Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

BERITA

04 Mei 2021|21:00 WIB

Pemerintah Jamin Keberlangsungan Hulu-Hilir Porang dan Walet

Indonesia diperkirakan menyuplai hampir 80% kapasitas sarang burung walet kepada dunia

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

ImagePeternakan burung walet. ANTARAFOTO/Dok.

JAKARTA – Porang dan sarang burung walet menjadi komoditas andalan nusantara di masa depan. Kementerian teknis diminta bekerja sama menjaga kelangsungan produksi dari hulu ke hilir.

Di sisi produktivitas, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut pihaknya mendapat tugas memaksimalkan produktivitas porang dan sarang burung walet.

"Yang tentu berakhir di hilirisasi atau pengolahan lanjutan oleh Kemenperin. Lalu (dijual) marketplace lewat pengaturan perdagangan, termasuk ekspor dengan Kemendag," katanya dalam konpers daring di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (4/5).

Saat ini, pemerintah melihat porang dan sarang burung walet begitu potensial di pasar dunia. Sementara, produksi kedua komoditas yang tengah naik pamor juga cukup banyak tersebar di dalam negeri. 

Karenanya, pihaknya berjanji akan segera mengembangkan ekosistem kedua komoditas tersebut untuk memperkuat dari tingkat hulu sampai hilir. 

Pihaknya telah mengidentifikasi persiapan asistensi atau pembinaan teknis kepada petani porang dan sarang burung walet, sebagai langkah pertama dan utama. 

Begitupun penciptaan klaster daerah komoditas lewat pengelompokan produsen. "Kalau sarang walet berkaitan dengan (keberadaan) rumah burung walet," ujarnya. 

Tak lupa, Syahrul bersama jajarannya juga akan menyiapkan rumah pemrosesan di tingkat awal dan akhir, demi menunjang proses industri lanjutan komoditas porang dan sarang burung walet. 

Syahrul juga menekankan, semua rangkaian kebijakan yang akan ditempuh berorientasi pada rakyat. Kementerian diminta untuk tidak mempersulit dab menghambat proses-proses di lapangan. 

"Mentan dan Mendag akan sepenuhnya berupaya maksimal memberikan ruang bagi petani porang dan sarang burung walet, untuk bisa mendapatkan nilai ekspor bagi kepentingan negeri dan rakyat," ucapnya. 

Optimalisasi Ekspor ke Dunia
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengutarakan, produk sarang burung walet di dunia mempunyai nilai ekonomis yang begitu besar. Sedangkan, Indonesia diuntungkan karena menjadi produsen utama sarang burung walet dunia. 

Indonesia diperkirakan menyuplai hampir 80% kapasitas sarang burung walet kepada dunia. Pada 2020, Indonesia berhasil mengekspor sebanyak 1.316 ton sarang burung walet dengan nilai menyentuh US$540 juta. 

"Dari jumlah tonase itu, kita melihat disparitas harga (produk) yang luar biasa. Itu terjadi karena negara tujuan utama mempunyai harga yang berbeda," jelasnya pada kesempatan yang sama.

Mendag mencontohkan, harga sarang burung walet yang dijual ke Hongkong dan China memiliki harga yang kontras berbeda. sarang burung walet di Hongkong dibeli US$88/kg, sedangkan di China dihargai lebih dari US$1.500/kg.

Oleh sebab itu, pihaknya kita akan mengadakan shifting dengan mengadakan persamaan aturan antara Kementan dan Kemendag.

Nantinya, Lutfi jamin, upaya tersebut akan diupayakan menggalakkan ekspor kekayaan Indonesia untuk memberikan hasil terbaik bagi petani dan industri di dalam negeri. 

"Karena itu, Kemendag akan streamlining proses-proses perizinan ekspor dan memastikan bahwa kita akan mendapatkan harga terbaik untuk sarang burung walet," jelasnya. 

Belum lama ini, kunjungan pemerintah ke China menghasilkan komitmen pembelian sarang burung walet lebih dari Rp16 triliun. Namun, jumlah itu baru terpenuhi separuh dan akan menargetkan sisanya hingga akhir 2021.

Sementara, pemerintah akan maksimalisasi tren produk dari tanaman porang untuk mempenetrasi pasar. Tendesi makanan non-gluten yang lebih sehat, akan diupayakan untuk meningkatkan ekspor produk porang Indonesia ke dunia. 

"Dengan mendapat harga luar biasa. Kita akan kerjakan bersama Kementan di hulu, Kemenperin di sisi proses (produk) dan Kemendag untuk menjual di pasar dunia," katanya.

Kementan mencatat, ekspor porang ke dunia mengalami tren positif sepanjang 2016-2020. Pertumbuhan ekspor terlihat dari nilai pengiriman dan harganya di dunia. 

Pada 2016, Indonesia hanya mengapalkan sekitar 293.000 ton porang senilai Rp5,85 miliar. Jumlah itu melambung berselang lima tahun kemudian, dengan nilai pengapalan sebanyak 20,54 juta ton senilai Rp924,35 miliar. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA