Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

SENI & BUDAYA

11 Mei 2021|20:30 WIB

25 Tahun Naif Warnai Musik Indonesia

Keutuhan keluarga atau personel menjadi prioritas Naif.

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageNaif adalah grup musik Indonesia yang berdiri pada tanggal 22 Oktober 1995 di Jakarta. Sumberfoto: T witter/(@Naifband)

JAKARTA – Grup band Naif resmi bubar setelah 25 tahun memberi warna bagi industri musik tanah air. Kepastian soal pembubaran band tersebut muncul berselang dua hari sejak dua personelnya, Emil dan Pepeng mengumumkan keluar dari band Naif.

Ternyata, kepergian dua penggawa tersebut merupakan akhir dari perjalanan Naif. Hal ini ditegaskan sang vokalis sekaligus pendiri Naif, David Bayu, melalui video Youtube David Bayu Tube, Senin (10/5).

“Menjawab bubar atau bagaimana. Disebut bubar, ya, bisa dibilang masuk kategori bubar, ya bubar,” terang David.

Ternyata, Naif sudah bubar sejak momen ulang tahun ke-25 band Naif pada Oktober 2020 lalu. David menjelaskan, waktu itu sudah ada pembicaraan untuk mengumumkan pembubaran tersebut ke publik. Namun karena beberapa pertimbangan, para personel Naif sepakat tidak mempublikasi bubarnya Naif.

David tak merinci alasan pembubaran Naif. Namun sekilas, ia menyebut situasi pandemi sedikit-banyaknya memengaruhi Naif dan menghambat pergerakan para personel Naif sebagai sebuah kelompok musik.

Soal masalah internal di Naif ? David pun menjelaskan, selalu ada masalah dalam sebuah kelompok atau keluarga. Menurutnya, hal itu normal dan terjadi pada keluarga di manapun. Namun, ia menjelaskan bahwa yang menjadi prioritas di Naif adalah keutuhan kekeluargaan di antara para personelnya, bukan band-nya.

“Band bubar nggak masalah. Tapi value tertingginya itu adalah gue, Jarwo, Emil dan Pepeng itu nilainya lebih tinggi dari naifnya itu,” ungkap David.

Bubarnya Naif tentu meninggalkan kekosongan dalam skena musik Indonesia. Selama 25 tahun, band ini turut memberi warna musik di Indonesia dengan gaya dan kekhasan mereka sendiri. Tak sedikit masyarakat Indonesia yang tumbuh di tahun 2000-an dipengaruhi oleh musik Naif. Banyak penggemar yang merasa kehilangan Naif.

Naif merupakan salah-satu band papan atas Indonesia yang lagu-lagunya banyak digemari, terutama kalangan muda. Musiknya kental dengan nuansa retro, dengan lirik-lirik yang sederhana dan dekat dengan keseharian pendengarnya. Lagu-lagunya bercerita tentang cinta, pertemanan hingga refleksi tentang manusia.

Lagu “Piknik 72”, “Mobil Balap” “Air dan Api”, hingga “Posesif” termasuk dalam deretan lagu-lagu abadi yang terus dinyanyikan hingga saat ini. Lagu-lagu Naif selalu unik dan terasa berbeda dengan lagu-lagu dari band Indonesia lainnya. Band ini khas baik dalam hal lirik maupun musikalitas. Selain itu, video klip setiap lagu-lagu Naif juga selalu unik.

Tentu banyak yang berharap Naif akan terus berkarya dengan lagu-lagu barunya. Sangat disayangkan band satu ini pamit dari belantika musik Indonesia.

Namun, David menyebut pembubaran Naif di usia 25 tahun sudah menjadi pilihan ia dan kawan-kawannya. Menurutnya, jika sebuah band memang dirasa sudah tak bisa berjalan, maka harus berhenti.

“Sebenarnya gue ngerasa pribadi, oh, yaudah kalau sudah cukup waktunya kita selesai di Naif, pas begitu. Gue ngerasa 25 tahun itu batas cukup enak untuk kita yuk ngomong bareng-bareng untuk enggak bisa berkarya di dalam Naif-nya lagi,” ucap David.

“Setiap orang mengetahui batas cukup itu wajib. Nggak lebih, nggak kurang. Jadi pas, begitu. Jadi gue ngerasa waktu 25 tahun itu pas banget,” tandasnya lagi.

Perjalanan Naif

Naif merupakan grup musik Indonesia yang terbentuk pada 22 Oktober 1995. Band ini berdiri dengan formasi awal yaitu David Bayu (vocal), Mohammad Emil (bass), Fajar Jarwo (gitar), Franki Pepeng (drum) dan Chandra Sukardi (keyboard). Band ini berawal dari kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Di Tengah perjalanan, tepatnya tahun 2003, Naif kehilangan sang keyboardis, Chandra Sukardi. Chandra mengundurkan diri dari band. Sejak itu, Naif hanya digawangi oleh empat personel.

Band ini mengeluarkan debut albumnya bertajuk Naif pada 1996. Hits di album ini, salah satunya “Mobil Balap”. Tahun 2000, band ini merilis album kedua bertajuk “Jangan Terlalu Naif”, dengan lagu “Posesif” yang menjadi hitsnya.

Naif mengusung gaya era 1960-an dalam banyak video klip lagu-lagunya. Sementara secara musikalitas, band ini banyak terpengaruh oleh band-band progresif seperti The Beatles, The Doors, hingga musisi lawas Indonesia, seperti Benyamin Sueb hingga Koes Plus.

Pada tahun 2003, Naif menelurkan album ketiga bertajuk “Titik Cerah”.  Tahun 2005, Naif kembali mengeluarkan album bertajuk “Retropolis”. Tak lama sebelum mengeluarkan album ke empat, Naif juga merilis album “The Best”, yang berisi kompilasi beberapa hits di album sebelumnya dan ditambah dengan lagu-lagu baru.

Album-album selanjutnya dirilis dalam kurun 2007 hingga 2017. Naif merilis sejumlah album di periode tersebut yaitu “Televisi” (2007), “Let's Go” (2008), ”Bonbinben” (2008), “A Night at  Schouwburg” (2008), “Planet Cinta” (2011), dan “7 Bidadari” (2012).

Sejak album “7 Bidadari”, Naif tidak lagi mengeluarkan album baru, kecuali single “Selama Ada Cinta” yang dirilis tahun 2019 dengan menggandeng Indra Lesmana.

Sebelumnya di tahun 2007, ada album bertajuk “Mesin Waktu: Teman-teman Menyanyikan Lagu Naif”. Album ini adalah kompilasi lagu-lagu Naif yang dibawakan oleh sejumlah band-band indie. Album ini merupakan bentuk penghargaan atas perjalanan Naif menginspirasi banyak pemusik di Indonesia. (Andesta Herli)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA