Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

BERITA

29 Mei 2021|18:00 WIB

Siasat Menerjang Derasnya Badai Impor

Pangsa pasar tekstil China sejak 2000 terus membesar hingga menggeser Uni Eropa yang tadinya menjadi jawara
ImageAneka busana muslim di Pasar Tanah Abang beberapa waktu lalu. ANTARAFOTO/Dok

AKARTA – Lebih sepekan lalu, platform e-commerce Shopee menutup penjualan 13 produk crossborder. Langkah ini mengikuti keputusan pemerintah melarang pemasukan 13 produk lintas negara tersebut masuk ke Indonesia.

Ketiga belas produk crossborder yang dilarang adalah hijab, atasan muslim wanita, bawahan muslim wanita, dress muslim, atasan muslim pria, bawahan muslim pria, outwear muslim, mukena, pakaian muslim anak, aksesoris muslim, peralatan salat, batik, dan kebaya.

Produk-produk tersebut memang deras mengalir ke tanah air. Untuk jilbab saja, Kementerian Perdagangan memperkirakan nilai impornya mencapai Rp3 triliun.

Maklum, harganya yang miring membuat konsumen akhirnya lebih memilih produk luar dari pada lokal. Kemudahan berbelanja, hanya lewat ujung jari, juga membuat minat produk tekstil luar meningkat.

Serbuan produk impor beberapa waktu belakangan disebut sebagai ancaman bagi industri tekstil dan produk tekstil atau TPT lokal. Apalagi, produk lokal kerap tak mampu memenangkan persaingan merebut hati konsumen, dilihat dari harga, keragaman produk dan kualitas.

Kondisi tersebut diperparah lagi dengan pandemi covid-19 yang mulai masuk ke Indonesia pada Maret tahun lalu. Berbagai kebijakan menahan mobilitas masyarakat demi mencegah penularan, memangkas daya beli dan membuat industri TPT terpuruk dalam setahun terakhir.

Paradoksal
Data menunjukkan tren ini. Hingga triwulan I-2021, industri TPT tumbuh paling rendah dibandingkan dengan sektor pengolahan non-migas lainnya. Kondisi ini ironis di tengah kinerja sektor industri yang sedang tumbuh ekspansif. Ditunjukkan oleh Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index/PMI Manufaktur Indonesia tercatat sebesar 52,2 pada Januari. Kemudian, meski turun pada Februari ke level 50,9 namun masih dalam kategori ekspansif. Lantas, meningkat pada Maret menjadi 53,2.

Sebelum pandemi, sektor TPT masih bertumbuh. Pada 2017, sektor ini tumbuh 3,83%. Kemudian, meningkat pada 2018 menjadi 8,73%. Sementara 2019, tumbuh lagi hingga 15,35%. Namun akibat pandemi, pertumbuhan sektor TPT anjlok menjadi minus 8,88% secara tahunan (year on year/yoy).

Selama setahun terakhir ini, laju pertumbuhan industri TPT terus terkontraksi. Pada triwulan I-2020, misalnya, sektor ini sudah tumbuh minus 1,24%. Pada triwulan IV-2020, kondisi semakin tertekan menjadi minus 10,49%. Hingga pada triwulan I-2021, kinerjanya semakin menurun di angka minus 13,28% karena permintaan domestik dan ekspor yang masih belum membaik.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian, Elis Masitoh mengatakan, kinerja industri tekstil sebenarnya sudah mulai membaik pada awal triwulan I-2021.

Namun, sekitar Februari–Maret, terjadi lonjakan harga bahan baku karena gangguan pada arus perdagangan. Indonesia sendiri masih menggantungkan pemenuhan kebutuhan bahan baku dari impor.

"Misal kapas yang naik signifikan, bahan baku polyester yang cukup naik, kan keduanya harga dunia. Ternyata setelah ditelusuri, seluruh dunia mengalami hal sama seperti di kita, yaitu kelangkaan kontainer atau peti kemas," kata Elis kepada Validnews melalui sambungan telepon, Selasa (25/5).

Padahal, lanjut dia, di dalam negeri kondisi industri tengah meningkat. Terlihat dari utilisasi yang sudah full capacity saat periode Januari–Februari. Demikian pula di industri hilir seperti kain, garmen dan lainnya.

Namun karena harga bahan baku naik, menyebabkan tekstil Indonesia jadi lebih mahal. Jadi, industri tidak bisa menikmati momentum kenaikan demand ini.

Elis memperkirakan, pada triwulan II-2021, sektor TPT akan menjadi lebih baik daripada triwulan I-2021 karena ada momen lebaran. Meski ada pembatasan mudik, namun di tingkat ritel diakuinya sudah membaik.

Ia berharap dengan pandemi yang melandai dan pembatasan kegiatan masyarakat berbasis mikro atau PPKM yang dilepas beberapa ke depan, bisa berpotensi meningkatkan industri di dalam negeri.

"Saya lihat triwulan I-2021 dari investasi sudah melebihi triwulan I-2020, di mana investasi industri per kuartal sekitar Rp1,5 triliun dan triwulan I-2021 sebesar Rp2,15 triliun. Jadi, ini lebih bagus dari 2019 dan 2020," ungkap Elis.

Investasi yang dikucurkan di sektor TPT dinilai bisa mengangkat industri tersebut. Begitu juga dengan kebijakan substitusi impor yang tengah digeber pemerintah. Tahun lalu, pemerintah membidik target substitusi impor sebesar 27%, dan diharapkan meningkat tahun ini. Sembari menekan impor, dukungan memudahkan ekspor diproyeksikan pemerintah.

Industri TPT sendiri merupakan salah satu sektor yang paling diandalkan untuk menyerap tenaga kerja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikelola Kementerian Perindustrian, dari tahun ke tahun, serapan tenaga kerja sektor ini terus meningkat, bahkan di tengah situasi pandemi sekalipun.

Pada 2018 saja, tercatat ada 1,7 juta pekerja di sektor TPT. Angka ini naik menjadi 2,8 juta pekerja pada 2019. Pada 2020, meskipun tertekan pandemi, serapan tenaga kerja di sektor TPT justru melonjak menjadi 3,9 juta orang.

Kurang Berdaya Saing
Sejatinya, kemampuan bersaing TPT Indonesia memang kurang dibandingkan beberapa negara produsen utama dunia. Diakui Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia atau API, Rizal Tanzil Rakhman kepada Validnews, Kamis (27/5), daya saing yang lemah ini menyangkut soal upah tenaga kerja, bahan baku, energi, infrastruktur, suku bunga, lingkungan.

"Dari faktor-faktor itu hampir semua kita tidak kompetitif dibanding negara yang lain. Contoh tentang upah, kita rata-ratanya masih lebih tinggi daripada negara produsen tekstil lainnya, seperti China, India, Bangladesh, Vietnam," terangnya.

Terkait energi, harga listrik pun dinilai masih mahal. Ada pula pengaruh isu lingkungan yang tidak kompetitif, misalnya limbah B3 FABA atau Fly Ash dan Bottom Ash di Indonesia masih kategori B3.

Sementara, negara kompetitor, terlebih negara maju, sudah tidak masuk kategori B3. Padahal, biaya pengelolaan pembuangan limbah B3 ini sendiri biasanya sangat mahal.

Selain itu, harga gas US$6 per MMBTU untuk tekstil juga masih belum bisa dinikmati semua perusahaan di industri ini. Kemudian, untuk bahan baku seperti kapas masih 100% impor. Berbeda dengan China, sumber bahan bakunya, mulai dari kapas hingga chemical untuk bahan baku polyester, mereka punya.

Bahkan jika dibandingkan dengan Vietnam yang merupakan pemain baru TPT dunia, Indonesia juga kalah bersaing. Sebab, Vietnam memiliki beberapa keuntungan. Kedekatan lokasi dengan China membuat biaya untuk mendatangkan bahan baku lebih murah. Lalu, upah tenaga kerja juga lebih rendah dibandingkan Indonesia, dengan jam kerja lebih tinggi.

Dalam hal memasarkan ke luar negeri, lagi-lagi Vietnam diuntungkan secara geografis. Lokasi yang lebih dekat dengan Amerika Serikat, salah satu pasar TPT dunia, membuat ongkos kirim pun lebih murah.

Tak hanya itu, perjanjian perdagangan Indonesia dengan negara tujuan ekspor juga masih dalam proses. Menurut Rizal, Indonesia tidak seagresif Bangladesh dan Vietnam yang telah menyetujui perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa.

Menambahkan daftar faktor pelemah daya saing TPT Indonesia, Elis Masitoh mengatakan, Indonesia kalah di sisi teknologi. Ia mengungkapkan teknologi industri TPT sudah berusia tua yakni 100 tahun lebih. Permesinan dan sebagainya disebut belum termodernisasi dibanding China.

Struktur pajak yang berlipat dan adanya pungutan liar menambah salah satu penyebab industri TPT berbiaya tinggi.

“Jadi, banyak faktor memengaruhi industri TPT berbiaya lebih tinggi dengan negara lain, terus terang karena efisiensi dari industri Indonesia dibanding China masih jauh," papar Elis.

Sementara itu, peneliti Center of Industry, Trade, and Investment (INDEF), Andry Satrio Nugroho berpendapat, industri hulu di China sudah cukup mapan dan memiliki skala ekonomi yang besar. Produknya tak hanya menyasar pasar dalam negeri, namun juga global. Sehingga, menjadi salah satu bagian dari rantai pasok global. Ujungnya, penyebaran produk mereka mengancam industri dalam negeri.

"Itu menjadi salah satu hal, yang memang pada akhirnya integrasi industri TPT di China bisa menghasilkan produk yang jauh lebih kompetitif dibandingkan produk-produk kompetitornya dari luar," kata Andry kepada Validnews, Jumat (28/5).

World Trade Statistical Review 2019 menunjukkan pangsa pasar tekstil China sejak 2000 terus membesar hingga menggeser Uni Eropa yang tadinya menjadi jawara. Pada 2000, China baru menguasai 10,3% pangsa pasar tekstil dunia.

Angkanya meningkat menjai 20,2% pada 2005 dan 30,4% pada 2010. Pada 2018, pangsa pasar yang dikuasai sudah sebesar 37,6%. Negara lain dengan pangsa pasar yang terus bertumbuh adalah India dan Vietnam.

Di sisi garmen, pangsa pasar yang dikuasai juga terus membengkak. Dari 18,2% pada 2000, menjadi 26,6% pada 2005 dan 36,6% pada 2010. Namun, pangsa pasar turun ke level 31,3% pada 2018.

Meski demikian, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan, Kasan menuturkan, kinerja pakaian jadi dan aksesoris masih tumbuh 20% pada periode Januari–April 2020. Kategori serat buatan juga masih naik sebesar 19%.

"Kita itu kan dari sisi kualitas cukup baik, artinya kualitas, pricing, kita kan kalau liat peta pasar TPT kita yang paling banyak salah satunya ke Amerika," ujar Kasan kepada Validnews, Jumat (28/5).

Dia menjelaskan, TPT Indonesia secara nilai dan pangsa memang masih di bawah China, Vietnam, atau India. Namun, kualitas produk pakaian jadi asal Indonesia diakui kualitasnya cukup baik di pasar Amerika.

Siasat untuk Bangkit
Menghadapi persaingan yang tak imbang, Rizal menyebutkan langkah proteksi pasar dalam negeri semacam larangan 13 produk crossborder harus ditempuh. Pihaknya pun sudah mengajukan ke pemerintah agar dikenakan tambahan bea masuk barang impor, sehingga harga produk lokal bisa bersaing dengan barang impor. Harga tak terlalu njomplang dan konsumen bisa melirik produk lokal.

Selain itu, upaya menumbuhkan daya beli masyarakat perlu dilakukan. Demand atau permintaan pasar dirasa menjadi kebutuhan utama industri. Dengan memunculkan permintaan, maka akan mendorong kenaikan utilisasi dan produksi, hingga penyerapan tenaga kerja.

"Basic-nya sebenernya simple, kalau pasar dijaga, demand ditumbuhkembangkan, industri pasti akan tumbuh. Kaya stimulus, bantuan, atau segala macam, kalau pasarnya tidak ada juga percuma. Sekarang beli mesin kalau tidak ada permintaan buat apa juga. Listrik diskon apa segala macam tapi tidak ada order, sama aja," tukasnya.

Di sisi bahan baku, Elis Masitoh mengatakan, TPPI Tuban sudah mulai beroperasi untuk menyediakan bahan baku dalam negeri. Harapannya, TPPI Tuban bisa menghasilkan parasilen untuk diubah menjadi PPA/Fenilpropanolamin sebagai bahan baku polyester, yang notabene masih impor sebagian.

Diharapkan, kebutuhan bahan baku bisa diperoleh dari dalam negeri dan harganya kompetitif. Kemudian, Mono Ethylene Glycol (MEG) juga akan didorong di petrokimia untuk mendirikan pabrik MEG agar tekstil tumbuh.

Sementara itu, harga gas sendiri sudah pemerintah turunkan dan diharapkan seluruh industri tekstil bisa merasakan di harga US$6 per MMBTU. Tak hanya gas, ia juga meminta agar harga listrik ikut diturunkan. Untuk teknologi, dibutuhkan peremajaan mesin secara bertahap agar lebih hemat air dan ramah lingkungan karena limbah yang dihasilkan akan lebih sedikit.

"Kita sudah mulai karena China sudah mulai bikin mesinnya. Walau Indonesia belum bikin mesin, tapi bisa mengganti mesin lebih canggih aja lewat bantuan pemerintah. Jadi pemerintah coba fasilitasi ganti mesin menjadi teknologi ramah lingkungan dan 4.0," tutur Elis.

Terkait perpajakan, juga harus dibahas agar lebih memberikan kemudahan industri TPT yang mengambil barang dari dalam negeri. Misalnya, menerapkan diskon pajak bagi industri hilir TPT yang menyerap produk intermediate atau kain dari dalam negeri. Ia mencontohkan, kebijakan pembebasan PPnBM bagi mobil dengan syarat TKDN.

Soal lingkungan, pihaknya mengusahakan agar limbah tekstil tidak masuk ke dalam B3. Ia juga meminta agar izin lingkungan dapat dipermudah. Satu hal lagi, tugas di Pemerintah Daerah adalah mengurangi adanya pungutan liar.

"Kita mampu membuat pakaian apa saja harusnya diisi dalam negeri, karena itu kita menjaga pasar dalam negeri dari serbuan impor baik melalui tata niaga impor, tindakan pengamanan pasar dalam negeri, trade remedies, non tarif barrier, makanya fasilitasi TKDN untuk meningkatkan demand dalam negeri," kata Elis.

Sebagai salah satu upaya, Kementerian Perdagangan meluncurkan Hari Belanja Buatan Indonesia. Tujuannya, mendorong produk-produk lokal yang dijual secara digital lewat e-commerce yang digenjot penjualannya sejak 5 Mei 2021 kemarin sebagai Hari Bangga Buatan Indonesia. 


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER