. Sungguh hal yang tak mudah baginya. Bukan karena grogi atau tiada nyali. Namun, tampil di tv sama dengan membuka diri, termasuk kepada keluarganya. Sebab, sejak 2012 hingga Agustus 2020, Alfaz menyimpan rahasia itu rapat-rapat.

Di sisi lain, sebagai orang yang sudah berdamai dengan penyakit itu, Alfaz terdorong untuk menebar semangat kepada sesama penderita.

Cerita panjang Alfaz menyembunyikan HIV dari keluarga pun berakhir. Kini ia merasa lega, setelah membuka diri. Tak lagi diam-diam mengganti kemasan obat, atau mengendap-endap saat menjalani perawatan. Bahkan, Alfaz menjadikan media sosialnya sebagai platform edukasi untuk warganet.

Mimpi Alfaz
Alfaz selalu resah apabila melihat peningkatan angka penularan HIV di Indonesia. Dia berharap pemerintah bisa bekerja lebih keras lagi untuk hadir di tengah-tengah ODHA. Membantu mereka dengan segala cara, termasuk dari sisi pengobatan, dukungan mental hingga finansial.

Seiring itu, Platform hayVee dipacunya agar bergerak lebih masif.

"Yang bisa dilakukan sekarang masih secara terbatas. Belum bisa besar banget, belum bisa secara masif. Kalaupun donor belum ada donor juga, benaran swadaya," ujar Alfaz.

Dengan dukungan yang lebih besar, Alfaz yakin hayVee bisa leluasa berkembang, sehingga lebih jauh membantu ODHA, serta orang-orang yang hidup dengan risiko HIV.

"hayVee beneran bisa jadi teman buat yang belum kena dan yang sudah kena. Biar mereka bisa diedukasi, biar mereka bisa saling support," tutup Alfaz. (Muhammad Fadli Rizal)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA