c

Selamat

Senin, 27 Mei 2024

EKONOMI

20 September 2023

20:07 WIB

Peran Pelindo dan Era Baru Biaya Logistik untuk Indonesia Emas 2045

Pelindo dinilai memiliki peran penting untuk menekan biaya logistik untuk menuju Indonesia Emas 2045.

Penulis: Rheza Alfian

Editor: Fin Harini

Peran Pelindo dan Era Baru Biaya Logistik untuk Indonesia Emas 2045
Peran Pelindo dan Era Baru Biaya Logistik untuk Indonesia Emas 2045
Foto udara aktivitas bongkar muat di dermaga peti kemas PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) Kendari, Sulawesi Tenggara. Antara Foto/Jojon

JAKARTA - Pelabuhan, sering dianggap sebagai pintu gerbang ekonomi suatu negara, sehingga memainkan peran yang sangat vital dalam pertumbuhan industri dan ekonomi. 

Sebagai pusat transportasi laut utama, pelabuhan menghubungkan negara dengan pasar global. Pelabuhan yang efisien dan terkelola dengan baik dapat mengurangi biaya logistik, mempercepat pengiriman barang, dan menguntungkan industri lokal.

Pelabuhan juga berperan sebagai titik masuk bagi investasi asing dan teknologi baru. Dengan menarik investasi dan memfasilitasi perdagangan internasional, pelabuhan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk terus mengembangkan infrastruktur pelabuhan, memastikan keamanan, dan meningkatkan efisiensi operasionalnya. Dengan demikian, pelabuhan akan tetap menjadi tulang punggung ekonomi yang kuat bagi negara dan mendorong pertumbuhan industri yang berkelanjutan.

Salah satu upaya pemerintah untuk memaksimalkan peran pelabuhan yakni dengan melakukan penggabungan PT Pelindo I, III, dan IV (Persero) ke dalam PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) yang kemudian berganti menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau disingkat Pelindo.

“Penggabungan BUMN layanan kepelabuhan diharapkan dapat mewujudkan industri kepelabuhanan nasional yang lebih kuat melalui konektivitas maritim di seluruh Indonesia, sehingga dapat membantu menurunkan biaya logistik nasional secara bertahap, serta meningkatkan kinerja dan daya saing BUMN kepelabuhanan di tingkat global,” ujar Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Arif Suhartono dua tahun silam.

Merger Pelindo disebut membuka kesempatan perusahaan untuk go global. Integrasi ini dinilai akan meningkatkan posisi Pelindo menjadi operator terminal peti kemas terbesar ke-8 di dunia dengan total throughput peti kemas sebesar 16,7 juta TEUs. Penggabungan ini juga menyatukan sumber daya keuangan, peningkatan leverage dan memperkuat permodalan perusahaan.

Era Baru Biaya Logistik untuk Indonesia Emas 2045
Di Indonesia, biaya logistik yang tinggi masih menjadi isu krusial yang membebani perekonomian nasional. Karena itu pemerintah terus mengupayakan efisiensi beban biaya logistik. Targetnya, biaya logistik Indonesia bisa ditekan menjadi 8-9% terhadap produk domestik bruto (PDB) menuju Visi Indonesia 2045.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, beban biaya logistik nasional masih tercatat sebesar 14,29% terhadap PDB pada 2022. Sebagai perbandingan, rasio ini sempat menurun dari 18,77% di 2015 menjadi 13,36% di 2021.

“Tentu ini menjadi pedoman bagi pemerintah dan kita minta angkanya diperbaiki. Pak Menteri Bappenas minta angka 9%, itu tidak good enough, dan minta targetnya menjadi 8%. Jadi ini kesimpulan rapat bertiga (Kemenko Ekonomi, PPN/Bappenas, dan BPS),” sebutnya dalam agenda Era Baru Biaya Logistik untuk Indonesia Emas 2045, Jakarta, Kamis (14/9).

Pemerintah juga terus berkomitmen meningkatkan kinerja logistik nasional melalui berbagai kebijakan. Salah satunya, melalui implementasi National Logistics Ecosystem (NLE), sebagai bentuk sinergi dan kolaborasi sistem informasi antar instansi dan pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional.

Karena itu, Airlangga mendukung penuh target implementasi NLE yang penerapannya diperluas ke 32 pelabuhan laut dan 6 bandara untuk tahun 2023. Ia berharap, koordinasi antar pihak juga dapat dilakukan untuk mencapai target penurunan beban biaya logistik terhadap PDB.

Saat ini, hasil evaluasi implementasi menunjukkan beberapa penerapan rencana aksi NLE sudah memberikan dampak positif. Seperti Single Submission Pabean Karantina (SSm QC) yang berhasil mengefisiensi waktu hingga 22,37%, serta menghemat biaya sebesar 33,48% atau mencapai Rp191,32 miliar.

Baca Juga: Pemerintah Bidik Biaya Logistik Nasional Turun Ke Level 8-9%

Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memandang upaya pemerintah untuk menekan ongkos logistik sedikit demi sedikit berbuah manis. Ini terlihat dari pembangunan beragam infrastruktur yang terkoneksi dan transformasi institusi yang dinilai mempunyai peran penting dalam mempengaruhi ongkos logistik itu sendiri.

“Sehingga tentu kita bisa lihat hasilnya di tahun 2022 yang dikatakan ongkos logistik mengalami penurunan jika dikomparasikan dengan kondisi di 2014 lalu,” kata Peneliti Senior Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet kepada Validnews di Jakarta, Rabu (20/9).

Menurut Yusuf, apa yang telah dilakukan pemerintah merupakan modal yang baik untuk mencapai target penurunan ongkos logistik menjadi 8-9% terhadap PDB pada 2045 nanti.

Ia menuturkan, peluang untuk tercapainya target tersebut sebenarnya relatif terbuka. Tentu dengan catatan, dalam beberapa tahun ke depan pemerintah terus melanjutkan pembangunan infrastruktur yang sifatnya terkoneksi satu sama lain.

Yang perlu dilakukan pemerintah, lanjutnya, ialah memastikan infrastruktur yang terbangun saat ini bisa terkoneksi satu sama lain dan penggunaan teknologi terutama pada infrastruktur yang berkaitan dengan logistik.

“Katakanlah pelabuhan dan juga bandara maupun warehouse, bisa menjadi beberapa cara yang kemudian bisa mempengaruhi angka logistik di tahun-tahun mendatang,” ucap Yusuf.


Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di kawasan Pelabuhan Pelindo II, Tanjung Priok, Jakarta, S elasa (15/11/2022). Antara Foto/Muhammad Adimaja 

 


Menanti Peran Pelindo
Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan, setelah dua tahun pascamerger, Pelindo telah melakukan peningkatan kinerja kepelabuhanan yang berdampak terhadap penurunan biaya logistik. 

Menurutnya, Pelindo berhasil meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses-proses kepelabuhanan yang berpengaruh antara lain terhadap pengurangan waktu berth turn around. 

“Hal ini akan berdampak terhadap peningkatan waktu siklus kapal berlayar dan penghematan biaya operasional karena waktu sandar kapal yang lebih singkat,” katanya kepada Validnews di Jakarta, Rabu (20/9).

Selain itu, peningkatan kinerja Pelindo juga dapat dilihat dari kondisi sebelum transformasi yakni pada 2019 dan setelah transformasi yaitu pada 2022 hingga saat ini.

Setiaji, yang mengutip data dari Pelindo menuturkan produktivitas box ship hour (BSH) di beberapa pelabuhan semakin meningkat. Di Pelabuhan Belawan misalnya, BSH meningkat dari 20 menjadi rata-rata 38. Di Makassar dari 20 menjadi rata-rata 34, dan di Sorong dari 10 menjadi rata-rata 25 pada periode tersebut.

Sementara vessel port stay hours mengalami penurunan dalam periode itu. Di Pelabuhan Belawan misalnya, vessel port stay hours turun dari 55 jam menjadi rata-rata 32 jam. Di Makassar dari 38 jam menjadi rata-rata 22 jam, dan di Sorong dari 72 jam menjadi rata-rata 24 jam.

Selain itu, terjadi peningkatan kinerja Pelindo operasional lainnya pada tahun 2020-2022. 

“Kinerja arus kapal dari 1.043 juta GT menjadi 1.202 juta GT, arus peti kemas dari 14,03 juta TEUs menjadi 17,22 juta TEUs, dan arus barang dari 133,8 juta ton menjadi 160,0 juta ton,” tutur Setiaji.

Peneliti Senior Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet melihat beberapa tahun ke depan peran Pelindo dalam menekan biaya logistik baru akan terlihat lebih nyata.

“Dalam beberapa tahun ke depan saya kira faktor dari merger Pelindo justru akan menjadi tambahan dari penurunan ongkos logistik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peningkatan penggunaan teknologi di pelabuhan akan ikut menjadi andil dalam penurunan ongkos logistik di masa mendatang. Menurutnya, Pelindo lah yang bisa mengambil peran dalam hal transformasi ini.

Sebab, merger dinilai akan meningkatkan efisiensi dari perusahaan yang bermuara pada investasi peningkatan kapasitas teknologi pelabuhan.

“Jika ini dilakukan secara konsisten maka besaran faktor pendorong dari merger Pelindo terutama di masa mendatang itu akan lebih bisa berdampak terhadap penurunan ongkos logistik.,” kata Yusuf.

Baca Juga: Pasca Merger, Pelindo Efisiensi Rp1,3 Triliun

Lebih lanjut, hal yang juga perlu diperhatikan adalah mengkoneksikan akses dari pelabuhan ke pengantaran ataupun transportasi yang sifatnya cepat misalnya akses ke pelabuhan ke stasiun kereta yang mengangkut beragam kebutuhan logistik.

Yusuf beranggapan, semakin dekat atau mudah akses pelabuhan ke akses transportasi seperti kereta juga akan berdampak terhadap penurunan ongkos logistik.

Selain itu, karena pengelolaan Pelindo berpotensi lebih efisien di tahun mendatang, faktor sumber daya manusia (SDM) juga dinilai menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Yusuf bilang, diperlukan SDM yang cakap dalam mengoperasikan pelabuhan.

Ke depannya, Yusuf mengatakan arus perdagangan dari luar negeri ke Indonesia masih akan relatif besar sehingga peran pelabuhan tentu menjadi esensial.

“Sehingga nanti peran Pelindo akan menjadi lebih strategis terutama dalam pendukung harga ataupun ongkos logistik, semakin efisien nanti Pelindo dalam beroperasi maka itu seharusnya bisa membuka peluang untuk menurunnya ongkos logistik ke level yang lebih rendah,” katanya.

Ia menekankan, jika bicara logistik, tentu Pelindo tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi Pelindo dengan berbagai institusi lain perlu diakomodir pemerintah sehingga secara komprehensif biaya logistik yang dipengaruhi oleh beberapa faktor tidak hanya dari sisi pelabuhan itu bisa ditekan sesuai dengan target yang ingin dicapai oleh pemerintah.

Pelindo Saat Ini
Direktur Utama Pelindo Arif Suhartono dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (20/9) menyatakan upaya transformasi yang dilakukan oleh perseroan turut berperan dalam menekan biaya logistik di Indonesia.

"Penggabungan Pelindo telah menciptakan sinergi dan transformasi antarentitas sehingga pengelolaan pelabuhan dapat dilakukan secara tersentralisasi, serta lebih optimal,” katanya.

Bank Dunia mencatat biaya logistik di Indonesia mencapai 23,8% pada 2018. Sementara itu, berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), biaya logistik di Indonesia pada 2023 mencapai 14,1%. Sedangkan biaya logistik untuk kegiatan ekspor mencapai 8,98% dari PDB.

Ia mengatakan, biaya logistik yang jauh lebih rendah dibandingkan pada 2018 tersebut salah satunya berkat peran transformasi yang dilakukan perseroan.

Arif mengungkapkan beberapa langkah yang telah dilakukan pihaknya antara lain memperpendek waktu sandar (port stay) dan masa tinggal kontainer di terminal (cargo stay), menyatukan sistem pelayanan dan pembayaran melalui aplikasi online dan digital.

Tujuannya adalah untuk mengefisienkan operasional di pelabuhan, yang pada akhirnya akan menguntungkan Pelindo dan para pengguna jasa kepelabuhanan dan terminal.

Menurut dia, hasil transformasi tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan kinerja operasional. Arus peti kemas pada 2022 mencapai 17,2 juta TEUS, naik 1% dibandingkan periode yang sama pada 2021.

Jumlah arus barang yang terealisasi mencapai 160 juta ton, tumbuh 9% dari 2021.

Selanjutnya, total arus kapal yang dilayani Pelindo mencapai 1,2 miliar GT, naik 1%, sedangkan jumlah penumpang tumbuh 86% menjadi mencapai 15 juta orang.

Ia menambahkan, proses transformasi melalui efisiensi dan optimalisasi sumber daya berhasil membukukan laba bersih Rp3,9 triliun (audited) pada 2022, naik 23% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kontribusi Pelindo kepada negara pada 2022 juga meningkat, yakni mencapai Rp7,2 triliun atau lebih tinggi 54% dibandingkan tahun sebelumnya yang baru Rp4,7 triliun.

Transformasi Pelindo juga berdampak positif pada penurunan biaya logistik dan meningkatkan pelayanan di pelabuhan yang semakin efisien. 

PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) memuji pelayanan Pelindo yang cepat dan efisien, meski tak semua pelabuhan mendapat tambahan peralatan.  

“Di Sorong, misalnya, dulu hari Minggu tidak ada yang bekerja, sekarang sejak pagi pun bisa bongkar muat. Ini luar biasa,” kata Perwakilan SPIL Bambang Gunawan dari dalam suatu kesempatan.  

Saat ini SPIL mengoperasikan enam kapal kargo dengan kapasitas antara 1.000-1.500 peti kemas, untuk pelayaran long haul dari Belawan ke Pekanbaru, lalu ke Jakarta, kemudian menyusuri Surabaya, Makassar, Ambon, Sorong dan berakhir di Jayapura.  

“Dulu, waktu tempuh biasanya 42 hari, sekarang cukup 36 hari. Dengan begitu, biaya operasi SPIL bisa ditekan jauh lebih rendah,” kata Bambang.



KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentarLoginatauDaftar