Selamat

Rabu, 22 September 2021

15 September 2021|14:37 WIB

Terdorong Holding UMi, Pengamat: BBRI Bisa Cetak Rekor Lagi

BRI berperan sebagai induk bakal memperkuat ekosistem usaha UMi bersama Pegadaian dan PNM.

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Dian Hapsari

ImageSalah satu kantor cabang Bank BRI. Googlemaps/dok.

JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI berpotensi kembali mencetak harga tertinggi. Sebab, terdorong hadirnya Holding Ultra Mikro (UMi) sebagai sumber pertumbuhan baru bagi perseroan.

Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, penawaran harga saham baru BRI Rp3.400 per lembar tergolong sangat menarik. Terlebih, harga saham BBRI saat ini tergolong stabil di kisaran Rp3.800 hingga Rp4.000.

"Tentu ini sangat menarik seharusnya dengan harga seperti itu (Rp3.400). Apalagi kalau dilihat posisi tertinggi BRI yang pernah dicapai adalah Rp4.950, maka potensi gain-nya cukup tinggi untuk mencetak rekor lagi," kata Reza dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (15/9).

Reza menuturkan, bank pelat merah itu punya potensi pengembangan kinerja yang sangat besar dengan pembentukan Holding UMi tahun ini. Seperti diketahui pada Senin (13/9), Menteri BUMN Erick Thohir, Direktur Utama BRI Sunarso, Direktur Utama PT Pegadaian Kuswiyoto, dan Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani atau PNM Arief Mulyadi menandatangani Akta Inbreng sebagai salah satu proses pembentukan Holding UMi.   

Ia melanjutkan, integrasi strategis ini dapat menjadi peluang besar bagi BBRI untuk mendiversifikasi bisnisnya. Jadi, penetrasi ke pasar pun lebih dalam dan menciptakan ekosistem penyaluran kredit yang kuat untuk memacu pertumbuhan kinerja yang lebih baik di masa datang.

Dia berpendapat investor pun memiliki optimisme terhadap prospek bisnis Holding UMi ke depan, dimana BRI berperan sebagai induk bakal memperkuat ekosistem usaha UMi bersama Pegadaian dan PNM.

"Bagaimana pun kinerja historis dan prospeknya ini sangat besar dan lebih pasti. Holding pun akan menambah optimisme investor untuk terus mengapresiasi saham BBRI lebih lanjut. Potensi peningkatan harganya juga sangat tinggi," ujar Reza.

Optimisme terkait kinerja saham BBRI yang akan kembali mencatatkan rekor harga tertingginya diungkapkan pula pengamat pasar modal sekaligus Founder Indonesia Superstocks Community, Edhi Pranasidhi. Dia bahkan mencatat ada 10 investor besar yang melakukan penjualan saham BBRI puluhan juta lot pada 2020.

Menurutnya, hal itu dilakukan untuk menunggu momentum yang lebih baik guna menyerap kembali BBRI di masa datang. Edhi berpendapat, penerbitan saham guna pembentukan holding adalah momentum yang sangat tepat untuk kembali berinvestasi di BBRI tersebut.

Proyeksi aksi beli dalam jumlah besar ini pun, lanjut dia, akan mendorong peningkatan harga BBRI yang cukup signifikan.

"Sepanjang 2020 ada 10 top brokerage houses melakukan aksi jual. Investor pun harus mewaspadai program buying setidaknya dari lima investor besar tersebut baik pada sebelum maupun setelah penerbitan saham BRI," ungkapnya.

Edhi menilai harga pelaksanaan rights issue BRI sebesar Rp3.400 per saham tergolong sangat murah. Bahkan, keuntungan dapat tetap dicetak investor hanya dengan menggunakan hak dan menjualnya pada hari pertama perdagangan setelah aksi korporasi.

"Maka dari itu, memang akan sangat untung jika menggunakan hak. Ini adalah momentum spesial. Emiten yang menjual menerapkan harga di bawah harga pasar itu selalu menarik dan menguntungkan," jelasnya.

Lebih lanjut, Edhi mengatakan bahwa investor pun akan mendapat untung lebih besar lagi jika berkomitmen untuk periode yang lebih panjang.

"Menebus HMETD berpotensi memberikan return hingga 32% pada harga maksimal Rp5.025 atau 2,5 kali harga buku dalam 12 bulan investasi," ujar Edhi.

Sebelumnya, pada Kamis (9/9) lalu, manajemen BRI melaksanakan public expose secara daring. Dalam kesempatan itu, Direktur Keuangan BRI, Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari mengungkapkan, sekitar 60–70% dana hasil rights issue untuk modal kerja holding UMi bersama Pegadaian dan PNM. Adapun sisanya, untuk modal kerja bisnis mikro dan kecil.

Dalam prospektus yang diterbitkan Selasa (31/8), manajemen BRI menawarkan sebanyak-banyaknya 28,213 miliar Saham Baru Seri B atas nama dengan nilai nominal Rp50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I.

Harga pelaksanaan rights issue BBRI Rp3.400 per lembar saham. Pemerintah akan melaksanakan seluruh haknya sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya dalam BRI dengan cara penyetoran saham dalam bentuk lain selain uang (Inbreng) sesuai PP No. 73/2021. Seluruh saham Seri B milik pemerintah dalam Pegadaian PNM akan dialihkan kepada BRI melalui mekanisme inbreng.

Nilai total PMHMETD I yang telah memperhitungkan inbreng serta eksekusi hak Pemegang Saham Publik adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp95,92 triliun. Dari total dana tersebut, nilai inbreng sebesar Rp54,77 triliun dan sisanya Rp41,15 triliun apabila seluruh pemegang saham publik mengeksekusi haknya sesuai porsi masing-masing.

KSEI Alami Hang
Di sisi lain, Edhi pun angkat bicara terkait masalah terjadinya hang pada sistem The Central Depository and Book Entry Settlement System (C-BEST) yang berfungsi untuk mengeluarkan efek atau dana dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Senin (13/9).

Dia menyebut gangguan hang terjadi karena banyaknya transaksi dan settlement di Pasar Modal Indonesia. Salah satunya bisa jadi karena transaksi saham BBRI yang sangat likuid.

“Iya karena misalnya, misalnya ya. Waktu tebus rights (BBRI),” jelasnya.

Karena itu, kata dia, KSEI disarankan sudah harus meningkatkan sistem teknologi yang dimilikinya. Seperti teknologi yang lebih canggih, misalnya, menggunakan sistem blockchain. Karena ke depan, transaksi akan semakin banyak secara frekuensi dan volume.

Edhi memperkirakan bulan depan transaksinya akan lebih besar lagi. Karena selain BRI, ada pula sekitar 50-an perusahaan yang akan melakukan aksi korporasi yang sama.

Pada kesempatan berbeda, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Laksono Widodo mematok target rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham sebesar Rp13,5 triliun pada tahun 2022 mendatang.

"Tahun depan, target RNTH sebesar Rp13,5 triliun," kata Laksono optimistis kepada awak media, Selasa (14/9).

Ia mengungkapkan beberapa faktor yang membuat bursa menetapkan target RNTH pada tahun 2022 bisa mencapai Rp13,5 triliun. Yakni, menimbang pemulihan ekonomi atau economic recovery post covid di 2022, semakin maraknya transaksi retail, dan rencana IPO saham-saham besar di tahun 2022.

Adapun saat ini, RNTH 2021 sudah melampaui target, yaitu di posisi Rp13,06 triliun. Padahal, target yang ditetapkan BEI sebelumnya adalah Rp12 triliun untuk tahun 2021. Walau demikian, Laksono menyebut bursa enggan melakukan revisi target RNTH pada tahun 2021 ini.

Kenaikan RNTH ini, sebutnya, ditopang oleh kenaikan investor pasar modal sepanjang tahun 2021. Berdasarkan data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Agustus 2021, jumlah investor pasar modal naik 57,2% atau 6,1 juta Single Investor Identification (SID).

"Terima kasih buat partisipasi investor retail yang kuat di 2021 ini yang menyumbang 60% dari nilai transaksi BEI di Januari-Agustus 2021,” tutupnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA