Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

07 Juli 2021|20:24 WIB

PP Terbit, PNM Optimistis Pemberdayaan UMi Makin Masif

Melalui landasan hukum Holding Umi, PNM memperoleh hak-hak khusus seperti BUMN meski posisinya sebagai anak usaha BRI bersama Pegadaian.

Penulis: Zsasya Senorita,

Editor: Fin Harini

ImageIlustrasi usaha mikro. Industri rumahan roti di kawasan Petamburan, Jakarta, Rabu (7/7/2021). ANTARAFOTO/M Risyal Hidayat

JAKARTA – Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM Arief Mulyadi optimistis, penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Holding Ultra Mikro (Umi) akan memacu pemberdayaan usaha kian massif. Sekaligus mendorong komitmen perseroan meningkatkan penerapan prinsip environmental, social, and governance atau ESG.

Arief menjelaskan, integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding UMi diarahkan untuk mengefektifkan dan mengefisienkan proses pemberdayaan eksisting.

Penyatuan sumber daya, kapasitas, dan kapabilitas ketiga entitas BUMN tersebut juga bertujuan memberikan nilai tambah dan manfaat yang lebih besar bagi para pelaku Ultra Mikro dan UMKM. Meliputi bunga atau margin yang lebih efisien, layanan yang lebih tinggi, dan peluang pengembangan usaha yang semakin besar.

“Kalau bersama-sama itu bisa lebih baik lagi. ESG akan dapat ditingkatkan lagi. Ini sosialnya jauh lebih kuat, dan hal lain seperti aspek lingkungan dan tata kelola yang baik tentu akan mengikuti,” terang Arief secara tertulis, Rabu (7/7).

Holding Ultra Mikro yang resmi hadir dengan terbitnya beleid itu, menurut Arief akan meningkatkan pemberdayaan usaha di segmen ultra mikro yang semakin masif. Harapannya ketimpangan di tengah masyarakat dapat lebih ditekan pada masa datang.

Saat ini, Arief menyatakan target PNM berjalan seperti biasa dan sedikit demi sedikit akan dinaikan secara target dan pengembangan ke depan.

“Untuk sementara, sampai tuntas semua proses, target dan rencana bisnis tahun ini masih menggunakan target semula. Namun, diharapkan dan terus diupayakan ada peningkatan pencapaian, dan yang pasti kerja keras ini harus terus menerus dilakukan secara bersama-sama. Sehingga proses semakin terstruktur, tidak tumpang tindih, tepat guna dan tepat sasaran,” jelasnya.

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo telah meneken Peraturan Pemerintah No 73 Tahun 2021 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BRI pada Jumat (2/6) lalu.

Payung hukum tersebut diterbitkan sebagai bentuk perwujudan visi pemerintah untuk meningkatkan aksesibilitas layanan keuangan segmen ultra mikro, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024.

Sesuai PP tersebut, holding terdiri atas tiga entitas BUMN yakni BRI selaku induk holding, PT Pegadaian (Persero), dan PT PNM (Persero). 

Mengutip Pasal 4b PP Nomor 73 Tahun 2021 disebutkan bahwa Perusahaan Perseroan (Persero) PT Bank Rakyat Indonesia Tbk menjadi pemegang saham PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani.

Beleid dimaksud, mengatur hak istimewa bagi PNM, di mana perseroan sebagai anggota holding akan memperoleh hak-hak khusus seperti BUMN, meski statusnya berubah menjadi anak perusahaan atau anggota holding.

Dalam pasal 6b PP No.73/2021 disebutkan bahwa PP No.73/2021 ini secara otomatis mencabut PP No.38/1998 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Untuk Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) Dalam Rangka Pengembangan Koperasi, Usaha Kecil Dan Menengah yaitu PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Beberapa bulan setelah didirikan, melalui Kep Menkeu No. 487 KMK 017 tanggal 15 Oktober 1999, sebagai pelaksanaan dari Undang-Undang No.23 Tahun 1999, PNM ditunjuk menjadi salah satu BUMN Koordinator untuk menyalurkan dan mengelola 12 skim Kredit program dari 16 skim Kredit Program yang semula dikelola oleh Bank Indonesia (Bank Sentral).

Selanjutnya dalam Pasal 5 ayat 2 PP No.73/2021 disebutkan PNM tetap menjalankan hak sebagai lembaga keuangan khusus, dalam menyelenggarakan jasa pembiayaan termasuk kredit program dan jasa manajemen untuk pengembangan koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah.

Selain itu, dalam pasal tersebut juga dikatakan PNM pun memiliki hak khusus menjalankan kegiatan usaha lainnya guna menunjang usaha-usaha tersebut. Terkait hal itu Arief pun semakin optimistis pemberdayaan usaha ultra mikro oleh pihaknya akan semakin masif. Bahkan diyakini akan semakin kompetitif karena dengan integrasi bunga pembiayaan bisa menjadi lebih efisien.

Secara internal, lanjut dia, membuat likuiditas di dalam holding dapat dikelola lebih presisi. Hal itu bisa menekan cost of fund PNM dan pemberdayaan yang dilakukan perseroan bisa lebih masif.

Di samping itu, integrasi data pun akan membuat pemberdayaan UMKM menjadi lebih kuat, khususnya dalam mendorong segmen usaha ultra mikro naik kelas.

“Kesempatan pelaku usaha ultra mikro berintegrasi dengan pelaku usaha kecil, menengah, hingga komersial akan lebih terbuka lagi,” imbuh Arief.

Sebagai informasi, year to date hingga 31 Juni 2021 PNM telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp21,33 triliun kepada nasabah PNM Mekaar yang berjumlah 9,8 juta nasabah. Saat ini PNM memiliki 2.916 kantor layanan Mekaar dan 688 kantor layanan ULaMM di seluruh Indonesia yang melayani UMK di 34 Provinsi, 440 Kabupaten/Kota, dan 5.006 Kecamatan.

Perlu diketahui pula, berdasarkan Pasal 1 ayat 2 PP Nomor 73 Tahun 2021, bahwa penambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) dilakukan melalui pengambilan bagian secara penuh hak Negara RI terhadap saham baru yang diterbitkan Perusahaan Perseroan (Persero) BRI Tbk melalui hak memesan efek terlebih dahulu kepada seluruh pemegang saham berdasarkan ketentuan pasar modal.

Penambahan penyertaan modal negara dimaksud, berasal dari pengalihan seluruh saham Seri B milik Negara pada Pegadaian dan PNM. Dengan pengalihan saham Seri B sebagaimana dimaksud Pasal 2, Negara melakukan kontrol terhadap Pegadaian dan PNM melalui kepemilikan saham Seri A Dwi Warna dengan kewenangan sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA