Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|18:08 WIB

PTPN XI Kembangkan Potensi Beras Pisang Di Lumajang

Produk olahan pisang ini bisa mengoptimalkan potensi pisang yang melimpah di Lumajang dan kerap terbuang percuma karena umur pisang yang pendek

Oleh: Faisal Rachman

ImageContoh beras pisang yang sudah diolah dan siap dimakan. dok.ANTARA/ PTPN XI

SURABAYA – PT Perkebunan Nusantara XI mengembangkan potensi beras pisang di Pusat Penelitian (Puslit) Sukosari, Lumajang, Jatim. Pengembangan ini dilakukan lantaran daerah itu dikenal penghasil pisang, serta sebagai upaya mendukung ketahanan pangan nasional.
 
"Kami mendukung ketahanan pangan nasional, baik melalui upaya peningkatan produktivitas tebu sebagai core business hingga pengembangan potensi yang dimiliki perusahaan. Termasuk beras pisang di Puslit Sukosari," kata Direktur PTPN XI, R. Tulus Panduwidjaja di Surabaya, Kamis (22/7) seperti dilansir Antara.
 
Tulus optimistis, pengembangan ini bisa menjadi salah satu komoditas, dan solusi bagi masalah pangan di Tanah Air. Sebab produk ini tidak hanya dapat dikonsumsi tetapi juga memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan.
 
"Dari hasil analisis salah satu laboratorium milik universitas negeri di Jember, beras pisang memiliki kandungan serat empat kali lebih banyak bila dibanding beras padi, juga memiliki kandungan protein dan lemak, serta baik untuk pencernaan," kata Tulus, dalam siaran persnya.
 
Manajer Penelitian Puslit Sukosari Lumajang Nanik Tri Ismadi mengatakan, keberadaan pisang di Lumajang sangat banyak. Harganya juga kerap kali turun. Bahkan, tidak sedikit yang terbuang karena rusak tidak laku terjual.
 
 "Untuk itu kami tawarkan konsep diolah menjadi beras pisang, sehingga nilai ekonomis bisa terangkat. Juga bisa untuk pengganti beras padi dan angkat potensi Lumajang," tuturnya.

Menurut hasil analisis, perbandingan kandungan beras padi dengan beras pisang masing-masing adalah persentase serat 0,48 dan 2,05. Kemudian persentase lemak 2,68 dan 2,44 dan persentase protein 7,39 dan 3,27.
 
Beras pisang merupakan produk olahan dari buah pisang segar yang sudah tua tetapi belum matang. Pisang tersebut kemudian diolah dengan sistem pemanasan, penghancuran dan pengeringan.

Proses ini menghasilkan bahan makanan pokok yang masih mempunyai nilai keunggulan buah pisang, yakni buah dengan kadar serat pangan tinggi, dan dapat menjadi salah satu alternatif makanan pokok pengganti nasi.

Waktu Simpan
Selain itu, produk olahan ini juga dapat disimpan dalam waktu tertentu sehingga dapat meningkatkan daya simpan buah pisang. Seperti diketahui, pisang mempunyai faktor pembatas, yaitu daya simpannya yang pendek.
 
Cara membuatnya, kata Nanik, juga sangat mudah sehingga bisa dilakukan siapa saja, terutama di masa saat ini dan bisa diproduksi massal.

“Caranya, pilih pisang yang sudah tua dan dibersihkan, dimasukkan dalam pemanas, autoklaf atau pengukus dengan suhu 90 derajat sampai 100 derajat celsius selama kurang lebih 25 menit terus angkat dan dinginkan," jelasnya.
 
Kemudian, kupas kulit pisang dan perkecil partikel pisang, seperti diparut lalu keringkan.
 
"Nah, bila mau dimasak tinggal kukus seperti menanak nasi, rasanya tidak kalah enak sama nasi padi. Yang kami tahu beras pisang ini merupakan temuan pertama kali, masih kami pertimbangkan untuk pengurusan patennya," katanya.
 
Nanik menyebutkan jenis pisang yang paling cocok digunakan untuk membuat beras pisang adalah pisang Berlin, Emas, Moseng, Triolin dan kapok Bali. Ke depan pihaknya akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk pengembangan beras pisang dan olahan pisang lainnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA