Selamat

Selasa, 21 September 2021

23 Maret 2021|10:23 WIB

Berlayar Menebar Umpan Literasi

Ridwan merawat Perahu Pustaka Pattingalloang dengan santai. Namun, semangatnya tak perlu diragukan
ImageMuhammad Ridwan Alimuddin, seorang penulis, fotografer, jurnalis, fixer film dokumenter, dan pustakawan. Aktif dalam gerakan literasi dengan mendirikan Nusa Pustaka, sebuah perpustakaan komunitas di daerah pesisir Sulawesi Barat. Sumberfoto: Ist/dok

JAKARTA – Semangat Ridwan meletup bukan kepalang saat menulis nominal pada kertas nota pembelian di koperasi sekolah tempat ibunya mengajar. Bagaimana tidak? Bocah 12 tahun ini bebas membeli buku-buku pelajaran apa saja yang diingankan. Ridwan kecil tahu, dengan cara itu ia bisa punya buku pelajaran lebih lengkap ketimbang kawan sebayanya.

Kala itu awal tahun 1990-an, Ridwan tidak mengenal istilah privilege. Tidak pula hal itu membuatnya pongah. Ia tetap bermain seperti bocah kebanyakan.

"Ibu bilang ke pegawai koperasi, saya boleh ambil buku, saya bebas buat bon sendiri. Buku-buku paket apa segala macam. Biasanya saya mengambil nota dan tanda tangan sendiri. Pada kemudian hari, ternyata itu modal awal saya," ujar Ridwan kepada Validnews, Sabtu 20 Maret lalu.

Tak disangka, keleluasaannya membaca buku saat kecil menjadi pijakan penting bagi Ridwan ketika dewasa. Dari waktu ke waktu, Ridwan kian akrab dengan buku. Pria kelahiran 1979 itu mengamini pepatah kuno yang berulang kali dikatakan guru-guru di sekolah, “buku adalah jendela dunia”.

UGM
Selepas sekolah menengah atas, pria dengan nama lengkap Muhammad Ridwan Alimuddin itu mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian, Jurusan Kelautan dan Perikanan, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bekal pengetahuan dari membaca buku sedari kecil, ia rasakan betul ketika kuliah.

“Pernah terpikir jadi pegiat literasi? Oh enggak. Biasa saja. Di Yogya baru sadar, ternyata ini pengaruhnya. Kita baca buku itu kan sebagai kebutuhan, tidak semua orang menganggap membaca buku sebagai rekreasi,” kata Ridwan.

Hidup di Kota Pelajar sejak 1997 hingga 2006, menumbuhkan banyak kesadaran baru. Ketimbang merantau ke Jakarta atau kota besar lain, Ridwan lebih memilih pulang ke kampung halaman di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ia bercita-cita membangun apapun yang bisa dikembangkan.

Tahun-tahun berikutnya, Ridwan menerbitkan buku. Sejak buku berjudul Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut? dan Orang Mandar Orang Laut terbit beruntun pada 2004 dan 2005, nama Ridwan mulai harum di kampung sendiri. Ridwan menjadi sosok yang lengkap: penulis, peneliti, jurnalis, konsultan, dan pengisi acara di banyak kegiatan kebudayaan. 

Tak cuma itu, Ridwan sering membuat film dokumenter bekerja sama dengan berbagai lembaga baik di dalam dan luar negeri. Pada 2007, ia pernah menggarap acara untuk televisi asal Jepang, TV Asahi dan NHK TV station. Kedua program asal negeri sakura membahas soal laut. 

Dari sekian banyak ranah yang digarap, tema-tema laut yang paling sering diangkat. Wajar, Ridwan memang akrab dengannya. Lagipula, bahasan tersebut selaras dengan latar belakang pendidikan Ridwan di Jurusan Kelautan dan Perikanan UGM. Hingga kumpulan pengalaman soal laut itu membawanya ke sebuah obrolan dengan orang-orang semimpi pada suatu siang.

Membangun Tanah Kelahiran
Cerita Ridwan menyelami dunia literasi dimulai dari obrolan ringan di dunia maya pada penghujung Maret 2015. Gagasan itu dimulai dari obrolan santai antara Ridwan, Nirwan Ahmad Arsuka, Kamaruddin Azis, Aan Mansyur, dan Anwar Jimpe Rachman. Mereka sepakat membuat sebuah gerakan literasi yang berbeda. Jika biasanya buku-buku dikumpulkan di bangunan, kali ini mereka akan menyulap perahu menjadi perpustakaan bergerak. Kendaraan air itu akan berlayar dari satu pulau ke pulau di sekitar Sulawesi.

“Enggak sampai dua minggu dari pembicaraan itu saya memulai pembuatan perahu. Juli 2015, kami perkenalkan Perahu Pustaka Pattingalloang di festival literasi Makassar,” ujar Ridwan.

Perahu Pustaka Pattingalloang diambil dari nama Perdana Menteri Kerajaan Gowa Tallo di abad 17. Kata Ridwan, Pattingalloang memikul banyak makna. Dari sisi sejarah dia gigih melawan persekutuan dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Dari sisi pribadi, Pattingalloang dikenal sebagai sosok yang mencintai ilmu pengetahuan. 

Bago, sejenis perahu barang, dipilih sebagai wahana pengangkut buku. Orang mandar kuno, sekitar abad 19, lazim menggunakannya untuk berdagang ke Singapura hingga Padang, Sumatra Barat. Bago juga biasa dipakai mencari rempah ke Maluku.

“Tidak ada lagi kesempatan untuk menggunakan perahu itu. Karena secara fungsional sudah tidak ada,” ujar Ridwan.

Namun lebih dari itu, Perahu Pustaka lahir dari rahim kegelisahan. Di Sulawesi, para pegiat literasi selama ini bergerak sendiri-sendiri. Belum ada simpul yang menyatukan, meski jumlahnya banyak.

Walau berlayar dengan modal terbatas, kelahiran Perahu Pustaka membawa angin segar bagi dunia literasi, paling tidak untuk beberapa wilayah di Sulawesi. Pecinta literasi yang sudah aktif sebelum Perahu Pustaka lahir, kemudian memiliki wadah untuk bertukar informasi dan sumber daya.

“Saling kenal di grup Facebook, gerakannya menjadi masif dan bisa saling membantu, misalnya kami punya kelebihan buku, teman-teman bisa ambil di Perahu Pustaka,” ujar Ridwan.

Perahu Pustaka juga lahir sebagai kritik atas program Taman Baca Masyarakat (TBM) milik pemerintah. Ridwan menuturkan, meski dibuat atas niat yang bagus, TBM cenderung beraroma proyek. Memang ada yang berjalan baik, tapi tak sedikit yang terhenti.

“Apa yang kami lakukan agak berbeda. Kami tidak berbasis formalitas, sementara seperti TBM itu harus ada akta notaris. Kita tidak. Teman-teman itu, ‘Oh ini ada buku, mau di mana tempatnya silakan ambil bukunya’, itu yang membuat tereplikasi dengan cepat,” ujar Ridwan.

Lebih dari tiga ribu judul buku dimiliki Perahu Pustaka saat awal berdiri. Semuanya koleksi pribadi milik Ridwan, yang dikumpulkan sejak masa kuliah.

Setelah mengikuti acara literasi di Makassar, Perahu Pustaka mulai beranjak dari satu pulau ke pulau lain di Sulawesi Barat. Nahas, buku-buku di Perahu Pustaka basah dan lembap akibat cipratan ombak laut. Beberapa tidak bisa lagi terbaca. Belajar dari peristiwa tersebut, Ridwan kemudian menyimpan buku bacaan ke dalam kontainer plastik.

Sejak pertama kali berjalan, Perahu Pustaka telah menyedot perhatian khalayak. Kehadirannya menarik minat banyak sarjana baru serta mahasiswa tingkat akhir untuk bergabung sebagai relawan pengelola.

“Minimal teman-teman relawan itu tahu, ‘Oh nenek moyang saya berlayarnya pakai ini’. Kan Bago pakai layar, selain mesin. Kalau ada angin, kita buka layar. Jadi hal itu juga yang jadi tujuan Perahu Pustaka. Relawan kayak melihat dinosaurus,” kata Ridwan diakhiri tawa.

Seluruh kerja keras Ridwan dan kawan-kawan terbayar lunas saat melihat anak-anak bersemangat membaca. Bahkan mereka yang tinggal di pulau-pulau kecil juga tergerak untuk kian menekuni buku. Ridwan berhasil menyambung akses terhadap bacaan, sehingga minat baca mereka berangsur terbangun.

Ridwan Memandang Persoalan
Perahu pustaka semakin aktif bergerak. Jangkauannya pun meluas. Tak hanya di sekitaran Sulbar, tapi juga menjangkau hingga kepulauan di Sulawesi Tenggara, serta pulau-pulau kecil sekitarnya. Bahkan, sampai Kalimantan!

Di tengah jadwal yang semakin padat, pada penghujung 2015, Ridwan memilih menanggalkan profesi sebagai pewarta. Ia memilih mengabdikan diri untuk Perahu Pustaka.

Namun, perjalanan Perahu Pustaka juga tak selalu baik-baik saja. Memang di tahun pertama biaya operasional Perahu Pustaka ditopang corporate social responsibility (CSR). Dari mulai biaya pembelian bahan bakar, akomodasi, hingga bayaran jasa nelayan yang membantu aktivitas Perahu Pustaka.

Namun, memasuki tahun kedua, Perahu Pustaka mulai menggerogoti kantong pribadi para pendirinya. Ridwan yang tak lagi punya gaji bulanan untuk menutupi kebutuhan operasional, mulai kerepotan. Dia lantas mencari cara untuk mengatasi itu. Antara lain, dengan membuat film mengenai ekspedisi Perahu Pustaka.

“Pernah berlayar sampai ke Kalimantan. Jadi selain bawa buku juga sekalian ekspedisi. Karena kalau tidak seperti itu cuma keluar biaya. Kalau ekspedisi bisa ada produk film pengetahuan yang, misalnya, bisa kita tawarkan, sebagai pengganti pembiayaan berlayar,” ujar Ridwan

Seiring waktu, Perahu Pustaka Pattingalloang terus berkembang. Semangatnya beranak pinak. Kini, tiga armada dimiliki.

Gerakan literasi Ridwan pun merambah ke bentuk lain, tak hanya terbatas di atas kapal. Di rumahnya, bersama sang istri, ia mengelola perpustakaan. Ridwan juga punya armada pustaka berupa motor, becak dan ATV. 

Semua itu bergerak beriringan. Perahu Pustaka meluncur antar pulau, sementara kendaraan darat bergulir hingga menjelajahi pedalaman Sulawesi. 

Ridwan masih sering memakai upah pribadinya sebagai konsultan untuk menggerakan simpul Perahu Pustaka. Selain upah, Ridwan menggunakan uang penghargaan yang ia terima dari berbagai pihak atas keaktifannya di dunia literasi untuk memanaskan mesin-mesin perahu.

“Kadang biasa saja pakai uang pribadi ya,” ujar Ridwan diakhiri tawa panjang. 

Dalam menjalankan Perahu Pustaka, paling banyak Ridwan pernah dibantu 30 orang relawan. Di satu sisi, Ridwan sadar betul mereka butuh kerja yang menghasilkan. Bukan sekadar mengisi waktu luang dengan kerja-kerja sosial. Ketika relawan sedang kendor, armada pustaka miliknya pun mangkrak di gudang.

Namun, Ridwan memilih menghadapi permasalahan dengan santai dan tenang. Sikap tersebutlah yang menjadi kunci keberhasilannya menjalankan Perahu Pustaka, meski uangnya sering habis membiayai mimpinya di dunia literasi.

Bagi Ridwan, gerakan literasinya tak sekadar kerja sosial. Setiap hempasan ombak yang menghadang perahu atau kerikil yang mengganjal kendaraan pustakanya, ia anggap sebagai sebuah laboratorium berjalan.

“Kami ini semacam sedang eksperimen sosial, jadi semua kami anggap sebagai pelajaran, kami anggap sebagai ilmu pengetahuan. Makanya saya bilang kami itu santai. Santai dalam arti kalau ada masalah gembira terus, dijalani saja,” ujar Ridwan tertawa lepas. 

Lagipula, Ridwan tak pernah menganggap gerakannya sebagai sebuah organisasi yang kaku. Tidak melulu dituntut target, dan apabila tidak berjalan sesuai rencana, si penggerak organisasi tidak harus menanggung akibatnya.

“Kalau saya tidak begitu. Kalau ada momen begini, ya, kami berangkat. Kalau tidak ada momen, ya, enggak berangkat,” tegas Ridwan.

Kesantaian juga tercermin dalam sistem peminjaman buku. Ridwan tidak pernah mau mematok aturan yang ketat. Ada anak-anak yang mau meminjam buku saja, Ridwan sudah bahagia.

“Kadang kalau saya ada kegiatan di luar, ada anak-anak yang saya tahu ambil kunci sendiri. Mengambil, mencatat. Tidak ada juga aturan harus mengembalikan buku (dalam berapa hari). Itu kan sebagai bentuk awal mengenal perpustakaan,” ujar Ridwan santai. 

Pemikiran untuk tetap bahagia dalam menjalani mimpi, ditularkan Ridwan ke para relawan dan orang-orang di sekitar. Dengan realistis, Ridwan sering berpesan kepada relawan untuk memiliki finansial baik dulu jika ingin memulai gerakan sosial sepertinya.

“Kalau mau aktif ke gerakan kayak gini pertama mapan di ekonomi dan mapan keluarga. Jangan cuma liat heroiknya. Pergi berlayar, pergi ke pulau, tapi kalau hidupnya masih minta sama orang tua, ya, susah juga. Kerja dulu, keluargamu dulu. Harus realistis juga,” kata Ridwan.

2015–2021
Ridwan merawat mimpinya dengan hati. Terbukti Perahu Pustaka dan armada pustakanya sudah memasuki tahun keenam. Keuletan Ridwan merawat dan membesarkan Perahu Pustaka membawanya ke banyak penghargaan. Baik dari pemerintah pusat maupun daerah. Ridwan juga sering menjadi pembicara di acara televisi. Bahkan dia sempat mencicipi kesejukan ruangan Istana Negara, saat tahun 2017 diundang Presiden Joko Widodo ke Medan Merdeka Utara.

Setelah Istana melirik pegiat literasi, pemerintah kemudian menggalakkan kebijakan Free Cargo Literacy alias kirim buku gratis ke pegiat buku di seluruh Indonesia melalui Kantor Pos. Regulasi itu hadir ketika nama Perahu Pustaka sedang berada di puncak keharuman.

Berkat Free Cargo Literacy, Perahu Pustaka kebanjiran koleksi, menjadi lebih dari 10 ribu judul. Jumlah sebanyak itu datang dari donatur berbagai daerah. Sayang, pada 2018 kebijakan itu berhenti.

Namun, kemandekan kebijakan kirim-kirim buku secara gratis itu tak begitu berdampak signifikan terhadap Perahu Pustaka. Namun, Ridwan tak menampik, bahwa kebijakan tersebut telah menumbuhkan bibit-bibit pegiat literasi baru. Sayangnya, donasi buku berhenti datang, para bibit mati sebelum berkembang.

“Pemerintah seharusnya mengevaluasi yang lebih, dan melibatkan pegiat. Jangan cuma departemen pendidikan,” ujar Ridwan.

Perahu Pustaka tampak tidak akan menurunkan jangkar dalam waktu dekat. Ridwan bertekad bakal terus merawatnya hingga beranak-pinak.

Pengalamannya selama dua puluh tahun di bidang kebudayaan dan literasi dirasa cukup untuk kian menggesitkan laju perkembangan Perahu Pustaka.

“Dijalani saja. Saya sejak 20 tahun terakhir ini aktif di gerakan literasi. Tapi aktif di dunia perbukuan sejak 2015. Saya santai saja menjalaninya,” tutup Ridwan. (Muhammad Fadli Rizal)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA