Pendapatan Per Kapita Turun, Kemenkeu: Tak Terhindarkan | Validnews.id

Selamat

Jumat, 26 November 2021

08 Juli 2021|17:28 WIB

Pendapatan Per Kapita Turun, Kemenkeu: Tak Terhindarkan

Pandemi telah menyebabkan penurunan pendapatan per kapita Indonesia.

Oleh: Fin Harini

Pendapatan Per Kapita Turun, Kemenkeu: Tak TerhindarkanIlustrasi dampak pandemi. Suasana salah satu pusat perbelanjaan di Medan, Sumatra Utara, Rabu (7/7/2021). ANTARAFOTO/Fransisco Carolio

JAKARTA - Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu memastikan pemerintah terus mengeluarkan langkah-langkah responsif untuk mengatasi dampak pandemi covid-19, sehingga pemulihan ekonomi dapat terjadi lebih cepat.

"Pemerintah akan fokus melakukan berbagai langkah yang responsif agar pandemi dapat semakin terkendali dan langkah pemulihan ekonomi dapat terus berjalan," katanya di Jakarta, Kamis (8/7), dilansir dari Antara.

Terlebih lagi, pandemi telah menyebabkan penurunan pendapatan per kapita Indonesia dari US$4.050 pada 2019 menjadi US$3.870, sehingga masuk kategori negara berpendapatan menengah bawah atau lower middle income country.

"Penurunan pendapatan per kapita Indonesia merupakan sebuah konsekuensi yang tidak terhindarkan," ujarnya.

Febrio mengatakan pemerintah konsisten menggulirkan kebijakan yang berfokus pada upaya penguatan perlindungan sosial dan dukungan bagi dunia usaha, termasuk program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Menurutnya, perlindungan sosial dalam program PEN telah efektif dalam menjaga konsumsi kelompok masyarakat termiskin pada saat pandemi.

Upaya tersebut membuat masyarakat miskin dan rentan tetap mendapatkan perlindungan yang layak di tengah penurunan tingkat pendapatan per kapita secara agregat.

Ia menambahkan, tingkat kemiskinan pun mampu dikendalikan menjadi 10,19% pada September 2020. Tanpa program PEN, diestimasikan angka kemiskinan pada 2020 dapat mencapai 11,8%.

"Artinya, program PEN pada 2020 telah mampu menyelamatkan lebih dari lima juta orang dari kemiskinan," tegasnya.

Selain itu, program PEN juga mampu menjadi motor pemulihan ekonomi sehingga mampu menciptakan 2,61 juta lapangan kerja baru dalam kurun September 2020 hingga Februari 2021.

Ia menambahkan pemerintah turut berupaya menekan kasus covid-19 melalui kebijakan PPKM  darurat di Jawa dan Bali sekaligus meningkatkan target vaksinasi mencapai 1,5 juta sampai 3 juta per hari.

"Pemerintah melakukan reformasi struktural untuk meraih potensi ekonomi lebih tinggi agar pendapatan per kapita dapat ditingkatkan dan kesejahteraan masyarakat semakin baik," jelasnya.

Kembali Meningkat
Terpisah, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta menyebutkan Indonesia akan kembali menjadi negara berpendapatan menengah ke atas dalam 1-2 tahun ke depan jika pertumbuhan ekonomi mencapai 5-6% per tahun dan pertumbuhan penduduk naik 1,2% per tahun.

"Dalam waktu tidak terlalu lama yakni 1-2 tahun ke depan kita akan segera kembali masuk ke kategori upper middle income (negara pendapatan menengah ke atas), meskipun ada peningkatan thresholds (klasifikasi) yang dilakukan World Bank yakni dari (pendapatan nasional bruto) US$4.046 menjadi US$4.096," katanya.

Arif mengatakan penurunan peringkat Indonesia itu karena dampak pandemi covid-19 sejak awal 2020. Saat 2019 ketika Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah atas, pendapatan per kapita di Tanah Air sebesar US$4.050. Atau, baru berada sedikit di atas batas bawah klasifikasi yang ditetapkan Bank Dunia yakni US$4.046.

Ketika ekonomi Indonesia terkontraksi karena terdampak oleh covid-19, maka pendapatan per kapita Indonesia turun menjadi US$3.870. Dengan posisi itu, Indonesia akhirnya kembali ke kategori negara berpendapatan menengah bawah.

"Selain Indonesia, ada beberapa negara yang juga turun dari upper middle income menjadi lower middle Income seperti Belize, Samoa, serta Iran," kata Arif.

Bahkan, ujar Arif, Iran mengalami penurunan pendapatan per kapita cukup dalam yakni dari US$5.240 menjadi US$2.870.

Tidak hanya itu ada juga beberapa negara yang turun peringkat dari high income (negara pendapatan tinggi) menjadi upper middle income seperti Mauritius, Panama, Romania.

"Penyelamatan masyarakat dan kesehatan menjadi prioritas, diterapkan dengan adanya PSBB dan PPKM, sehingga mobilitas masyarakat berkurang dan laju pertumbuhan ekonomi terkontraksi," pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER