Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

SENI & BUDAYA

07 Januari 2020|19:10 WIB

Ada Cinta dan Kasih Dalam Tari Payung

Payung menjadi simbol kasih sayang dan perlindungan, sementara selendang bermakna ikatan suci

Editor: Agung Muhammad Fatwa

ImagePertunjukan Tari Payung tempo dulu. Wikipedia/dok

JAKARTA – Bila payung biasa digunakan untuk melindungi diri dari hujan, berbeda dengan arti payung dalam Tari Payung asal Minangkabau, Sumatra Barat. Dalam Tari Payung, payung bermakna kasih sayang atau cinta, sekaligus benteng dalam melindungi muda-mudi berinteraksi.

Tari payung merupakan tarian Melayu yang dulunya bagian dari pertunjukan 'toonel' atau sandiwara. Tarian ini seringkali ditampilkan dalam acara memperingati hari besar Kerajaan Belanda saat masih menduduki Indonesia. Biasanya, tarian ini dimainkan tiga sampai empat orang dengan komposisi dua laki-laki dan dua perempuan.

Penggunaan payung merupakan simbol benteng dalam melindungi para muda-mudi dari hal yang tidak baik. Tari Payung juga menjelaskan bagaimana seharusnya perilaku pasangan muda-mudi menjalin hubungan kasih sayang.

Adapun makna tarian ini dilambangkan dari properti yang digunakan yakni payung dan selendang. Payung sendiri saat tarian dimulai dibawa oleh laki-laki dan wanitanya membawa selendang. Payung melambangkan perlindungan pria yang juga sebagai pilar utama dalam keluarga.

Artinya, laki-laki tersebut wajib memberikan perlindungan, rasa aman, nyaman, terhadap pasangannya. Sementara makna selendang yang dibawa oleh perempuan melambangkan ikatan suci dari pasangan tersebut. Selendang juga melambangkan kesetiaan dan kesiapannya dalam menjalin hubungan yang lebih serius dalam ikatan pernikahan.

Pesannya jelas, dalam menjalin sebuah hubungan, muda-mudi harus menjalankannya sesuai dengan ketentuan norma agama dan norma adat Minangkabau. Hal itu juga sebagai pijakan agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah.

Sejarah mencatat, Tari Payung erat kaitannya dengan seni drama yang banyak ditampilkan pada masa penjajahan Belanda. Kala itu, pentas drama menjadi hiburan bagi masyarakat. Sementara Tari Payung ditampilkan hanya pelengkap atau selingan.

Baru pada sekitar tahun 1920, Tari Payung mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Seiring berjalannya waktu atau baru pada tahun 1960, Tari Payung menjadi salah satu tarian paling populer di Minangkabau. Tari Payung pada waktu tersebut sering tampil dalam paket pertunjukkan tari Minangkabau baik itu sebagai pertunjukan tunggal kesenian atau hanya hiburan rakyat.

Pada tahun 2000-an terjadi perkembangan pada Tari Payung. Salah seorang koreografer tari dan maestro tari yang berasal dari Bukittinggi, Syofiyani Yusaf, melakukan pengembangan Tari Payung dengan tetap mempertahankan karakteristik dan etika tradisi Minangkabau. Hal tersebut dilakukan berdasarkan karakter gerak tarinya sehingga mudah ditiru siapa saja yang ingin belajar mengikuti tarian tersebut.

Pakaian Tari Payung
Dalam pertunjukan Tari Payung, biasanya para wanita menggunakan kostum pakaian adat melayu Minangkabau yang terdiri dari baju kurung atau kebaya dan bawahan songket. Rambut penari wanita juga disanggul dan diberi suntiang atau hiasan kepala berbentuk mahkota.

Sedangkan penari laki-laki mengenakan baju teluk belanga atau pakaian lengan panjang model keras cekak musang dan untuk celananya disesuaikan. Juga menggunakan kain sesamping songket dan penutup kepala kopiah hitam khas Minangkabau.

Dalam penampilannya, Tari Payung diiringi lagu dan musik pengiring berjudul Babendi-Bendi. Lagu itu menceritakan sepasang suami-istri yang sedang berbulan madu di Sungai Tanang, sedangkan untuk musik pengiring diiringi oleh alat musik saluang dan gendang.

Saat ini, Tari Payung biasa ditampilkan dalam acara-acara adat dan acara besar di Minangkabau atau di Sumatra Barat. Banyak sekolah dasar di Sumatra Barat membuat salah satu ekstrakurikuler Tari Payung untuk siswanya. Tari Payung juga beberapa kali dipentaskan di luar Indonesia. (Dwi Herlambang)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA