Selamat

Kamis, 20 Januari 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

26 November 2021

09:36 WIB

Tancap Gas, Fed Bakal Percepat Tapering

Federal Reserve AS akan menggandakan laju pengurangan pembelian obligasi bulanannya mulai Januari menjadi US$30 miliar.

Editor: Fin Harini

Tancap Gas, Fed Bakal Percepat <i>Tapering</i>
Ilustrasi dampak kebijakan The Fed. Bursa Efek Indonesia dinilai tidak terdampak kebijakan tapering off bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. ANTARA FOTO/Hafidz

LONDON – Goldman Sachs memperkirakan Federal Reserve AS akan menggandakan laju pengurangan pembelian obligasi bulanannya mulai Januari menjadi US$30 miliar dan mengurangi skema pembelian obligasi era pandemi pada pertengahan Maret.

"Meningkatnya keterbukaan untuk mempercepat langkah tapering kemungkinan mencerminkan inflasi yang agak lebih tinggi dari perkiraan selama dua bulan terakhir, dan kenyamanan yang lebih besar di antara pejabat Fed bahwa langkah yang lebih cepat tidak akan mengejutkan pasar keuangan," kata analis Goldman Sachs, yang dipimpin oleh Jan Hatzius, dalam catatan untuk klien pada Kamis (26/11), dilansir dari Antara.

Meskipun kalender tapering dipercepat, Goldman memperkirakan The Fed mulai menaikkan suku bunga hanya dari Juni sebanyak tiga kali pada 2022. Bank investasi AS itu adalah salah satu dari beberapa bank yang baru-baru ini menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga mereka untuk 2022 menjadi tiga kali dari dua kali.

Risalah pertemuan kebijakan bank sentral AS 2-3 November menunjukkan beberapa pembuat kebijakan mengatakan akan terbuka untuk mempercepat program pembelian obligasi jika inflasi tinggi bertahan. Fed juga akan bergerak lebih cepat untuk menaikkan suku bunga.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo percaya diri, Indonesia mampu hadapi tantangan global mulai dari tapering off hingga dampak gangguan mata rantai global dan energi. Kendati, seluruh perhatian dan kewaspadaan akan terus diperhatikan dari waktu ke waktu. 

Pertama, kejelasan proses tapering off Bank Sentral AS telah menstabilkan dan 'mendamaikan' pelaku pasar. Setidaknya, pasar merespons positif terhadap penurunan jumlah likuiditas telah dimulai sejak November 2021.

"Tentu saja kita lihat pengaruhnya sudah dipahami betul oleh pasar, dan kami tidak melihat suatu pengaruh yang signifikan. Bukan berarti ketidakpastian (hilang), tapi mereda dari waktu-waktu," sebutnya di Jakarta, Kamis (18/11).

Senada, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menilai, dampak tapering off The Fed terhadap Indonesia tidak akan separah 2012. Hal itu disebabkan, komunikasi The Fed terhadap pasar dan publik yang jauh lebih baik. 

Begitu pun, fundamental makroekonomi Indonesia yang diperkirakan lebih mature. Seperti cadangan devisa Indonesia per akhir Oktober 2021 yang tercatat mencapai US$145,5 miliar dan instrumen keuangan yang lebih lengkap dengan keberadaan DNDF. 

"Serta eksposur dolar AS yang biasanya menekan pasar obligasi, kalo kita liat asing sudah tinggal 20%-an. Jadi dominasi investor domestik di pasar obligasi dan saham juga lebih baik," terang Destry. 

Sementara, Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK, Anto Prabowo menilai meskipun The Fed telah melakukan tapering off di bulan November 2021, namun, pasar saham Indonesia dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih bisa menguat serta menjadi salah satu pasar keuangan dengan kinerja terbaik di emerging markets.

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil mencatat rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) pada 19 November 2021 lalu di level 6.720, atau naik 2% mtd dan 12,4% (ytd).

Sementara di Pasar SBN, hingga 19 November 2021, investor nonresiden mencatatkan outflow sebesar Rp24,1 triliun dengan rata-rata yield menguat minus 7,3 bps. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk tidak akan melakukan bond issuance hingga akhir tahun 2021.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER