Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|17:17 WIB

Telkom Jajaki Kerja Sama Pemanfaatan Satelit Dengan SpaceX

Dengan pemanfaatan teknologi satelit LEO untuk konektivitas di wilayah Indonesia, diharapkan Telkom mampu memberikan solusi guna mengakselerasi konektivitas hingga pelosok nusantara

Oleh: Faisal Rachman

ImageFoto peluncuran roket di fasilitas SpaceX. Antara/Reuters/Thom Baur

JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menjajaki pembicaraan kerja sama terkait pemanfaatan teknologi satelit LEO, dengan perusahaan Amerika Serikat SpaceX. Rencana kerja sama dengan perusahaan milik konglomerat Elon Musk tersebut bertujuan untuk meningkatkan konektivitas digital di Indonesia.

"Telkom berkomitmen mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan konektivitas digital di seluruh wilayah Indonesia. Mengingat geografis wilayah Indonesia, maka peran teknologi satelit sangat dibutuhkan untuk dapat mengakselerasi pemerataan konektivitas digital hingga ke pelosok nusantara," ujar VP Corporate Communication Telkom Pujo Pramono, seperti dilansir Antara di Jakarta, Kamis (22/7). 

Pujo mengatakan, untuk maksud tersebut, Telkom terbuka untuk bermitra dengan pihak manapun yang memiliki kompetensi dalam pemanfaatan teknologi satelit.

"Hal inilah yang mendasari pembicaraan kerja sama Telkom dengan SpaceX, sebagai perusahaan asal Amerika yang telah dikenal luas memiliki kompetensi mumpuni dalam pengembangan teknologi satelit," tuturnya. 

Menurut dia, pembicaraan itu terkait penjajakan pemanfaatan teknologi satelit LEO untuk konektivitas di wilayah Indonesia. 

Diharapkan dengan terjalinnya kerja sama itu, Telkom mampu memberikan solusi guna mengakselerasi konektivitas hingga pelosok nusantara, dengan penyediaan layanan satelit yang andal, berkualitas dan terjangkau.

Sekadar mengingatkan, SpaceX merupakan singkatan dari Space Exploration Technologies atau perusahaan teknologi jelajah luar angkasa dari Amerika Serikat. Perusahaan SpaceX didirikan oleh konglomerat Elon Musk pada 2002 dan juga bertindak sebagai pemilik perusahaan tersebut.

Sebelumnya, satelit Republik Indonesia (Satria) yang direncanakan akan meluncur pada 2023, menggandeng perusahaan transportasi luar angkasa milik SpaceX sebagai pabrikan untuk satelit peluncur. 

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengatakan, peluncuran satelit tersebut, berkaitan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur di jaringan tahap tengah, middle-mile.

Kedaulatan Data
Sementara itu, Anggota DPR RI Evita Nursanty menuturkan, BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi seperti Telkom Indonesia, harus mempercepat transformasi usahanya. Hal ini demi mendukung penguatan kedaulatan data di Indonesia.
 
"Telkom harus jadi garda terdepan untuk kedaulatan data. Kami dukung ini," kata Evita.

Ia menuturkan situasinya saat ini Indonesia masih kurang berdaulat dalam mengelola data dan informasi, baik dalam berbagai aktivitas pemerintahan sampai kegiatan usaha. Bahkan, kata Anggota Komisi VI DPR RI ini, banyak pihak di Tanah Air masih bergantung pada teknologi digital buatan asing.

"Pada masa pandemi covid-19 ini, kita semakin tergantung pada digital platform dan digital service dari luar negeri, termasuk di dalamnya data center. Ini sangat mencemaskan karena kita belum berdaulat dari sisi informasi. Kita bahkan 'begitu telanjang', tidak ada lagi rahasia. Ini sangat berbahaya," ujar Evita menegaskan.

Ia memberikan contoh rapat-rapat tertutup di DPR RI, kementerian, lembaga, dan pihak swasta yang berlangsung secara virtual, sebenarnya tidak sepenuhnya aman dari risiko kebocoran data dan peretasan.

"Kita bilang rapat tertutup, tapi bagi asing itu terbuka. Entah itu rapat-rapat di kementerian/lembaga maupun DPR. Kami sudah ingatkan sejak awal harusnya kita bisa mengembangkan aplikasi meeting sendiri. Kita harus bangun data center sendiri, dan punya regulasi yang tegas untuk memanfaatkan data center di Indonesia," tutur Evita.

Ia menegaskan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi jika nantinya disahkan tidak dapat berjalan optimal, karena banyak kekurangan pada teknologi dan infrastruktur pendukung. 

Oleh karena itu, Evita berharap sekaligus mendorong Telkom Indonesia mempercepat transformasi bisnis-nya dan tidak hanya memperluas jaringan (connectivity), tetapi juga mengembangkan digital platform dan digital service.

Sayangnya, dua layanan itu saat ini masih dikuasai pengusaha asing dan Indonesia masih berperan sebagai pasar.

"Data center dan cloud computing saat ini semua berlomba-lomba ke sana. Telkom juga harus menjadi pioner untuk mengembangkan layanan-layanan digital yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jangan hanya OTT (pelaku usaha teknologi digital-red.) asing yang menikmati," katanya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA