Selamat

Rabu, 22 September 2021

02 September 2021|16:10 WIB

Pemerintah Kembangkan Koperasi Modern Di Subang

Manfaatkan lahan Perhutani, Koperasi GLB turut memegang peranan dalam konservasi lingkungan.

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Dian Hapsari

ImagePetani merontokkan padi saat panen di Bogor, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya.

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM dewasa ini tengah memodernisasikan koperasi sebagai entitas bisnis yang profesional untuk mendongkrak perekonomian sekaligus sebagai offtaker produk-produk kerakyatan.

Deputi Bidang Perkoperasian Kemenkop UKM Ahmad Zabadi menyebut salah satu pengembangan koperasi modern dilakukan di Kabupaten Subang, Jawa Barat melalui korporatisasi petani dan nelayan yang dilakukan oleh koperasi, salah satunya Koperasi Gunung Luhur Berkah (GLB).

Menjadi bagian dari pemenuhan target 40 koperasi pangan modern berorientasi ekspor, pembiayaan kedua tersebut akan didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan UMKM (LPDB-KUMKM) sebagai BLU penyalur dana bergulir khusus koperasi.

"Koperasi GLB yang bergerak di bidang usaha produksi dan pemasaran komoditas pertanian dan perkebunan, khususnya kopi ini dikelola milenial. Ini juga akan mendapat pembiayaan dari LPDB-KUMKM," jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis (2/9).

Produksi kopi oleh para petani dalam naungan Koperasi GLB, lanjut Zabadi, dilakukan secara terintegrasi dari hulu sampai hilir, mulai dari penangkar bibit kopi bersertifikat, pendampingan penanaman kopi bagi petani anggota, pengolahan pascapanen, hingga ke proses pemasaran.

Bahkan, Zabadi menyebut produk-produk mereka telah merambah pasar luar negeri, seperti Taiwan, Korea Selatan, hingga Arab Saudi yang dilakukan atas nama Koperasi GLB. Di sisi lain, para petani pun melakukan produksi dengan memanfaatkan lahan Perhutani sekitar 1.200 hektare sehingga mereka turut andil dalam melakukan konservasi lingkungan.

"Ini menjadi pembeda dalam usaha budidaya kopi lainnya yang bukan hanya untuk membantu perekonomian petani kecil, tetapi turut andil juga dalam konservasi dengan memperkaya vegetasi di lahan Perhutani," kata Zabadi.

Koperasi GLB juga telah berperan sebagai offtaker pertama dari hasil produksi kopi petani anggota dengan penerapan standardisasi harga dan kualitas dari para petani. Bahkan, Koperasi GLB telah memiliki izin Sistem Resi Gudang (SRG) untuk produk beras dan kopi.

"Hal ini menjadikan koperasi sebagai tulang punggung dari para petani kopi di kawasan Subang, Jawa Barat," ungkap dia.

Tanpa melupakan pengembangan SDM, Koperasi GLB yang telah memberikan kesempatan kepada para petani untuk mengikuti sejumlah International Coffee Workshop, termasuk memberi pelatihan kepada generasi milenial di Kabupaten Subang untuk menjadi barista.

Sebagai informasi, Koperasi GLB hingga saat ini menaungi sebanyak 208 petani. Dari sisi kelembagaan dan pemanfaatan koperasi, Kemenkop UKM pun telah menerbitkan grade Nomor Induk Koperasi (NIK) dengan predikat 'A' yang berarti koperasi itu rutin menyampaikan laporan RAT setiap tahunnya dan memiliki izin lanjutan, seperti pengelolaan resi gudang.

Dalam kesempatan itu, Ketua Koperasi GLB Miftahudin Shaf menyebut target jangka panjang dalam pengembangan lembaga tersebut salah satunya ialah menjadikan GLB sebagai koperasi eksportir kopi terkemuka, baik di wilayah Jawa Barat maupun secara nasional.

Miftahudin menambahkan manajemen kelembagaan dan usaha koperasi berbasis IT juga tak luput dari fokusnya. Melalui koneksi dengan berbagai offtaker lokal ataupun internasional, Miftahudin meyakini koperasi akan menjadi katalisator dan mempunyai daya ungkit ekonomi masyarakat.

"Koperasi GLB juga memiliki pabrik pengolahan kopi yang modern dengan penguatan sarana prasarana produksi kopi, hingga memiliki peran sebagai lembaga pembiayaan komoditas yang terdapat di resi gudang," pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA