Selamat

Senin, 26 Juli 2021

BERITA

01 Mei 2021|08:27 WIB

Minyak Berbalik Arah, Terseret Kekhawatiran Baru Permintaan

Meski berbalik arah di akhir pekan, untuk minggu ini Brent menguat 1,7% dan WTI melonjak 2,3%.

Oleh: Fin Harini

ImageIlustrasi rig lepas pantai migas. Shutterstock/dok

NEW YORK - Harga minyak anjlok dari level tertinggi enam minggu terakhir pada akhir perdagangan Jumat atau Sabtu pagi WIB. Investor menurunkan posisi mereka setelah data impor minyak mentah Jepang melemah. Penurunan harga juga dipicu kekhawatiran permintaan bahan bakar di India, negara konsumen minyak ketiga terbesar, di mana infeksi covid-19 telah melonjak.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni ditutup pada US$67,25 per barel, terpangkas US$1,31 atau 1,9%, pada hari terakhir perdagangan untuk kontrak Juni. Minyak mentah AS West Texas Intermediate atau WTI untuk pengiriman Juni jatuh US$1,43 atau 2,2%, menetap di US$63,58 per barel.

Meski berbalik arah di akhir pekan, untuk minggu ini Brent menguat 1,7% dan WTI melonjak 2,3%.

Minyak mentah AS dan patokan global Brent mencatat penurunan harian terbesar mereka dalam lebih dari tiga minggu terakhir pada Jumat (30/4), tetapi mengalami kenaikan bulanan masing-masing hampir 6% dan 8%. Permintaan bahan bakar di seluruh dunia beragam, dengan konsumsi meningkat di AS dan China, sementara negara-negara lain melanjutkan karantina wilayah untuk membendung tingkat infeksi yang meningkat.

"Saat akhir bulan jadi ada beberapa aksi ambil untung, tapi saya pikir masalah terbesar adalah laporan yang keluar dari India tentang covid-19," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago. "Ketidakpastian itu membuat pasar gelisah."

India, konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, berada dalam krisis yang parah, dengan rumah sakit dan kamar mayat kewalahan, karena jumlah kasus covid-19 mencapai 18 juta pada Kamis (29/4). Amerika Serikat membatasi perjalanan dari negara itu, kata para pejabat Jumat (30/4).

Di Jepang, pembeli minyak mentah utama lainnya, impor jatuh 25% pada Maret dari setahun sebelumnya menjadi 2,34 juta barel per hari, menurut angka pemerintah. Namun, aktivitas pabrik di negara itu berkembang pada laju tercepat sejak awal 2018.

Produksi minyak OPEC naik pada April karena lebih banyak pasokan dari Iran. Kenaikan ini melawan kesepakatan dengan sekutu, atau OPEC+, untuk mengurangi pasokan.

Sebuah survei Reuters memperkirakan bahwa Brent akan mencapai rata-rata US$64,17 pada 2021, naik dari konsensus bulan lalu US$63,12 per barel dan rata-rata US$62,30 sepanjang tahun ini.

.
Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA