Selamat

Senin, 17 Mei 2021

GAYA HIDUP

27 Maret 2021|18:00 WIB

Bersiap Jurus Menunggu Dibukanya Tanah Suci

Keluarga bisa menjadi pengobat kecewa terhadap keberangkatan yang tertunda
ImagePetugas kesehatan memeriksa tekanan darah jem aah calon haji sebelum disuntik vaksin COVID-19 dosis pertama di Puskesmas Merdeka, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (25/3/2021). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

JAKARTA – “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu”. Suwandi (59) tak henti-hentinya merapal kalimat talbiyah begitu tahu namanya tercantum dalam daftar calon jemaah haji Indonesia tahun 2020. Air matanya turun menyusuri pipi terharu.

Kegembiraan Suwandi menebal saat tahu nama istrinya pula tercantum di daftar yang sama melalui sistem penggabungan. Sebuah momen sempurna yang pernah ia rasakan selama hidup di kolong langit. Momen haru itu pecah di sebuah rumah di Daerah Istimewa Yogyakarta, pada awal merebaknya pandemi, tahun lalu.

Selama ini Suwandi tidak pernah terbayang akan berangkat haji. Hal itu terasa jauh dan mustahil. Berprofesi sebagai seorang guru, dan memiliki tiga anak, saban bulan gaji Suwandi seluruhnya habis untuk keperluan rumah tangga. 

"Secara logika kemungkinan saya berangkat kecil," cerita Suwandi kepada Validnews, Kamis (18/3). 

Akan tetapi, niat Suwandi menyempurnakan Rukun Islam kelima itu lebih keras ketimbang pikiran pesimisnya. Jalan apapun akan ia tempuh agar bisa menabung untuk pergi haji. Ia meyakini, Allah akan memberi jalan bagi mereka yang berniat baik.

Oktober 2010, Suwandi nekat mendaftarkan diri berangkat haji melalui tabungan berkala yang difasilitasi salah satu bank di Indonesia.

Suwandi mulai mencari pekerjaan sampingan agar mencapai target nominal biaya haji tercukupi. Uang lebih melalui artikel-artikel dan khotbah-khotbah yang sering ia tulis untuk orang lain dan juga honor mengisi ceramah di acara pengajian, dikumpulkan. Setiap kali mendapatkan uang Rp500 ribu sampai Rp1 juta, ia langsung pergi ke bank untuk menyetorkannya. Siapa sangka, dalam tiga tahun Suwandi berhasil mengumpulkan uang tabungan hajinya.

Suwandi dan istri memulai persiapan keberangkatan mulai November 2019. Bersama sang istri, Suwandi mulai rutin olahraga rutin agar badan tetap prima selama beribadah nanti. Ia juga sudah melakukan pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, membuat paspor, mengambil kain ihram, buku panduan, hingga mengikuti manasik haji yang diselenggarakan Kementerian Agama Kanwil Yogyakarta. 

Tak lupa, ia juga menyiapkan mental, hati secara spiritual, tawakal, dan tentu saja berserah. Doa-doa wajib ibadah haji, sedikit demi sedikit ia hafalkan. Satu-satunya yang belum siap kala itu hanya pengambilan koper. Suwandi dan istri mantap berangkat ke tanah suci pada Juni 2020.

Namun, rencana hanya rencana. Saat persiapan fisik dan mental sudah mencapai 90%, pemerintah Arab Saudi sebagai tuan rumah menutup pintu untuk pelaksanaan haji dan umrah. Penyebabnya tentu saja pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia.

Sontak Suwandi kalut mendengar kabar itu. Mimpi yang dipupuknya selama satu dekade layu begitu saja. Berhari-hari, berminggu-minggu kekecewaan meliputi. Namun Suwandi buru-buru sadar, kecewa pada keadaan pandemi sama saja menghardik Tuhan. Toh, ia gagal berangkat bukan karena tidak mampu, juga bukan karena penyelenggara haji tidak profesional.

Kekecewaan yang sama juga sempat dirasakan Latifah (42). Awalnya, tidak mudah bagi Latifah saat tahu impian yang dipeliharanya selama sembilan tahun sirna di depan mata. Ia mendapat kekuatan dari dukungan sesama calon jemaah haji yang berkumpul dalam satu grup WhatsApp.

"Alhamdulillah, di grup itu saling menguatkan. Bahwa semuanya itu akhirnya ada di takdir Allah. Intinya, kami pasrahkan semua sudah diatur Allah mau meninggal, hidup, haji atau tidak," kata Latifah, Rabu (17/3). 

Setahun pandemi berlalu, Latifah mulai menerima bahwa ada hikmah di balik penundaan keberangkatannya. Dengan berpikir begitu, kekecewaan Latifah bisa lenyap dengan cepat. “Semua kita kembalikan karena kita muslim, semuanya ada di kehendak Allah.”

Berharap Tahun Ini
Pada awal Februari lalu, Pemerintah Arab Saudi melarang 20 negara mengikuti ibadah haji tahun ini, termasuk Indonesia. Namun minggu lalu, Kamis (25/3), Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Esam Abid Althagafi memastikan Pemerintah Arab Saudi bisa membuka pintu bagi jemaah haji 2021. Namun, aturan pelaksanaannya di tengah pandemi covid-19 masih digodok.

Meski belum ada kejelasan, calon jemaah haji asal Indonesia masih terus mematangkan persiapan kalau tahun ini bisa berangkat. Salah satu bentuk persiapannya, menjalankan vaksinasi covid-19 ke seluruh calon jemaah haji secara berkala.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, dr. Eka Jusuf Singka menjelaskan, sejauh ini Indonesia masih menunggu kepastian dari Arab Saudi. Selama fase menunggu, pihaknya terus melakukan persiapan. 

Vaksinasi covid-19 kepada calon jemaah haji serentak dilakukan di seluruh Indonesia melalui skema vaksinasi nasional mulai 1 Maret hingga 31 Maret 2021. Vaksinasi utamanya diberikan kepada para calon jemaah lansia yang menjadi prioritas nasional. 

Selain vaksinasi, Kemenkes juga melakukan penyuluhan kesehatan, pembinaan kesehatan kebugaran, dan olahraga melalui aplikasi SIPGAR. Ada pula panduan kebugaran yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemenkes. Para calon jemaah haji bisa menjaga stamina dengan memantau kedua platform tersebut.

Eka melanjutkan, Indonesia sudah merancang standardisasi ibadah haji jika bisa terlaksana tahun ini, antara lain membuat program karantina dan protokol kesehatan yang wajib dipatuhi selama pelaksanaan ibadah haji. 

Tak berbeda dengan protokol kesehatan pada umumnya, jemaah haji harus menjaga jarak, menghindari kerumunan, mencuci tangan, dan memakai masker. Jika ada jemaah asal Indonesia yang terpapar covid-19 saat melaksanakan ibadah haji, wajib melakukan tes, tracing dan treatment

"Bagaimana kita melakukan tes kepada jemaah haji yang suspek ada gejala indikasi covid? Kita lakukan tes PCR swab," urai Eka kepada Validnews, Senin (22/3). 

Ia mengklaim, persiapan kesehatan calon jemaah haji asal Indonesia sudah siap. Kemenkes tinggal menunggu kepastian dari Arab Saudi terkait jumlah kuota jemaah haji Indonesia yang diperbolehkan berangkat.

Sambil menunggu kepastian, dr. Eka memberi beberapa tips kesehatan untuk para calon jemaah haji. Dia menyarankan, para jemaah bisa berolahraga dengan berjalan kaki sejauh 1,6 km atau empat kali lapangan bola dalam waktu 15 menit.  Lakukan olahraga itu tiga kali dalam satu minggu. 

Menata Hati
Dari tahun ke tahun, jumlah calon jemaah haji Indonesia terus bertambah. Tahun lalu saja, Indonesia rencananya mengirim 221 ribu calon jemaah haji, termasuk Suwandi dan Latifah.

Jangan kaget, jika sering mendengar kisah haru seseorang yang berupaya keras demi berangkat haji. Antrean untuk berangkat pun tidak sebentar. Ada jemaah yang harus menunggu antrean hingga 15 tahun, meski ada juga yang kurang dari itu.

Badan Pusat Statistik mencatat, kuota jemaah haji Indonesia dalam lima tahun terakhir mengalami kenaikan. Pada 2015 hingga 2016, kuota jemaah haji asal Indonesia sebanyak 168 ribu. Mulai 2017 sampai 2020 jumlahnya meningkat menjadi 221 ribu orang jemaah.

Angka tersebut gabungan antara jemaah haji reguler dan ONH plus yang diadakan travel perjalanan. Kuota tersebut tentu saja masih kurang dibandingkan dengan animo masyarakat yang ingin berhaji. 

Melihat data dan fakta di atas, psikolog klinis Denrich Suryadi menyatakan akan sangat wajar jika calon jemaah haji asal Indonesia merasa kecewa jika keberangkatannya semakin lama tertunda. Menurutnya, ini adalah ujian ketakwaan seorang umat muslim kepada sang Maha Pencipta.

Denrich menilai, jemaah harus menerima realita ini.

"Jadi harus terima dulu kondisi pandemi. Jadi otomatis mereka akan lebih mudah menerima kenyataan kalau mereka gagal naik haji," kata Denrich, Rabu (24/3).

Agar rasa kecewa tersebut tidak berlangsung lama, Denrich menyarankan para jemaah memahami bahwa yang mereka alami tidak dirasakan seorang diri. Jemaah harus sadar bahwa ada ratusan ribu orang calon jemaah yang sama-sama ditunda keberangkatannya. 

Keluarga dan lingkungan berperan penting membantu para jemaah tidak larut dalam kesedihan. Keluarga harus memberikan waktu, memahami, dan mencoba mengerti perasaan jemaah yang sedang berkabung karena kondisi gagal berangkat.

Apa yang terjadi hari ini tentu saja bukanlah kehendak manusia, melainkan kehendak Tuhan sang Maha Pencipta. 

Senada, psikolog Nirmala Ika menyatakan ditundanya keberangkatan haji bagi para calon jemaah tentu saja akan berdampak pada psikologis seseorang. Menurutnya, ibadah haji yang sudah menjadi ibadah spiritual seseorang umat muslim harus dikembalikan lagi menuju keadaan yang logis hari ini terjadi. 

Ia mafhum, mengikhlaskan sesuatu yang sangat diimpikan sangatlah tidak mudah. Cara meregulasi kekecewaan, misalnya dengan mengontrol emosi dengan kegiatan yang membuat suasana hati tenang.

"Salah satu yang kita bisa lakukan, ya, bergerak. Itu membantu kita minimal pikiran tidak ke situ terus. Tidak merasa sia-sia. Jadi bisa olahraga, apapun geraknya," ujarnya. 

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Muhyiddin Junaidi juga berpesan kepada calon jemaah. Dia meminta jemaah sadar bahwa dunia masih mengalami krisis pandemi covid-19. Pahami pula bahwa pemerintah membutuhkan waktu dalam memberi vaksin setiap orang. Jika dipaksakan, akan lebih banyak keburukannya ketimbang manfaatnya.

Muhyiddin menekankan, para jemaah meskipun tidak bisa melakukan ibadah haji, tetap bisa mendapat pahala besar sebesar pahala berhaji. 

"Apa itu? Pertama menyantuni orang-orang yang tidak mampu bisa kita beri perhatian. Istilahnya kegiatan sosial harus diutamakan, menciptakan lapangan kerja juga bisa dilakukan," jelas Muhyiddin kepada Validnews, Rabu (24/3).

Muhyiddin menjabarkan, ada istilah istitoah dalam ibadah haji. Istitoah adalah panduan dan syarat penting melaksanakan haji, meliputi kemampuan dari sisi biaya, kesehatan, dan keamanan. Jika keamanannya tidak terjamin, dengan sendirinya pelaksanaan ibadah haji tidak menjadi wajib. 

Hal itu yang menjadi dasar ibadah haji berada di urutan kelima dalam Rukun Islam setelah syahadat, salat, puasa, dan zakat. Artinya, ibadah haji harus memenuhi unsur-unsur istitoah yang sudah dianjurkan. Masih ada 1001 cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, kata Muhyiddin. Tidak harus pergi ke tanah suci bila doa ingin diijabah. Doa tetap bisa dipanjatkan di manapun dan kapanpun, misalnya pada 2/3 malam dengan khusyuk.

Sejarah Penundaan Haji
Sebelum masa pandemi covid-19, Pemerintah Arab Saudi pernah meniadakan pelaksanaan ibadah haji beberapa kali. The Saudi King Abdul Aziz Foundation for Research and Archives mencatat, ibadah haji pernah 40 kali ditiadakan. Alasannya, karena kondisi perang dan wabah penyakit.

Pada tahun 1814, ibadah haji ditiadakan karena wabah tha’un melanda Kota Makkah dan Madinah di Arab Saudi. Akibat wabah tha'un, 8.000 orang meninggal dunia dan Ka’bah ditutup sementara.

Penutupan selanjutnya terjadi pada saat wabah India atau kolera terjadi pada 1831. Sekitar tiga perempat jemaah meninggal dunia dan pelaksanaan ibadah haji akhirnya disudahi di tengah jalan sebelum seluruh rangkaian selesai. Ibadah haji juga pernah ditiadakan pada tahun 1837 akibat wabah yang tidak diketahui sampai hari ini. Akibat wabah tersebut pelaksanaannya haji tiga tahun.

Penutupan juga terjadi saat wabah kolera kembali menyerang pada periode 1846–1892. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah kolera sebagai epidemi kala itu. Akibatnya, ibadah haji pada 1850, 1865 dan 1883 harus ditiadakan. Begitu juga pada 1858, wabah ini menyebabkan banyak penduduk Arab Saudi mengungsi ke Mesir dan membangun karantina kesehatan di daerah Bir Anbar. 

Selama rentang waktu itu ibadah haji pernah dilakukan pada 1864 dan hasilnya seribu jemaah meninggal per hari. Saat itu, Mesir mengirim dokter dalam jumlah besar ke Arab Saudi untuk menyelamatkan nyawa warganya. Ibadah haji terakhir kali ditiadakan pada tahun 1987 karena wabah meningitis. Di luar dugaan, wabah ini sangat cepat menyebar di Arab Saudi menjelang pelaksanaan ibadah haji. Dalam waktu singkat 10 ribu calon jemaah haji yang baru saja tiba di Arab Saudi langsung terinfeksi. Pihak Kerajaan Saudi pun langsung menutup pelaksanaan Haji. 

Merujuk sejarah, peniadaan haji tahun lalu bukanlah yang pertama terjadi. Jikalau ibadah haji tahun ini masih belum bisa terlaksana, tidak perlu kecewa. Sejatinya niat baik tidak akan pernah sia-sia. Lagi pula, Sang Maha Pencipta sejatinya juga Maha Tahu terhadap niat semua yang diciptakan-Nya. (Dwi Herlambang)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA