Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

BERITA

04 Mei 2021|14:40 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I/2021 Diramal Masih Negatif

Pertumbuhan ekonomi kuartal I/2021 diproyeksi berada di kisaran -0,6%

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Nadya Kurnia Kartika Sari

ImageSuasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. ANTARAFOTO/Hafidz Mubarak A

JAKARTA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kementerian PPN/Bappenas memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I/2021 masih berada di level negatif, yakni -0,6 hingga -0,9%.

"Kuartal I diperkirakan pertumbuhan ekonomi masih terkontraksi pada sekitar 0,6-0,9 yoy," kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta, Selasa (4/5).

Lebih lanjut, Suharso bilang, perlunya mencermati perkembangan ekonomi China dalam satu tahun terakhir. Menurutnya, China merupakan salah satu contoh negara yang ekonominya pulih dengan cepat pascapandemi.

Pemulihan ekonomi China, sambungnya, sudah terjadi sejak kuartal II/2020 dan bahkan sudah mengalami rebound pada kuartal I/2021 dengan tumbuh sebesar 18,3%.

"Kunci pemulihan ekonomi China yang tepat yang amat cepat ini adalah karena keberhasilannya dalam mengendalikan penyebaran virus covid-19," kata Suharso.

Sementara, di Tanah Air, ia menambahkan, upaya pemulihan dari dampak pandemi akan terakselerasi pada kuartal II sehingga seiring kasus covid-19 yang mulai terkendali, maka ekonomi nasional diproyeksikan pulih dan tumbuh positif pada kuartal II/2021.

Ia juga mengatakan, Indonesia mesti bisa mengendalikan pandemi covid-19 di dalam negeri jika ingin mendorong pemulihan ekonomi nasional lebih cepat.

"Dengan demikian apabila kita dapat mengatasi dan mengendalikan mudah-mudahan kepercayaan publik terhadap kondisi kesehatan akan meningkat dan mendorong pemulihan ekonomi," ujarnya.

Senada, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2021 masih terkontraksi -0,6%.

"Estimasi di kisaran -0,8% hingga -0,4%; diperkirakan mencapai 4,4% hingga 4,8% untuk keseluruhan tahun 2021," katanya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa (4/5).

Ia menjelaskan, proses pemulihan ekonomi Indonesia akan terdiri dari tiga tahapan, yaitu kontraksi ekonomi yang mendalam, ekspansi awal, dan pemulihan total ekonomi.

Kontraksi ekonomi yang mendalam atau tahap pertama dicirikan dengan penurunan tajam dari aktivitas ekonomi. Indonesia mengalami tahap ini pada kuartal I dan kuartal II/2020 dengan pertumbuhan ekonomi mencapai -5,32% yoy di kuartal II/2020, atau mencapai tingkat terendah dalam beberapa dekade terakhir.

Fase ekspansi awal terjadi pada kuartal III dan kuartal IV/2020. Fase ini dicirikan dengan perbaikan aktivitas ekonomi pasca dilonggarkannya PSBB Jilid I.

Sementara, fase ketiga dari pola pemulihan ekonomi adalah fase dalam mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi normal di jangka panjang.

"Indonesia dianggap telah memasuki tahap ini (2021 ke depan). Tantangan utamanya adalah untuk mencapai tingkat pertumbuhan tersebut dalam waktu yang sesingkat mungkin," ujar Riefky.

Lebih lanjut, untuk kembali ke tingkat pertumbuhan sebelum pandemi, Indonesia dinilai menghadapi tantangan dalam proses vaksinasi dan penyebaran virus covid-19 di jangka pendek.

Selain itu, risiko ‘taper-tantrum’ dan mandat untuk mengembalikan defisit APBN pada 2023 dalam jangka menengah, dan tantangan untuk melakukan reformasi struktural di jangka panjang juga disebut menjadi tantangan lain.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA