Selamat

Selasa, 21 September 2021

15 April 2021|03:48 WIB

Belia Pengolah Limbah Elektronik

Berlatar ketertarikan pada pengelolaan sampah elektronik semasa kanak-kanak, dia merintis gerakan kepedulian lingkungan yang kini terus membesar.
ImageFounder E- WasteRJ, Rafa Jafar. Sumberfoto: Dok/Ist

JAKARTA – Rafa bingung bukan kepalang saat kamarnya penuh dengan sampah elektronik. Bergerak beberapa meter saja, dia bisa menyenggol komponen komputer, bergeser sedikit kaki akan tersandung barang bekas elektronik yang lain. Kamar anak 12 tahun yang duduk di kelas lima SD itu lebih mirip gudang limbah elektronik, ketimbang tempat tidur.

Muhammad Rafa Ibnusina Jafar memang gemar merakit komputer. Keseharian siswa Sekolah Cikal ini sukar lepas dari teknologi dan perangkat-perangkat elektronik. Dalam satu bulan, Rafa bisa beberapa kali membeli komponen komputer di toko online. Tentu saja yang berharga paling murah, itu pun harus mengantongi izin orang tua dulu.

Sayangnya, barang-barang berharga murah itu gampang rusak. Baru dipakai sebentar, sudah jadi rongsok.

"Sampai rumah aku full sampah elektronik," cerita Rafa kepada Validnews, Rabu 7 April lalu.

Onggokan sampah elektronik itu membuat Rafa berpikir untuk membuangnya, tapi kemana? Terus, apa dampaknya bagi lingkungan? Apakah berbahaya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya.

Hingga tiba kesempatan, Rafa mendapat jawaban. Suatu kali, dia mendapat tugas sekolah untuk membuat makalah tentang gaya hidup. Dia pun memilih topik limbah elektronik karena sehari-hari berhadapan dengan masalah itu.

Setelah guru pembimbing menyetujui topik yang diajukan, Rafa pun melakukan riset. Namun, betapa dia terkejut, ketika tahu bahwa masyarakat Indonesia belum mengenal istilah “sampah elektronik” seakrab sampah plastik.

Rafa prihatin. Dia merasa, cepat atau lambat, sampah elektronik akan membludak. Bagaimana tidak? Masyarakat Indonesia sangat konsumtif membeli barang elektronik. Smartphone lama akan selalu berganti dengan keluaran terbaru. Tiap ada peluncuran gadget pun, orang tidak segan mengantre panjang.

Masalahnya, barang elektronik yang sudah tidak terpakai itu, hanya disimpan begitu saja. Beberapa orang bahkan sengaja membuangnya ke tukang sampah biasa. Padahal, sampah elektronik membutuhkan pengolahan khusus. 

"Kalau sampah elektronik bahayanya apa kan belum kelihatan. Sedangkan aku dari dulu melihat bahaya dari sampah elektronik ini," ujarnya. 

Setelah tiga bulan meriset, Rafa mempresentasikan dan memamerkan makalahnya pada Februari 2014. Ternyata, tugas sekolah itu mendapat perhatian dari kakeknya, Muhammad Jafar Hafsah, yang menilai, hasil riset itu masih bisa ditindaklanjuti lebih jauh.

Dorongan dari sang kakek itulah yang membuat Rafa menerbitkan buku berjudul “E-Waste: Sampah Elektronik”, setahun kemudian.

"Buku itu kemauan aku sendiri. Aku harus melakukan riset dan jangan berhenti begitu saja," urainya.

Dalam proses penulisan buku, Rafa tidak sendiri. Ia ditemani sang ibu, keluar masuk perusahaan untuk mencari narasumber. Ia sampai bertemu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, untuk berbincang mengenai sampah elektronik.   

Setelah menerbitkan buku, tekad Rafa makin kuat untuk menggeluti pengelolaan sampah elektronik. Sekaligus, Rafa ingin mengedukasi masyarakat tentang bahaya sampah elektronik. Niat itu kemudian diwujudkan dalam gerakan sederhana pada 2016. Rafa membuat drop box untuk menampung sampah elektronik di sekolahnya.

Semula, Rafa membuat drop box dengan bahan kayu. Tapi material itu kurang fleksibel, juga terhitung berat untuk ukuran tempat sampah.

Kemudian, ia mencoba bahan akrilik yang ternyata mudah rusak. Akhirnya, pilihan terakhir jatuh pada besi ringan, karena terbilang kuat dan awet. Lalu, tiap drop box harus ditutup rapat agar tidak ada orang yang mengambilnya. 

"Karena kita juga sadar E-Waste bagi beberapa orang ada nilainya. Jadi kalau nggak terkunci malah diambil orang. Jadi memang drop box itu mau terbuat dari apapun pasti terkunci," katanya. 

Bahaya E-Waste
Menurut Rafa, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum sadar akan bahaya sampah elektronik. Padahal, sampah tersebut termasuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3. Penanganannya mesti dikhususkan. Jika tidak, salah-salah bisa menyebarkan racun yang dapat mencemari udara atau tanah. Bahkan, menyebabkan penyakit kanker.

Regional E-waste Monitor in East and Southeast Asia 2016 tentang urgensi limbah elektronik memperlihatkan, Indonesia memiliki kerangka hukum, mekanisme pengumpulan, infrastruktur pengelolaan, serta standar kesehatan dan keselamatan lingkungan dari sampah elektronik yang rendah. 

Rafa menilai persoalan ini tidak bisa disepelekan. Maka itu dia mulai mendirikan komunitas E-WasteRJ pada tahun 2016. Gerakannya tidak memiliki sponsor, hingga kadang ia harus mengeluarkan uang dari tabungan untuk biaya kampanye.

Sebelum pandemi covid-19 datang, Rafa biasa mendistribusikan drop box ke sekolah-sekolah. Ia juga sering turun ke Car Free Day setiap hari Minggu untuk memberi penyuluhan. 

Usia yang masih kanak-kanak kala itu, sering menyulitkannya saat kampanye. Beberapa meremehkan pengetahuannya. Namun dia maklum, memang bukan perkara mudah untuk mengubah gaya hidup orang banyak.

"Susah untuk mengajak orang bisa berpartisipasi secara jangka panjang karena kita goal-nya menuntut sebuah kebiasaan mendaur ulang sampah elektronik. Lifestyle itu nggak gampang buat dibentuk," ujarnya.

Jangankan orang lain, di lingkungan Rafa sendiri saja, masih sulit menerapkan kesadaran tersebut. Teman-temannya hanya aktif satu minggu, selebihnya hengkang dari kegiatan.

"Susahnya mengubah mindset seseorang. Di situ tantangannya.”

Meningkatkan Kesadaran
Setelah lama berpeluh melakukan kampanye, upaya Rafa membuahkan hasil. Sejak awal kampanye hingga setahun berjalan, E-WasteRJ mengumpulkan 400–500 kilogram sampah elektronik. Memasuki masa-masa berikutnya, angka tersebut terus meningkat. Pada 2020, E-WasteRJ berhasil mengumpulkan sebanyak 1,8 ton sampah elektronik.

"Ternyata animo masyarakat Indonesia untuk mengumpulkan sampah elektronik dari tahun ke tahun bertambah," jelasnya. 

Dengan catatan tersebut, Rafa kian bersemangat. Ia mulai menderaskan kampanye di media sosial dan selalu menambah drop box.

Saat ini, drop box E-WasteRJ sudah tersedia pada 20 titik di 12 Kabupaten/Kota. Ke depan, jumlah tersebut akan terus bertambah seiring peningkatan jumlah sukarelawan yang membawa drop box itu ke kota masing-masing. 

Rafa bersikukuh, gerakan itu seharusnya menjadi gaya hidup baru. Pola pikir masyarakat tentang sampah elektronik harus segera berubah.

"Daur ulang itu bagus, cuma nggak bisa itu doang. Harus dibantu dengan gaya hidup, baru reuse dan reduce mengurangi penggunaan perangkat elektronik."

Mendaur Ulang
Meski sudah terbilang berhasil mengumpulkan sampah elektronik, Rafa menilai gerakan ini harus pula dilakukan pemerintah. Rafa menyebut, saat ini hanya sedikit instansi atau perusahaan yang memiliki sertifikasi dari KLHK untuk bisa mendaur ulang sampah elektronik.

E-WasteRJ sendiri kini bekerja sama dengan PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) dalam melakukan proses daur ulang. Sebelum memberi sampah elektronik itu ke perusahaan, Rafa terlebih dahulu menampungnya di gudang E-WasteRJ yang ia kelola.

"Perusahaan pendaur ulang sampah elektronik yang besar tidak bisa cuma menerima 50-100 kg karena terlalu kecil buat mereka mengingat biaya daur ulang tidak murah. Jadi itu tugasnya E-WasteRJ mengumpulkan sampah elektronik di Gudang. Nanti diangkut,” ujar Rafa.

Kini, Rafa sedang bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengampanyekan bahaya limbah elektronik, agar lebih bisa menggugah kesadaran banyak orang.

"Jadi kalau dari Pemda sudah aware sampah elektronik harus dikumpulkan. Nah, itu baru bisa dan sedang dikerjakan di Tangerang," ujarnya.

"Ini baru taruh drop box di Aeon Mall dan Summarecon. Juga membuat gudang di Kecamatan Pagedangan untuk ngumpulin E-Waste."

Atas dedikasi itu, Rafa mendapat beragam penghargaan di bidang lingkungan. Ia pernah ditunjuk sebagai duta cilik dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB di Maroko November 2016. Juga terpilih sebagai 75 ikon prestasi Pancasila 2020 dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

Kini Rafa sudah berusia 17 tahun. Ia tidak pernah menyesal masa kanak-kanaknya digulung kesibukan belajar tentang limbah elektronik. Bahkan dia merasa, masih banyak yang harus perlu dilakukannya.

"Permasalahan E-Waste itu nggak cuma permasalahan hari ini tapi juga masa depan. Apalagi kita melihat perkembangan teknologi yang sangat pesat," ujarnya. 

Rafa meyakini, sampah elektronik bisa teratasi jika masyarakat mau mulai menyadari bahayanya. Memulai mengubah pola pikir, gaya hidup, dan tentu saja menjalankannya secara berkelanjutan demi lingkungan lebih lestari. (Dwi Herlambang)

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA