Selamat

Rabu, 22 September 2021

15 September 2021|08:35 WIB

Tingkatkan Produktivitas, Inputan Pertanian Bisa Jadi Solusi

Dirinya menambahkan, kondisi sama juga menunjukkan adanya kegagalan pasar, dimana petani melihat unsur biaya lebih penting daripada manfaat pemupukan optimal.

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Dian Hapsari

ImagePekerja mengeringkan jagung yang baru dipipil di Desa Balongga, Sigi, Sulawesi Tengah. ANTARAFOTO/Basri Marzuki

JAKARTA – Optimalisasi penggunaan subsidi input pertanian bisa menjadi salah satu langkah yang dapat diambil pemerintah untuk meningkatkan produktivitas 

Peneliti CIPS Aditya Alta mengatakan, beberapa temuan dan pengalaman menunjukkan, situasi kelangkaan atau keterlambatan pupuk subsidi membuat petani kecil cenderung mengurangi penggunaan pupuk. 

Ketimbang membeli pupuk non-subsidi yang tersedia, atau memilih mengolah kompos sendiri sebagai pengganti pupuk kimia. Hal ini menunjukkan, pertimbangan subsistensi masih lebih besar daripada pertimbangan peningkatan produktivitas. 

"Jika ada dua produk pupuk di kios tani, yang satu bersubsidi dan yang satu tidak, petani kecil juga lebih memilih produk yang lebih murah walaupun mungkin dengan potensi hasil lebih kecil karena unsur hara yang kurang seimbang,” jelas Aditya dalam keterangan resmi yang diterima, Jakarta, Selasa (14/9).

Dirinya menambahkan, kondisi sama juga menunjukkan adanya kegagalan pasar, dimana petani melihat unsur biaya lebih penting daripada manfaat pemupukan optimal. Hasil ekonomi menjadi kurang maksimal dan produksi pertanian kurang mampu mengimbangi permintaan.

Karena itu, intervensi pemerintah diperlukan untuk mengoreksi kegagalan pasar, salah satunya melalui intervensi pada kebijakan input. 

"Di sisi lain, subsidi input terutama untuk pupuk, bukan hanya tidak efektif, tetapi justru memunculkan masalah-masalah lain,” imbuhnya.

Penelitian CIPS menemukan, disparitas harga antara pupuk subsidi dan nonsubsidi memunculkan pasar sekunder dimana penerima pupuk subsidi menjual kembali jatah pupuknya. 

Disparitas harga juga memunculkan perburuan rente di sepanjang rantai distribusi dalam kasus subsidi pupuk tidak langsung. 

Sementara, murahnya pupuk bersubsidi juga dapat mendorong insentif yang salah (perverse incentive), seperti kasus overdosis pupuk urea di beberapa daerah di Jawa. Meskipun, penggunaan urea berlebihan juga menandakan gejala kurangnya pengetahuan akan pengelolaan tanaman yang baik. 

Penelitian CIPS merekomendasikan perlunya desain ulang kebijakan input pertanian, mengedepankan solusi atas kegagalan pasar dalam mendorong penggunaan input secara optimal. 

Optimalisasi subsidi input pertanian sendiri, dapat dicapai dengan beberapa cara. Subsidi pupuk, sebaiknya diubah menjadi pembayaran langsung kepada petani untuk memangkas perantara (middlemen) dan memastikan bantuan tepat sasaran. 

Sebenarnya, penerapan Kartu Tani sudah diarahkan untuk misi tersebut, namun perlu ditingkatkan untuk mengakomodasi poin-poin berikutnya. 

Pembayaran langsung harus dibatasi hanya untuk pembelian input dan tidak terbatas pada pupuk dan merek tertentu Sehingga memungkinkan petani menggunakan saldo bantuan sesuai kebutuhannya. 

Berkurangnya disparitas harga setelah subsidi pupuk dialihkan juga akan mendorong masuknya produsen pupuk baru.

“Petani yang memiliki fasilitas pengolahan pupuk organik, misalnya mungkin memiliki kebutuhan pupuk yang lebih sedikit, sehingga lebih penting baginya untuk dapat membelanjakan saldo bantuan sesuai kebutuhannya,” ujar Aditya. 

Spesifik dan Rinci
Aditya melanjutkan, bantuan juga harus tepat menyasar petani yang tanpa adanya bantuan, tidak akan menggunakan input secara optimal, karena alasan keterjangkauan. Karenanya, harus ada pembedaan antara penggunaan input tidak optimal karena harga atau pengetahuan petani.

"Untuk kelompok terakhir, termasuk yang menggunakan pupuk secara tidak efektif, peningkatan penyuluhan pertanian merupakan instrumen kebijakan yang lebih tepat dibanding bantuan," terangnya. 

Terakhir, harus ada exit strategy. Intervensi yang baik harus memiliki indikator-indikator yang terarah. Misalnya, persentase pada pemakaian pupuk; benih varietas unggul; rata-rata harga pupuk di pasaran; dan lain-lain. 

Sehingga dapat menunjukkan apakah target kebijakan berhasil dicapai dan kapan intervensi tidak diperlukan lagi.

Salah satu sasaran pemerintah adalah menggenjot produktivitas petani dan input pertanian seperti pupuk, benih, irigasi, dan pestisida memainkan peran yang sangat penting di sini. 

"Hanya saja, strategi penyediaan input ini harus dipastikan diterima langsung petani. Dan bahwa biaya yang dikeluarkan juga akan terbayar oleh meningkatnya produktivitas kelak," pungkasnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA