Selamat

Rabu, 22 September 2021

02 September 2021|21:00 WIB

Semringah Karena Gawai Murah

Pandemi berimbas baik terhadap produsen. Penjualan laptop murah masih berpotensi cerah
ImageSejumlah siswa menggunakan laptop menggunakan internet fasilitas sekolah di SMP N 4 Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. ANTARAFOTO/Harviyan Perdana Putra

JAKARTA – Akhir Juli 2021, produsen laptop PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk melalui Keterbukaan Informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan perolehan kontrak dari pemerintah untuk menyediakan 165.000 unit laptop. 

Nantinya, dua distributor yang bekerja sama dengan perseroan, yakni PT Intan Pariwara akan mendistribusikan sebanyak 45.000 unit laptop dan PT Dragon Computer & Communication sebanyak 120.000 unit laptop kepada Kemendikbudristek.

Program digitalisasi sekolah tak hanya membawa berkah buat sekolah-sekolah di pelosok atau wilayah terluar nusantara, yang memang menjadi target program tersebut. 

Pihak yang digandeng pemerintah untuk mendukung program tersebut pun seketika sumringah. Termasuk Zyrex yang melaporkan kontrak akan menambah Rp700 miliar pendapatan perusahaan. 

Sebelumnya, ditilik dari laporan keuangan perusahaan, Zyrex hanya mengumpulkan pendapatan Rp82,66 miliar pada semester I 2021. Turun 49,18% dibandingkan capaian pada paruh pertama 2020 sebesar Rp162,67 miliar. 

Karena itu, laba komprehensif tahun berjalan juga turun drastis, dari Rp35,28 miliar semester I tahun lalu, menjadi Rp3,46 miliar. Cuan mereka terpangkas 90,19%. Kontrak baru ini jelas membalikkan kondisi tersebut.

Sekretaris Perusahaan PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk Evan Jordan mengungkapkan, spesifikasi laptop yang ditawarkan pihaknya telah memenuhi minimum yang disampaikan dalam petunjuk teknis (juknis) yang dikeluarkan oleh Kemendikbudristek.

Ia menjelaskan, petunjuk teknis tersebut bersifat umum dan berlaku untuk setiap merek yang ingin menawarkan produknya di e-katalog LKPP. Setiap pemegang merek, juga diberikan kebebasan untuk menawarkan spesifikasi di atas spesifikasi minimum yang tertera dalam juknis.

Oleh karena itu, menurutnya, setiap pemegang merek akan bersaing untuk menawarkan produk dengan spesifikasi terbaik dengan harga yang termurah.

“Dengan demikian, pemerintah sebagai pembeli produk tersebut mendapatkan produk dengan spesifikasi dan harga yang terbaik,” kata Evan kepada Validnews di Jakarta, Selasa (31/8). 

Saat ini pun Zyrex sudah memulai proses produksi. Produksi dan distribusi akan berlangsung hingga bulan November 2021.

Digitalisasi sekolah juga sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Tujuannya, untuk mengembangkan digitalisasi di dunia pendidikan khususnya di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Program yang dimulai sejak kuartal III/2019 ini disebut sebagai terobosan baru di lingkungan akademik karena memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dalam berbagai aspek pengajaran. 

Nantinya, dengan program ini, pemerintah akan membeli berbagai macam peralatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk keperluan sekolah.

Dari segi anggaran, kementerian yang dipimpin Nadiem Anwar Makarim itu mengalokasikan anggaran Rp3,7 triliun untuk tahun 2021 yang terdiri dari dua alokasi. 

Pertama, dari anggaran Kemendikbudristek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp1,3 triliun. Dan, yang kedua senilai Rp2,4 triliun dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik tahun 2021.

Pembelanjaan TIK melalui APBN tahun 2021 senilai Rp1,3 triliun digunakan untuk memenuhi kebutuhan 12.674 sekolah mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SLB. Yaitu, untuk pembelian 189.840 laptop, 12.674 access point, 12.674 konektor, 12.674 proyektor, dan 45 speaker.

Nantinya, untuk pemilihan produk dan merek dari masing-masing kebutuhan merujuk pada pilihan yang ada pada e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa (LKPP).

Sementara, pembelanjaan TIK melalui DAK Fisik yang merupakan anggaran dari pemerintah pusat yang ditransfer ke pemerintah daerah dialokasikan sebesar Rp2,4 triliun, yang diatur melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 5 Tahun 2021.

Alokasi tersebut mengatur rencana pembiayaan bagi 16.713 sekolah berupa 284.147 laptop produksi dalam negeri dengan sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Juga, aneka peralatan pendukungnya seperti 17.510 wireless router, 10.799 proyektor dan layarnya, 10.799 konektor, 8.205 printer, dan 6.527 scanner.

Selain Zyrex, ada lima perusahaan lain yang ikut memenangkan tender  untuk memenuhi kebutuhan digitalisasi sekolah. Mereka adalah PT Tera Data Indonusa (Axioo), PT Supertone (SPC), PT Evercoss Technology Indonesia (Evercoss), PT Bangga Teknologi Indonesia (Advan), dan PT Tata Sarana Mandiri (TSMID).

Siap Memasok
Terhadap tender ini, PT Tera Data Indonusa (Axioo) mengungkapkan, ada beberapa jenis notebook untuk proyek pemerintah. Akan tetapi, yang jelas dipesan Kemendikbudristek berjenis Axioo Chromebook.

Marketing Communication Spv PT Tera Data Indonusa Irna Andriana tidak bersedia untuk menyebut berapa jumlah yang dipesan dan nominal kontrak kerja sama tersebut. Namun, Axioo mengaku sudah mulai merakit laptop dari awal bulan Agustus dan masih berjalan hingga saat ini. Sebagian laptop juga langsung didistribusikan.

“Untuk jumlah keseluruhan kami belum dapat sampaikan karena saat ini PO (pre order.red) masih berjalan,” ujarnya kepada Validnews di Jakarta, Rabu (1/9). 

PT Evercoss Technology Indonesia, pada kesempatan berbeda, menyatakan sudah berkomunikasi intens dengan Kemendikbudristek untuk pengembangan produk yang diminta. Marketing Communication Manager Evercoss Suryadi Willim dalam perbincangan via telepon, mengatakan juga sudah berkomunikasi dengan Google sebagai penyedia operating system.

“Kita sebagai vendor perangkat kerasnya so far sudah sangat siap, sudah jadi produksi malah atau sudah tinggal distribusi setahu saya,” katanya kepada Validnews, Rabu (1/9).

Ia menjelaskan, kerja sama untuk pengadaan laptop dalam program Digitalisasi Sekolah baru mencapai batch pertama. Selebihnya, ia tidak mengetahui apakah kerja sama akan berlangsung di kemudian hari.

Suryadi juga menuturkan, belum mengetahui angka pasti berapa pesanan laptop kepada pihaknya. Angkanya masih berubah-ubah. Namun, kapasitas produksi laptop Evercross bisa mencapai sekitar 200.000 per bulannya. Untuk pesanan pemerintah dalam waktu satu bulan bisa diadakan.

“Anggaran itu, ini kita pure cuma penyedia perangkat kerasnya, sama dengan penyelaras dengan perangkat sama hardware-nya si chromebook, jadinya masih belum jelas karena batch pertama saja kita masih belum pasti dapat berapa unit,” terangnya. 

Meningkatkan Kepercayaan
Selain berdampak ke kinerja keuangan perusahaan, Sekretaris Perusahaan PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk Evan Jordan menyampaikan, kerja sama dengan pemerintah perihal pengadaan laptop berdampak positif lainnya bagi perusahaan.

Pertama, setidaknya kerja sama dinilai akan memperkenalkan kualitas produk dalam negeri sehingga dapat bersaing dengan merek luar negeri. Kedua, kerja sama akan meningkatkan modal kerja sehingga perusahaan dapat berkembang dan lebih kompetitif terhadap merek luar negeri. 

Hal sama diyakini bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk dalam negeri.

Soal produksi, Zyrex mengklaim bisa memproduksi  80.000 unit laptop per tahun. Pada tahun ini saja, perseroan telah menambah empat lini produksi baru. Dengan delapan lini produksi, perusahaan ini mampu memproduksi sekitar 150.000 unit laptop setiap bulannya.

“Oleh karena itu, kami sudah siap untuk memenuhi permintaan pengadaan laptop dari pemerintah,” katanya.

Pagebluk ternyata berdampak positif terhadap permintaan laptop. Selama pandemi, Evan mengungkapkan bahwa kebiasaan baru untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan work from home (WHF) juga telah mendorong kepemilikan laptop secara individu.  Meski tak mengungkapkan besarnya kenaikan, dia menyebut hal ini jelas ada.

Marketing Communication Manager Evercoss Suryadi Willim mengungkapkan senada. Diakuinya, kerja sama dengan pemerintah berdampak baik dari segi relasi. Akan tetapi jika bicara angka, Evercross disebutnya masih bisa hidup dari kerja sama lain.

Ia mengakui, pembuatan laptop merupakan hal yang baru di Evercoss. Pengembangan pun baru mulai dilakukan pada akhir tahun 2019 lalu. Saat ini, Evercoss sudah bisa memproduksi laptop sekitar 200.000 per bulan atau mencapai 2,4 juta unit setiap tahunnya.

Sementara, Marketing Communication Spv PT Tera Data Indonusa Irna Andriana mengungkapkan juga kecipratan dampak pandemi.  Ini menyebabkan adanya penambahan produksi pada tahun 2021 dan 2022. 

“Untuk quantity tahun 2020 dan 2021 ini cukup bertambah signifikan. Target kami adalah bertambahnya market share 10-15% di tahun ini,” ujarnya.


Atur Strategi
Soal harga, Marketing Communication Manager Evercoss Suryadi William  menuturkan, laptop yang saat ini paling diminati berada di rentang Rp5–7 juta. Gawai ini kebanyakan ditujukan untuk kegiatan sekolah dan bekerja.  

“Kerjanya ini yang masih tingkat menengah gitu, kayak cuma microsoft office atau zoom online gitu,” ucap William.

Sementara, Marketing Communication Spv PT Tera Data Indonusa Irna Andriana juga mengungkapkan, apa yang diminati konsumen untuk produknya. Saat ini, laptop yang paling banyak diminati ialah laptop kelas mid level yang berada di kisaran Rp4 jutaan. Irna mengklaim pihaknya memiliki keunggulan karena dapat menghadirkan spesifikasi yang lebih unggul.

“Dengan harga yang sama dari kompetitor,” ujarnya.

Perlu Infrastruktur
Adanya program digitalisasi ini memang menuntut infrastruktur pendukung yang mumpuni. Utamanya tentu tersedianya jaringan internet.

Terhadap hal ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) mencanangkan program Konektivitas Digital 2021 melalui pengadaan Satelit Multifungsi Satelit Indonesia Raya (Satria-I).

Satelit Multifungsi Satria-I dilakukan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Proyek kerja sama dengan PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) itu menggunakan teknologi High Throughput Satellite (HTS) produksi Thales Alenia Space (TAS) dari Prancis, dengan rocket launcher produksi Space-X yaitu Falcon 9-5500 dari Amerika Serikat.

Adapun capital expenditure proyek ini sebesar US$545 juta, atau setara dengan Rp7,68 triliun.

Nilai dari proyek tersebut pun terdiri dari porsi ekuitas sebesar US$114 juta atau setara dengan Rp1,61 triliun, dan porsi pinjaman sebesar US$431 juta atau setara dengan Rp6,07 triliun.

Pinjaman tersebut didanai oleh sindikasi Bank Kredit Ekspor Perancis (BPI France) dan didukung oleh Banco Santander, HSBC Continental Europe, dan The Korea Development Bank (KDB). Porsi pinjaman komersial didanai oleh KDB dan bersama dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Data Kemenkominfo sendiri menunjukkan ada sebanyak 150.000 titik layanan publik yang belum tersedia akses internet dari total 501.112 titik layanan publik di Indonesia. Di antaranya 93.900 sekolah/pesantren dan 47.900 kantor desa/kelurahan. Dari adanya satelit ini, diproyeksikan setiap titik akan mendapatkan kapasitas dengan kecepatan sebesar 1 Mbp.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyatakan dalam Proyek Satria-I direncanakan memiliki 11 stasiun bum untuk mengawasi pergerakan Satelit Satria-I. 

Dengan kehadiran satelit Satria-I, titik-titik layanan publik yang belum tersentuh akses internet, bisa menikmati koneksi dunia maya. Tetapi, semua ini diharapkan baru dapat beroperasi pada kuartal III/2023.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA