Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

05 Oktober 2021|13:35 WIB

Teten: Perempuan Punya Relasi Kuat Dengan UMKM Dan Perekonomian

Pemberdayaan perempuan sejalan dengan memperjuangkan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Dian Hapsari

ImageMenteri Koperasi dan UKM Teten Masduki (kiri) bersama Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. ANTARA FOTO/Maulana Surya.

JAKARTA – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki meyakini kalangan perempuan punya korelasi yang kuat dengan sektor UMKM sebagai penyangga perekonomian nasional sehingga pihaknya terus mengupayakan peningkatan kualitas jiwa wirausaha di kalangan perempuan.

Dalam diskusi yang digelar secara daring, Menkop dengan tegas menjelaskan UMKM yang dimiliki perempuan merupakan tulang punggung perekonomian nasional karena sekitar 34% usaha menengah, 50,6% usaha kecil, dan 52,9% usaha mikro dikelola oleh perempuan.

"Perempuan memang mendominasi UMKM Indonesia. UMKM sendiri juga mendominasi dunia usaha dengan persentase 99,9%. Jadi, sangat meyakinkan kontribusi perempuan terhadap PDB yang mencapai 9,1% atau sekitar Rp1.381 triliun tahun lalu berdasarkan data Bank Dunia," tuturnya di Jakarta, Selasa (5/10).

Jumlah wirausaha perempuan di Indonesia sendiri secara keseluruhan mencapai 21% atau jauh lebih baik dibandingkan rata-rata global yang hanya sekitar 8%. Dari catatan itu, Teten menjelaskan langkah untuk memberdayakan perempuan berjalan beriringan dengan upaya memperjuangkan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Penguatan dukungan pemulihan ekonomi lewat pemberdayaan perempuan pun menurutnya memegang peranan vital. Ia berharap, langkah pemberdayaan UMKM perempuan bisa menghadirkan efek bola salju dan memberi manfaat bagi masyarakat secara luas, khususnya perempuan Indonesia.

"Dengan pemberdayaan perempuan, berarti kita juga turut mengakselerasi perjuangan untuk mengembangkan UMKM Indonesia," ucap Teten Masduki.

Dia juga mengatakan jika berbagai pihak mau dan mampu menekan isu kesetaraan di tempat kerja atau tempat usaha, maka akan memunculkan dampak positif pada PDB global maupun nasional. Untuk itu, ia mengimbau agar perempuan mendapatkan kesempatan yang sama, khususnya di tempat kerja atau usaha.

Meski begitu, Menteri Teten tak menampik bahwa ada laporan sekitar 87% perempuan pemilik UMKM merugi besar selama masa pandemi. Tak hanya itu, sebanyak 25% pelaku UMKM perempuan kehilangan separuh pendapatannya serta dua dari tiga usaha milik perempuan terpaksa tutup sementara atau bahkan permanen.

"Tapi pemerintah sudah mengantisipasi masalah-masalah itu dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional. Pasalnya, 90% pelaku UMKM dari kalangan perempuan sudah melapor bahwa mereka butuh dukungan pendanaan yang mendesak," kata dia.

Lebih lanjut, Teten juga merinci tantangan para perempuan dalam menjalani bisnisnya selama masa pandemi, mulai dari turunnya permintaan, berkurangnya likuiditas usaha, minimnya sumber daya, adanya penerapan kebijakan work from home dan berbagai pembatasan, hingga minimnya kapasitas dan fasilitas digital.

Terfokus pada digitalisasi, Menteri Teten yakin bahwa ekonomi digital punya potensi yang sangat besar dengan peningkatan transaksi pada e-commerce sebesar 54% atau sekitar lebih dari 3 juta transaksi per harinya.

Bahkan di tengah pandemi, ekonomi digital Indonesia masih berpotensi mencapai pendapatan sekitar US$44 miliar serta berpeluang mencapai sekitar Rp1.700 triliun pada 2025 mendatang. Untuk itu, ia mengimbau agar potensi tersebut jangan sampai dimanfaatkan negara lain.

"Harus segera dimanfaatkan, bukan sekadar urusan onboarding di marketplace, tetapi juga bagaimana meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing produk UMKM kita agar bisa berjaya di pasar digital," imbuh Menkop.

Teten menjelaskan transformasi digital tak terbatas dari sisi market, tetapi juga sampai ke akses pembiayaan. Menurutnya dewasa ini, UMKM yang sudah go digital akan lebih mudah mengakses pembiayaan yang trennya tak lagi berbasis agunan, tetapi track record digital mengenai kesehatan usaha.

"Pembiayaan ini penting karena banyak UMKM yang mengalami hambatan mengakses pembiayaan karena tidak punya aset yang bisa diagunkan," tandas Teten Masduki.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA