Selamat

Rabu, 22 September 2021

15 September 2021|15:45 WIB

Surplus Neraca Perdagangan Cetak Rekor, Tertinggi Sejak Desember 2006

Ekspor juga mencetak rekor tertinggi, sementara pelonggaran PPKM dinilai menggeliatkan sektor manufaktur hingga mendorong impor.

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Dian Hapsari

ImageSeorang pekerja menyaksikan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. ANTARAFOTO/M Risyal Hidayat.

JAKARTA – Indonesia memiliki rekor surplus neraca perdagangan pada bulan Agustus 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia bulan Agustus 2021 mengalami surplus US$4,74 miliar.

“Rekor neraca perdagangan pada Agustus 2021 ini merupakan rekor tertinggi baru. Rekor neraca perdagangan sebelumnya tercapai pada Desember 2006 sebesar US$4,64 miliar,” kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam Rilis BPS, Jakarta, Rabu (14/9).

Ia menjelaskan, surplus yang diperoleh dari transaksi perdagangan sektor non-migas sebenarnya lebih tinggi yakni US$5,72 miliar, namun tereduksi oleh defisit perdagangan sektor migas yaitu sebesar US$0,98 miliar.

“Neraca perdagangan barang kita pada bulan Agustus ini mencatat surplus sebesar US$4,74 miliar,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Margo mengatakan surplus kali ini membuat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus dalam 16 bulan terakhir dan mendukung untuk proses pemulihan ekonomi di dalam negeri.

“Jadi ini juga capaian yang bagus, harapannya di bulan-bulan berikutnya tren surplus ini tetap terjadi di kita sehingga harapan kita untuk pemulihan ekonomi berjalan seperti apa kita harapkan,” katanya.

Margo menuturkan, komoditas yang menyumbang surplus terbesar adalah lemak dan minyak hewan nabati untuk HS 15, bahan bakar mineral HS 27 serta besi dan baja untuk HS 72.

Sementara jika dilihat per negara, yang menyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat (AS) US$1,51 miliar, India US$1,05 miliar, dan Filipina US$584,3 juta.

Sementara itu, Indonesia masih mengalami defisit neraca perdagangan dengan Australia sebesar US$453,9 juta, Thailand US$334,0 juta, dan China US$175,5 juta.

Lebih lanjut, Margo mengungkapkan selama bulan Januari hingga bulan Agustus 2021, meskipun sektor migas mengalami defisit US$7,48 miliar, namun masih terjadi surplus pada sektor non-migas US$26,65 miliar, sehingga secara total mengalami surplus US$19,17 miliar.

“Tahun 2020 (Januari sampai Agustus .red) hanya tercatat US$10,96 miliar, kemudian bahkan di tahun 2019 sempat defisit, bahwa ini surplusnya cukup besar, sebesar US$19,17 miliar,” katanya.

Ekspor Juga Cetak Rekor
Lebih lanjut, Margo juga menuturkan, nilai ekspor bulan Agustus 2021 merupakan rekor baru untuk ekspor Indonesia. 

BPS mencatat, nilai ekspor Indonesia bulan Agustus 2021 mencapai US$21,42 miliar atau naik 20,95% dibanding ekspor bulan Juli 2021. Jika dibanding bulan Agustus 2020 nilai ekspor naik 64,10%.

“Nilai Ekspor Agustus 2021 ini merupakan rekor baru ekspor Indonesia. Rekor tertinggi sebelumnya adalah pada Agustus 2011 sebesar US$18,65 miliar,” ujarnya.

Margo menguraikan, ekspor non-migas bulan Agustus 2021 mencapai US$20,36 miliar, naik 21,75% dibanding Juli 2021, dan naik 63,43% dibanding ekspor non-migas bulan Agustus 2020.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia sejak bulan Januari hingga bulan Agustus 2021 mencapai US$142,01 miliar atau naik 37,77% dibanding periode yang sama tahun 2020, demikian juga ekspor non-migas mencapai US$134,13 miliar atau naik 37,03%.

Ia melanjutkan, peningkatan terbesar ekspor non-migas bulan Agustus 2021 terhadap bulan Juli 2021 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$1.544,8 juta atau naik 61,60%, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada pupuk sebesar US$52,8 juta atau turun 38,48%.

Menurut sektor, ekspor non-migas hasil industri pengolahan sejak bulan Januari hingga bulan Agustus 2021 naik 34,12% dibanding periode yang sama tahun 2020, demikian juga ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 7,52%  dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 61,53%.

Jika dilihat menurut negara tujuan, ekspor non-migas bulan Agustus 2021 terbesar adalah ke China yaitu US$4,78 miliar, disusul Amerika Serikat US$2,25 miliar dan India US$1,72 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 42,98%.

Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar US$3,37 miliar dan US$1,63 miliar.

“Sedangkan menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada

Januari hingga bulan Agustus 2021 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$21,56 miliar atau 15,18% dari total ekspor, diikuti Jawa Timur US$14,87 miliar atau 10,47% dan Kalimantan Timur US$13,33 miliar atau 9,39%,” kata Margo.

Pelonggaran PPKM Tingkatkan Geliat Manufaktur
 
Margo mengungkapkan, pelonggaran Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) memiliki pengaruh kepada perekonomian, khususnya kepada sektor manufaktur yang juga berpengaruh pada impor.

“Namun, impor juga terkait dengan kondisi perdagangan dengan mitra dagang Indonesia,” katanya. Ia menambahkan, geliat aktivitas manufaktur di dalam negeri juga memungkinkan meningkatnya kebutuhan impor saat ini.

BPS melaporkan, nilai impor Indonesia bulan Agustus 2021 mencapai US$16,68 miliar, naik 10,35% dibandingkan Juli 2021 atau naik 55,26% dibandingkan bulan Agustus 2020.

Impor migas bulan Agustus 2021 senilai US$2,05 miliar, naik 14,74% dibandingkan bulan Juli 2021 atau naik 115,75% dibandingkan bulan Agustus 2020.

Sementara, impor non-migas bulan Agustus 2021 senilai US$14,63 miliar, naik 9,76% dibandingkan Juli 2021 atau naik 49,39% dibandingkan bulan Juli 2020.

Peningkatan impor golongan barang non-migas terbesar bulan Agustus 2021 dibandingkan Juli 2021 adalah mesin/peralatan mekanis dan bagiannya US$318,5 juta atau naik 16,99%.

“Sedangkan penurunan terbesar adalah ampas dan sisa industri makanan US$96,4 juta atau turun 23,65%,” ungkap Margo.

Sementara, tiga negara pemasok barang impor non-migas terbesar selama bulan Januari hingga bulan Agustus 2021 adalah Tiongkok US$34,67 miliar atau 32,25% dari total impor, Jepang US$9,01 miliar atau 8,39%, dan Korea Selatan US$5,84 miliar atau 5,44%.

Impor non-migas dari ASEAN US$18,93 miliar atau 17,61% dan Uni Eropa US$6,73 miliar 6,27%.

Menurut golongan penggunaan barang, nilai impor sejak bulan Januari hingga bulan Agustus 2021 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan pada barang konsumsi US$2.825,1 juta atau meningkat 29,79%, bahan baku/penolong US$25.006,5 juta atau naik 36,84% dan barang modal US$2.891,7 juta atau naik 19,60%.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA