Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|12:17 WIB

Turun Seceng, Emas Antam Dibanderol Rp946.000/gram

Dolar tetap tangguh. Investor global pun mulai mengabaikan ancaman ekonomi dari melonjaknya kasus covid-19

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Faisal Rachman

ImagePramuniaga menunjukkan emas batangan PT. Aneka Tambang (Antam) di sebuah gerai emas, Malang, Jawa Ti mur, Selasa (5/1/2021). Antara Foto/Ari Bowo Sucipto

JAKARTA – Harga emas Antam pada Kamis (22/7) melemah tipis Rp1.000 ke posisi Rp946.000/gram. Senada, harga buyback atau pembelian kembali pun turut turun Rp1.000 ke angka Rp843.000/gram.  

Harga emas di situs Logam Mulia pada pekan lalu, turun Rp1.000/gram. Pada Senin (12/7), harga ditutup Rp950.000/gram. Hingga Sabtu (17/7), emas Antam ditutup Rp949.000/gram.   

Emas Antam pada Senin (19/7) menguat tipis Rp1.000 ke posisi Rp950.000/gram. Pada hari berikutnya, Selasa (20/7), emas masih tidak beranjak dari posisi Rp950.000/gram.  

Namun, emas Antam berbalik melemah pada Rabu (21/7) Rp3.000 ke posisi Rp947.000/gram. Sekadar mengingatkan, harga emas Antam menyentuh titik tertinggi sepanjang masa pada level Rp1.058.000/gram pada Rabu (19/8/2020).

Di Pegadaian, pada Kamis (22/7), harga emas Antam dibanderol Rp980.000/gram dan Antam Batik Rp1.140.000/gram, kompak melemah Rp3.000 dari Rabu (21/7). Sementara, Antam Retro Rp946.000/gram dan emas cetakan UBS Rp943.000/gram, masih stabil atau tidak bergerak dari hari sebelumnya.

Dilansir dari Reuters, di pasar global, emas melemah pada Kamis (22/7) karena dolar tetap tangguh. Investor juga mulai mengabaikan ancaman ekonomi dari melonjaknya kasus varian Delta virus corona dan memilih aset berisiko sebagai gantinya.

Selanjutnya, harga emas di pasar spot turun 0,1% menjadi US$1.801,82 per ounce pada pukul 07.40 WIB, setelah mencapai level terendah lebih dari satu pekan di US$1.793,59 pada sesi sebelumnya. Adapun, emas berjangka Amerika Serikat turut berkurang 0,1% menjadi US$1.801,90 per ounce.

Indeks Dolar (Indeks DXY) bertahan di dekat level tertinggi tiga setengah bulan terhadap sekeranjang saingannya, membuat logam kuning lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.  

Pasar saham menguat pada Rabu (21/7), dan imbal hasil naik, sebagian didorong laporan keuangan perusahaan yang positif, ketika investor mengabaikan kekhawatiran tentang varian Delta virus corona dan inflasi.

Imbal hasil US Treasury 10-tahun pun melanjutkan reboundnya dari posisi terendah lima bulan setelah lelang obligasi 20-tahun yang lemah. Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga.

Bank Sentral Eropa diprediksi menjanjikan periode stimulus yang lebih lama pada Kamis (22/7) untuk memenuhi komitmennya guna mendongkrak inflasi. Presiden AS Joe Biden mengatakan, kenaikan harga konsumen saat ini akan berumur pendek karena ekonomi negeri Paman Sam bangkit dari krisis global covid-19.

Ia menambahkan, rencana ekonominya akan menggerus inflasi dalam jangka panjang. Senat Amerika dari Partai Republik memblokir langkah untuk menggelar debat mengenai ukuran infrastruktur bipartisan senilai US$1,2 triliun, yang merupakan prioritas utama bagi Presiden Biden.

Logam mulia lainnya, perak stabil di US$25,23 per ounce dan platinum juga mendatar di US$1.079,99 per ounce. Sedangkan, paladium naik tipis 0,3% ke US$2.661,17 per ounce.

Kurs Rupiah
Di pasar domestik, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi menguat. Hanya saja, penguatan rupiah masih dibayangi peningkatan kasus baru covid-19 karena penyebaran varian Delta yang meluas.
 
Pada pukul 9.41 WIB rupiah menguat 30 poin atau 0,2% ke posisi Rp14.513 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.543 per dolar AS. Pengamat pasar uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Kamis, mengatakan, nilai tukar rupiah mungkin masih bisa melemah hari ini mengikuti pelemahan nilai tukar regional.

"Pasar masih mengkhawatirkan kenaikan kasus covid-19 karena varian delta, di mana Asia Tenggara dianggap menjadi episentrumnya," ujar Ariston seperti dilansir Antara.
 
Namun demikian, lanjut Ariston, pelemahan mungkin bisa tertahan karena sentimen pasar terhadap risiko terlihat membaik."Pasar saham global menguat. Ada optimisme pasar terhadap perbaikan kinerja perusahaan," kata Ariston.
 
Untuk diketahui, jumlah kasus baru covid-19 terus menurun di mana terjadi penambahan 33.772 kasus baru covid-19 pada Rabu (21/7). Dengan tambahan tersebut, total jumlah kasus terkonfirmasi positif covid-19 mencapai 2,98 juta kasus.
 
Sebanyak 2,35 juta orang telah dinyatakan sembuh, sehingga total kasus aktif covid-19 aktif mencapai 549.694 kasus. Meski begitu, jumlah kasus meninggal akibat terpapar covid-19 masih tinggi, di mana pada Rabu (21/7) kemarin terdapat 1.383 kasus sehingga totalnya mencapai 77.583 kasus.
 
Ariston memprediksi, rupiah hari ini berpotensi melemah ke kisaran Rp14.560 per dolar AS dengan potensi support di kisaran Rp14.520 per dolar AS. Pada Rabu (21/7) rupiah ditutup melemah 25 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp14.543 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.518 per dolar AS.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER