Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|19:29 WIB

Semester I 2021, BCA Cetak Laba Bersih Rp14,5 Triliun

BCA memproses 41 juta transaksi per hari secara rata-rata pada semester I-2021, naik dari 28 juta di periode yang sama tahun lalu

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Faisal Rachman

ImagePresiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja saat memberikan paparan dalam Virtual Press Conference Paparan Kinerja Semester I-2021 BCA, Kamis (22/7). dok.BCA

JAKARTA – PT Bank Central Asia (Persero) Tbk atau BBCA mencatatkan pertumbuhan positif pada semester I-2021. Laba bersih perseroan tercatat Rp14,5 triliun, tumbuh 18,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (yoy) sebesar Rp12,24 triliun.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, tingginya kinerja pada periode ini sejatinya tak terlepas dari rendahnya laba bersih pada kuartal II-2020 yang tersengat pandemi.

"Laba bersih lebih rendah pada kuartal II-2020 lalu, dipengaruhi oleh tingginya tingkat biaya kredit (Cost of Credit) saat awal pandemi covid-19 di kuartal II tahun lalu. Biaya cadangan di kuartal II-2020 tercatat 32,4% lebih besar dibandingkan dengan kuartal II-2021," terang Jahja dalam Virtual Press Conference Paparan Kinerja Semester I-2021 BCA, Kamis (22/7).

Lebih lanjut, Jahja menjabarkan, capaian laba bersih pada paruh pertama tahun ini juga sejalan dengan tumbuhnya pendapatan bunga bersih BCA sebesar 3,8% yoy menjadi Rp28,3 triliun.

Di sisi lain, pendapatan non-bunga menurun tipis 1,2% yoy menjadi Rp10,2 triliun. Penurunan ini sebagai dampak dari one-off gain dari penjualan portofolio reksa dana yang dibukukan tahun lalu. Namun, ia menegaskan, sebagian besar dapat diimbangi oleh kenaikan pendapatan fee dan komisi.

Pendapatan fee dan komisi sendiri, naik 7,5% yoy. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan level pra-pandemi. Pendapatan ini terutama ditopang oleh pulihnya pendapatan fee dari transaksi perbankan seiring dengan peningkatan jumlah nasabah dan volume transaksi.

"Secara total, pendapatan operasional tercatat sebesar Rp38,5 triliun atau naik 2,4% dari tahun lalu," kata Jahja.

 

Pekerja menyemprotkan cairan disinfektan di gerai ATM BCA. dok. Antara Foto

 

Kinerja Kredit
Untuk kinerja kredit, total kredit stabil di angka Rp593,6 triliun pada Juni 2021. Didukung oleh segmen korporasi, KPR, dan kartu kredit. Kredit korporasi pun naik 1% yoy menjadi Rp260,4 triliun pada Juni 2021.

Pada periode yang sama, KPR turut meningkat 2,9% menjadi Rp93,6 triliun sebagai hasil dari pelaksanaan BCA Online Expoversary pada Maret 2021. Sebagian besar kredit tersebut memang dibukukan pada kuartal II tahun ini.

Selain itu, saldo outstanding kartu kredit juga berhasil mencatatkan rebound, naik 4,5% yoy menjadi Rp14 triliun. Akan tetapi, kredit komersial dan UKM terkoreksi 1% yoy menjadi Rp182,8 triliun. Hal ini dipengaruhi oleh perlambatan aktivitas bisnis. Sementara itu, KKB turun 13,4% yoy menjadi Rp36,8 triliun.

Adapun kinerja dana pihak ketiga (DPK) tetap kokoh, dimana CASA naik 21% yoy menjadi Rp697,1 triliun. Deposito berjangka juga meningkat 6,8% yoy mencapai Rp198,2 triliun. 

Secara keseluruhan, total dana pihak ketiga tumbuh 17,5% dari periode yang sama tahun lalu menjadi Rp895,2 triliun, sehingga mendorong total aset naik 15,8% yoy menjadi Rp1.129,5 triliun di akhir Juni 2021.

Dengan memanfaatkan basis nasabah yang besar, serta memperkuat ekspansi ekosistem digital, lanjut Jahja, BCA mampu mempertahankan kekuatan di segmen perbankan transaksi sebagai penggerak pendanaan CASA yang solid.

Sekadar informasi, BCA memproses 41 juta transaksi per hari secara rata-rata pada semester I-2021, naik dari 28 juta di periode yang sama tahun lalu. CASA juga berkontribusi sebesar 77,9% dari total dana pihak ketiga per Juni 2021.

Permodalan BCA tetap berada di posisi yang kokoh dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat sebesar 25,3%, lebih tinggi dari ketentuan regulator, serta kondisi likuiditas yang memadai dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 62,4%.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) terjaga sebesar 2,4% didukung oleh kebijakan relaksasi restrukturisasi.

"Pengelolaan loan at risk akan menjadi salah satu fokus BCA pada semester II tahun ini, mengingat pandemi yang diperkirakan masih akan berlanjut," ungkapnya.

Sedangkan rasio pengembalian terhadap aset (return on asset/ROA) tercatat sebesar 3,1%, dan rasio pengembalian terhadap ekuitas (return on equity/ROE) sebesar 16,6%.

 

Ilustrasi langkah-langkah penarikan tunai BCA melalui GoPay. (ANTARA/Gojek) 

 

Percepat Digitalisasi
Jahja menilai, pandemi telah mempercepat digitalisasi dalam banyak hal, termasuk dalam penyediaan layanan perbankan. Merespons hal ini, pihaknya telah melakukan sejumlah inisiatif. Salah satunya termasuk peluncuran tahap awal myBCA.

"Peluncuran tahap awal myBCA yang kami siapkan menjadi aplikasi pelayanan terintegrasi BCA di masa depan atau future apps. Tren digitalisasi ini akan terus berlanjut, seperti terlihat dari jumlah transaksi melalui mobile dan internet banking kami yang tumbuh secara eksponensial," ujarnya.

Hal ini, menurut dia, merupakan dinamika yang tidak dapat dihindari. Perseroan senantiasa membuka pintu kepada seluruh mitra bisnis untuk dapat bekerja sama di era kolaborasi.

Anak perusahaan yang dimiliki BCA, Bank Digital BCA juga baru saja meluncurkan aplikasi digital yang bernama “blu”. Peluncuran ini ditujukan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada segmen milenial dan digital savvy, serta menjawab tantangan kompetisi digitalisasi di segmen pasar generasi muda yang kini mendominasi demografi penduduk di Indonesia.

Sebagai tahap awal, blu mengeluarkan sejumlah produk tabungan kreatif, yaitu “bluAccount” untuk rekening transaksi utama. Kemudian “bluSaving” yang merupakan tabungan untuk berbagai macam kebutuhan dan “bluGether” sebagai tabungan bersama dengan nasabah lain.

“Layanan inter-bank transfer secara online dari rekening blu ke BCA, atau sebaliknya, dapat dilakukan secara aman dan mudah,” tutupnya.


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER