Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

BERITA

04 Mei 2021|16:27 WIB

Prospek Ekonomi Asia Positif, HBA Mei Dipatok US$89,74/ton

Permintaan konsumsi batubara China sepanjang kuartal I 2021 disebut-sebut mengalami lonjakan pesat, namun berbanding terbalik dengan hasil produksi domestik yang terus menipis

Penulis: Zsasya Senorita Mc Ramadhani,

Editor: Nadya Kurnia Kartika Sari

ImageFoto Ekspor Batu Bara/Jambi/Antarafoto

JAKARTA – Menteri ESDM Arifin Tasrif menetapkan Harga Batu Acuan (HBA) sebesar US$89,74 per ton pada perdagangan sepanjang Mei 2021. Besaran ini meningkat US$3,06 per ton dari bulan April sebelumnya, yakni US$86,68 per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi di Asia menjadi faktor utama atas kenaikan HBA di bulan Mei. 

"Ekonomi Asia mulai membaik pada kuartal I tahun 2021. Perubahan pergerakan ini masih didominasi dari (ekonomi) China," kata Agung dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (4/5).

Agung menambahkan, permintaan konsumsi batubara China sepanjang periode tersebut mengalami lonjakan pesat. Hal ini tak sebanding dengan hasil produksi domestik yang terus menipis. "Permintaan batubara banyak datang guna memenuhi kebutuhan pembangkit di China," jelasnya.

Tingginya kebutuhan batubara China, sambung Agung, turut memengaruhi kebijakan impor negara tersebut. Pasalnya, China Electricity Council (CEC) memperkirakan konsumsi listrik tahun 2021 ini naik 7–8% dibanding tahun 2020. Selanjutnya pemerintah China pun melakukan relaksasi impor sehingga turut mengerek harga batubara global.

Berdasarkan data Refinitiv, sepanjang minggu lalu harga kontrak batubara ICE Newcastle naik lebih dari 6%. Pada akhir perdagangan pekan lalu, bahkan harga batubara thermal acuan semakin mendekati US$392 per ton.

Naiknya HBA periode Mei 2021 menjadi harapan banyak pihak, setelah HBA bulan sebelumnya turun US$3,3 per ton. Padahal sebelum April 2021, harga batubara telah kembali pulih atau rebound selama empat bulan setelah mengalami tekanan akibat pandemi covid-19 pada hampir sepanjang 2020.

Kementerian ESDM mencatat, rerata HBA pada 2020 hanya sebesar US$58,17 per ton dan menjadi yang terendah sejak 2015.

Secara spesifik, Agung merinci, harga batubara dibuka pada angka US$65,93 per ton pada Januari 2020. Sempat menguat sebesar 0,28% di angka US$67,08 per ton pada Maret dibanding Februari yang sebesar US$66,89 per ton. Namun melorot pada April menjadi US$65,77, kemudian US$61,11 pada Mei, US$52,98 pada Juni, US$52,16 pada Juli, hingga menyentuh angka US$50,34 pada Agustus.

“Puncaknya ada di September 2020, dimana harganya hanya US$49,42 per ton,” ungkap Agung.

Namun harga batubara kembali pulih mulai Oktober 2020 dengan HBA di level US$51 per ton, dan naik lagi pada November 2020 dengan harga US$55,71 per ton. Selanjutnya, pada Desember 2020 dan Januari 2021, HBA terkerek lebih tinggi lagi ke angka US$59,65 per ton dan US$75,84 per ton.

“Setelah hampir setengah tahun mengalami reli, HBA terjadi koreksi,” tandas Agung.

Sebagai informasi, perubahan HBA diakibatkan juga oleh faktor turunan pasokan dan faktor turunan permintaan. Untuk faktor turunan pasokan dipengaruhi oleh cuaca (season), teknis tambang, kebijakan negara pemasok, hingga teknis di rantai pasok seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan permintaan dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, serta kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Di samping faktor pasokan dan permintaan, perhitungan nilai HBA juga diperoleh dari rata-rata empat indeks harga batubara dunia, yaitu Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), Indonesia Coal Index (ICI), dan Platts 5900 pada bulan sebelumnya. Hitungan HBA pun berlaku untuk batubara dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6.322 kcal per kilogram GAR.

Nilai HBA bulan Mei ini akan dipergunakan pada penentuan harga batubara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel) selama sebulan. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA