Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

04 Oktober 2021|08:34 WIB

UMKM Kopi Indonesia Mampu Tembus Pasar AS

Potential order yang dapat dibukukan sementara ini senilai US$2,17 juta

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

ImageUMKM Indonesia menjajakan produk kopi khas Nusantara pada ajang Specialty Coffee Expo 2021 di New Orleans, Amerika Serikat. Kemenkop UKM/Dok

JAKARTA – Sejumlah pelaku UMKM Indonesia yang bergerak di bidang perkopian berhasil masuk dan memperluas akses pasar ke Amerika Serikat, melalui gelaran Specialty Coffee Expo 2021 yang berlangsung di New Orleans.

Para pelaku UMKM itu mendapatkan fasilitasi dari Kementerian Koperasi dan UKM untuk mengikuti ajang tersebut. Staf Ahli Menkop UKM Bidang Hubungan Antar Lembaga Luhur Pradjarto menjelaskan pihaknya memberi fasilitasi, khususnya kepada pelaku usaha sektor kopi dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, NTT, dan Sumatra Utara.

Para pelaku UMKM itu antara lain Sipirock Coffee-Koperasi Lestari dengan Kopi Mandhailing, lalu PT Madalle-Kopinta dengan Kopi Toraja, Identix Coffee dengan Kopi Temanggung, hingga Sundanika Coffee yang menghadirkan kopi khas Jawa Barat.

"Partisipasi pada ajang itu bekerja sama dengan Atase Pertanian pada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC," jelas Luhur dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (3/10).

Luhur pun berharap ajang Specialty Coffee Expo itu akan mendongkrak permintaan kopi asal Indonesia, khususnya dari pasar Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia. Pasalnya, ia menilai kopi saat ini telah menjadi produk yang paling dicari di banyak negara mengingat tingginya nilai ekonomi pada komoditas tersebut.

Ajang Specialty Coffee Expo 2021, lanjut Luhur, sangat strategis bagi pasar kopi di Indonesia, khususnya dari segmen UMKM. Potensi itu terlihat dari para peserta yang kurang lebih berjumlah 200 pelaku usaha kopi dan peralatan pengolahnya yang berasal dari 30 negara, termasuk Kolombia, Guatemala, Honduras, Ethiopia, Puerto Rico, Turki, Belgia, Rwanda, hingga Korea Selatan.

"Estimasi potential order yang dapat dibukukan sementara ini senilai US$2,17 juta atau lebih dari Rp31 miliar untuk jenis kopi arabika," tuturnya.

Luhur menyebut sejumlah negara telah melayangkan order dan sample order, seperti Turki, Arab Saudi, Jepang, Korea Selatan, Finlandia, dan Amerika Serikat. Kehadiran kopi Indonesia pada ajang itu, lanjutnya, mendapat apresiasi dari Gubernur Provinsi Risaralda Columbia, Victor Manuel Tamayo Vargas.

"Beliau juga mengundang kehadiran pelaku usaha kopi asal Indonesia untuk berpromosi di negaranya secara langsung pada tahun ini," jelas Luhur.

Sementara itu, Konsulat Jenderal RI di Houston Andre Omer Siregar turut menyambut baik adanya sinergi antarkementerian dalam rangka menguatkan pemasaran berbagai produk kopi khas Indonesia ke pasar Amerika Serikat.

Menurut Andre, sinergi yang juga beriringan dengan fasilitasi terhadap para pelaku usaha itu tidak sekadar mengangkat citra produk kopi khas Nusantara, tetapi juga membuka akses pasar bagi kopi-kopi unggulan Indonesia.

"Tidak hanya citra produk kopi yang akan terangkat di pasar internasional, tetapi juga akses pasar juga akan terbuka pagi kopi unggulan berbagai daerah," tandas Andre.

Sebelumnya, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Dedi Junaedi mencatat, produksi kopi Indonesia tahun 2020 mencapai 753.491 ton, dari luas areal 1,2 juta hektare lahan. Angka produktivitas mencapai 806 kg/ha. 

Sementara tahun 2019, angka tetap produksi 752.511 ton dengan luas areal 1.245.358 ha dan produktivitas 803 kg/ha.

Dia menjelaskan, produksi kopi Indonesia terdiri dari 72% robusta, 27% arabika dan 1% liberika.

Volume ekspor tahun 2020 mencapai 379.354 ton dengan nilai US$821.937.000. Sedangkan, volume impor mencapai 15.693 ton senilai US$36.365.545.

Ia menyebutkan, selama 13 tahun terakhir, yakni periode 2008-2020, volume ekspor mengalami kenaikan dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,5% per tahun. Namun, jika dibatasi menjadi 10 tahun terakhir, pertumbuhan hanya 2,01%.

“Sedangkan, rata-rata laju volume impor kopi 44,35%. Laju pertumbuhan nilai ekspor kopi selama 2008-2020 turun 0,03% dibanding nilai impor kopi meningkat 33,87%," kata Dedi kepada wartawan, Jumat (9/7).

Sementara itu, laju pertumbuhan konsumsi kopi dunia tahun 2014-2020 adalah 1,91% sedang laju pertumbuhan produksi kopi dunia 2,9%. 

Produksi disumbang oleh produsen utama kopi dunia yakni Brazil, yang menghasilkan 4.140.000 ton atau 39% dari total produksi kopi dunia. Disusul Vietnam 1.740.000 ton atau 17%), Kolombia 858.000 ton (8%), Indonesia 744.000 ton (7%), Ethiopia 442.500 ton (4%), Honduras 366.000 ton (4%), India 342.000 ton (3%), Uganda 337.000 ton (3%), Meksiko 240.000 ton (2%), Peru 228.000 ton (2%).

Konsumen kopi dunia paling besar adalah Uni Eropa, yakni sebesar 2.415.060 ton atau 24% dari total konsumsi kopi dunia. Amerika Serikat ada di posisi kedua, dengan konsumsi 1.618.920 ton atau 16% diikuti Brazil sebesar 1.344.000 ton (14%). 

Selanjutnya, Jepang 443.160 ton (5%), Indonesia 300.000 ton (3%), Rusia 280.680 ton (3%), Kanada 240.660 ton (2%) dan Ethiopia 227.800 ton (2%).

"Tantangan pengembangan kopi adalah adanya black campaign meliputi isu-isu lingkungan, sustainability, HAM, kesehatan, persaingan komoditas, tuntutan mutu dan labeling. Alat mesin masih terbatas. Upaya mengatasinya adalah memfasilitasi alat pasca panen dan pengolahan untuk nilai tambah, juga pembangunan infrastruktur dan penerapan Good Handling Practice," jelas Dedi.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA