Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|13:05 WIB

Surplus Neraca Dagang Bikin Mendag Pede, Ekspor Dinilai Menjanjikan

Indonesia dinilai sedang berevolusi dari produsen barang mentah dan barang setengah jadi, ke produsen barang-barang industri dan industri berteknologi tinggi

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Faisal Rachman

ImageSuasana aktivitas bongkar muatan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (15/6/ 2021). Antara Foto/Asprilla Dwi Adha

JAKARTA – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi optimistis kinerja ekspor Indonesia akan semakin menjanjikan dalam beberapa waktu mendatang. Hal ini tak terlepas dari surplus neraca perdagangan periode Juni 2021 yang tercatat sebesar US$1,32 miliar.

Ia yakin, ekspor komoditas-komoditas unggulan juga akan semakin positif berkontribusi terhadap tren surplus neraca perdagangan pada periode-periode mendatang.

“Meski pandemi Covid-19 belum berakhir, kami yakin dengan prospek ekspor produk-produk Indonesia yang naik dengan baik ini," kata Lutfi dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (22/7).

Pada Juni 2021, total ekspor Indonesia mencatatkan nilai US$18,55 miliar, naik 9,52% dibanding Mei 2021 atau naik 54,46% dibanding Juni 2020. Ekspor nonmigas pada Juni 2021 tercatat sebesar US$17.31 miliar.

Beberapa komoditas utama ekspor nonmigas Indonesia yang tumbuh cukup tinggi pada Juni 2021 jika dibandingkan bulan sebelumnya, antara lain, besi baja naik 32,31%. 

Kemudian kendaraan dan bagiannya (42,19%), bijih, terak, dan abu logam (35,36%), mesin dan perlengkapan elektrik (15,87%), serta alas kaki (33,01%).

Lutfi menambahkan, pemerintah juga sedang memperbaiki struktur industri untuk mendukung potensi ekspor produk-produk industri dan industri berteknologi tinggi. Seperti besi dan baja serta otomotif.

Adapun pertumbuhan ekspor besi dan baja pada semester pertama 2021 meningkat hingga 92% jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

"Hal ini menunjukkan, Indonesia sedang berevolusi dari produsen barang mentah dan barang setengah jadi ke produsen barang-barang industri dan industri berteknologi tinggi,” tuturnya.

Selain itu untuk mendukung ekspor perhiasan, terutama ke kawasan Timur Tengah, lanjut Lutfi, Kemendag sedang menjajaki kerja sama perdagangan dengan Uni Emirat Arab (UEA). Jika telah rampung, kerja sama tersebut diharap dapat mendorong peningkatan ekspor perhiasan Indonesia ke UEA.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, surplus neraca perdagangan pada Juni 2021 menunjukkan keberlanjutan pemulihan sektor ekonomi nasional. Kinerja Ekspor-impor Indonesia mengalami peningkatan, baik secara bulanan (mom) maupun tahunan (yoy).

Meski di tengah pandemi, performa neraca dagang Indonesia masih cukup impresif. Apalagi, surplus neraca dagang ini telah berlangsung selama 14 bulan berturut-turut, sejak Mei 2020. Secara historis, surplus pada 2020 bahkan mencapai rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir dengan mencatatkan nilai sebesar US$21,62 miliar.

Lebih jauh, angka ini juga telah mendekati rata-rata performa surplus pada periode puncak 2001-2011 dengan nilai sebesar US$26,16 miliar. Sejak 2021, Indonesia lebih sering defisit ketimbang mencatat surplus.

“Performa neraca perdagangan yang cukup resilience di tengah pandemi perlu diapresiasi. Namun, untuk menjaga keberlanjutan surplus perdagangan ke depan, perlu terus dicermati beberapa faktor kunci,” ungkapnya, Kamis (15/7).

Faktor kunci tersebut di antaranya, memperhatikan stabilitas pertumbuhan permintaan global, khususnya pada pasar utama. Selanjutnya, mengoptimalkan peran dan fungsi perwakilan perdagangan (Perwadag) dalam mendorong peningkatan ekspor.

Kemudian, memantau dinamika perkembangan harga dan volume ekspor komoditas utama dan potensial, hingga realisasi strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan impor khususnya pada komponen impor konsumsi.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA