Selamat

Rabu, 22 September 2021

31 Agustus 2021|16:04 WIB

Modernisasi Demi Eksistensi Koperasi

KSP terus didorong untuk melakukan pemekaran usaha

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

ImageLogo Koperasi. ANTARAFOTO/Dok

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM memacu eksistensi entitas koperasi agar berperan aktif dalam perputaran ekonomi kerakyatan. Berbagai pendampingan dan pelatihan pun dilancarkan guna mendongkrak performa koperasi di berbagai daerah.

Deputi Bidang Perkoperasian Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi menyebutkan berbagai bentuk pelatihan dan pendampingan yang digelar pemerintah utamanya dilakukan untuk mencapai prioritas Kemenkop UKM, yakni modernisasi koperasi.

Zabadi menjelaskan pihaknya merancang sejumlah strategi dalam pengembangan koperasi modern, mulai dari model bisnis koperasi lewat korporatisasi pangan, pengembangan factory sharing dengan kemitraan terbuka, hingga pengembangan koperasi multipihak.

"Berikutnya adalah penguatan kelembagaan dan usaha anggota koperasi melalui strategi spin off dan split off," ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (31/8).

Terkait penguatan kelembagaan dan usaha anggota koperasi itu, Zabadi mengimbau agar manajer dan pengelola koperasi simpan pinjam (KSP) agar melakukan pemisahan usaha secara parsial atau sebagian dalam rangka memperluas usaha.

Pasalnya, sejumlah koperasi yang telah melakukan pemekaran usaha (spin off) itu ternyata sukses mengembangkan usaha di sektor yang baru untuk kemudian mendongkrak kinerja koperasi.

Zabadi menambahkan, dalam UU Nomor 25 Tahun 1992 serta UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja telah tertuang bahwa koperasi bisa melakukan bisnis multi purpose. Artinya sudah ada regulasi yang mengatur terkait pemekaran usaha bagi entitas koperasi.

"Koperasi bisa saja masuk pada sektor konstruksi, rumah sakit, ritel, dan lain-lain. Sudah ada regulasinya UU Nomor 25 Tahun 1992 dan UU Cipta Kerja," tegasnya.

Ia turut menekankan, jumlah koperasi tak perlu banyak, tetapi unit-unit yang ada harus mampu menambah jumlah anggotanya. Untuk itu, koperasi dan anggotanya harus secara proaktif mengajak para pelaku UMKM untuk bergabung menjadi anggota koperasi.

"Dengan begitu, koperasi sebagai perusahaan milik bersama dapat memberi manfaat untuk kesejahteraan para anggota," imbuh Zabadi.

Sebagai filosofinya, Zabadi meyakini bahwa koperasi sama saja seperti sapu lidi. Ia menjelaskan bahwa sebatang lidi tak akan memiliki kekuatan, tetapi jika diikat menjadi sapu maka akan terhimpun kekuatan yang besar.

Perumpamaan itu menurutnya menjadi acuan bagi koperasi agar memprioritaskan aspek gotong royong sebagai budaya khas Indonesia dalam menjalankan operasionalnya. Hal ini ia yakini akan efektif dalam rangka mengembangkan entitas koperasi sekaligus memacu kesejahteraan para anggotanya.

"Gotong royong sangat penting bagi kelompok masyarakat untuk bersatu dan berkembang bersama-sama. Cara kerja yang rasional dan efisien dalam berusaha dibangun tanpa meninggalkan suasana kegotong-royongan," tandasnya.

Lebih lanjut, Zabadi menegaskan insan-insan yang mengelola entitas koperasi wajib memahami dan menjiwai bisnis agar tidak terjadi pertumbuhan yang lambat atau stunting.

Menurutnya, lembaga koperasi harus mampu sejajar dengan badan usaha lainnya. Lembaga tersebut, lanjut Zabadi, sudah selayaknya organisasi yang mampu membentuk kekuatan ekonomi bersama-sama untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

"Koperasi ini entitas bisnis dan sebuah perusahaan sehingga untuk maju dan berkembang, harus dikelola insan yang mengerti dan menjiwai bisnis," pungkas Ahmad Zabadi.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA