Selamat

Sabtu, 23 Oktober 2021

01 Mei 2021|09:26 WIB

Pertanian Cerdas Pikat Pemuda Gabung Sektor Pertanian

Kegiatan penyiraman, pemupukan dan monitoring lahan dapat diakses jarak jauh melalui smartphone

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

ImageIlustrasi. Panen sayuran yang ditanam secara hidroponik di Ponpes Al-Ghazaly, Cimanggu, Bogor, Jawa Barat, Minggu (21/2). ANTARAFOTO/Arif Firmansyah

BANDUNG – Penggunaan teknologi dan pemasaran sayuran ke luar negeri oleh Kelompok Tani Serenity Farm, diharapkan meningkatkan animo pemuda tergabung di sektor pertanian. Dengan demikian, mendorong regenerasi, sekaligus mengurangi jumlah petani perambah hutan.

“Selain ingin menghasilkan komoditas pertanian yang bersih dan sehat, kami juga ingin menumbuhkan SDM petani milenial sehingga mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat seperti nongkrong,” ujar Ketua kelompok tani Serenity Farm Ade Rukmana melalui siaran pers, Jumat (30/4). 

Sebagai informasi, mayoritas petani utama dari rumah tangga usaha pertanian berusia 45-54 tahun. Berdasarkan Hasil Survei Pertanian Antar Sensus atau SUTAS 2018, jumlah rumah tangga usaha pertanian dengan petani utama di kelompok usia tersebut mencapai 7,81 juta. Atau, 28,22% dari total rumah tangga usaha pertanian 27,68 juta.

Kelompok usia dominan berikutnya adalah 35-44 tahun, dengan jumlah petani utama 6,68 juta atau 24,16%. Disusul kelompok usia 55-64 tahun dan di atas 65 tahun, masing-masing 6,1 juta dan 3,8 juta. 

Kelompok usia yang lebih muda, yakni 25-34 tahun, berjumlah 2,94 juta. Terakhir, kelompok termuda di bawah 25 tahun menyumbang paling sedikit petani utama, dengan jumlah 273.839 orang.

Dari survei yang sama, BPS menyebutkan di Jawa Barat, kondisi serupa juga terjadi. Dari total rumah tangga usaha pertanian 3,25 juta, jumlah yang memiliki petani utama berusia 45-54 tahun sebanyak 934.356 atau 28,74%. Sementara, kelompok lebih muda, yakni 25-34 tahun dan di bawah 25 tahun masing-masing berada di urutan 5 dan 6. Dengan sumbangan masing-masing 269.886 orang dan 23.060 petani. 

Poktan Serenity Farm yang terletak di Desa Cibodas, Lembang, sukses mengembangkan pertanian cerdas dengan penerapan teknologi. Hasilnya, kelompok tani ini sukses membudidaya baby buncis Kenya yang diekspor ke Singapura. Selain itu, ada horenzo, beetroot dan tomat beef yang dipasarkan di Bandung dan Jakarta. 

Penerapan smart farming bermula dari keinginan Ade memiliki sistem pertanian modern di wilayahnya. Hanya saja, ada tantangan kesulitan air. Setidaknya, jarak sumber air ke lahan petani cukup jauh sekitar 2,8 km, sehingga perlu bantuan pipanisasi. 

Mendengar hal itu, Diskominfo Jabar yang menggandeng startup Habibi Garden menawarkan solusi bagi poktan. Solusi tersebut pun akhirnya dimaksimalkan seluruh pihak sebagai lahan percontohan desa digital dengan menerapkan smart farming berbasis teknologi IoT. 

Teknologi tersebut memberi kemudahan bertani dengan aplikasi di smartphone. Dengan teknologi Habibi Garden usaha tani yang dijalankan di Serenity Farm menjadi lebih efektif dan efisien. 

"(Akhirnya), kegiatan penyiraman, pemupukan dan monitoring lahan dapat diakses jarak jauh melalui smartphone. Selain itu, teknologi ini juga dapat menghemat pemakaian air dan nutrisi karena penyiraman dan pemupukan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang terinfo dalam aplikasi," jelas Ade. 

Keberhasilan proyek membuat penggunaan air dan pupuk tak terbuang percuma. Bahkan, pemakaian air pun diklaim bisa hemat hingga 60%.

Teknologi tersebut juga mampu memberikan informasi mengenai kondisi lahan optimal untuk setiap komoditas, informasi kondisi riil lahan sejak kegiatan penanaman hingga panen, serta dapat memprediksi waktu dan kuantitas panen. 

Sistem atau instrumen yang dibangun dalam teknologi Habibi Garden adalah sistem rekayasa lingkungan seperti monitoring kondisi suhu, pH tanah dan lainnya.

Rangkaian instrumen tersebut dapat dipilih sesuai dengan jenis tanaman hortikultura yang ingin dibudidayakan. Terdapat 20 jenis tanaman hortikultura pada menu aplikasi; terdiri dari cabai, buncis, tomat, paprika dan lainnya.

Sistem smart farming dapat berjalan dengan prasyarat memenuhi empat hal yakni; ketersediaan air, listrik, internet dan sosial. Dengan kemiringan lahan maksimal 11 derajat.

“Saya optimis anak muda akan semakin tertarik bertani dengan adanya teknologi ini. Memang biaya teknologi ini cukup mahal sehingga perlu integrasi program dan kegiatan lintas kementerian dan lembaga untuk mereplikasi smart farming ini,” ujarnya. 

Berdayakan Petani
Untuk memenuhi permintaan pasar, poktan bekerja sama dengan Dompet Dhuafa yang akan memberikan dukungan dalam pembibitan dan pemupuka untuk mitra petani. 

Sinergi Serenity Farm dan Dompet Dhuafa juga memberdayakan petani yang tidak memiliki lahan melalui program Desa Tani. Petani perambah hutan dan buruh tani bisa bertani sendiri dengan bantuan modal pembiayaan kebun dan penyewaan lahan.

“Saat ini, sudah terdapat tiga Desa Tani dengan luas kurang lebih 3 hektare per desa. Dari tiap luasan per desa dibagi menjadi 20 blok dan digarap per minggu oleh dua orang,” sambung Ade.

Di lapangan, keberadaan Serenity Farm di Desa Cibodas juga membantu mitra petani di sisi kepastian harga. Sebab poktan sudah memiliki pasar tetap, begitu pula dengan menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas komoditas sehingga menjamin mitra petani.

Kementerian Pertanian merespon positif pelaku usaha di bidang teknologi-informasi atau IT yang memasuki dunia pertanian. Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengakui, pertanian berteknologi dapat memudahkan petani dalam berbudidaya secara lebih efisien. 

Langkah itu juga sekaligus mendorong anak muda untuk terjun ke dunia pertanian. Karena itu, dirinya sangat mengapresiasi petani muda yang mampu menguasai teknologi pertanian.

“Hortikultura Indonesia akan semakin maju dan modern dengan hadirnya petani milenial yang mampu menguasai smart farming untuk peningkatan efisiensi produksi, kualitas dan kontinuitas produk-produk hortikuktura,” ujar Prihasto. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA