Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

05 Juli 2021|21:00 WIB

Menyasar Mancanegara Dengan Boneka

Apresiasi terhadap karya hand-made masih kurang di dalam negeri

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Fin Harini

ImageSusanti, pemilik Susancrafts. Ist

DEPOK – Merajut biasanya dilakukan seseorang untuk menghilangkan kejenuhan atau hobi. Namun, tidak sedikit barang yang bisa dibuat dari rajutan. Tas, dompet, sweater, syal, hingga boneka, bisa diperoleh dari merajut.

Banyak juga orang yang memanfaatkan kepiawaian merajut untuk menghasilkan pundi-pundi keuntungan. Salah satunya adalah Susanti. Hobi merajut kini menjadi bisnis perempuan berumur 29 tahun itu.

Semuanya bermula pada akhir 2017. Dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan, Kala itu, masa melahirkan sudah di depan mata. Dia ingin fokus mengurus buah hati.

Karena sudah terbiasa bekerja, tangan Susan–panggilan akrabnya–"gatal" memegang pekerjaan. Dia memilih merajut. Tas dan dompet yang dirajut kemudian dipasarkan. Namun, dia merasa banyak pesaing di pasar itu. Harganya pun, ia nilai tidak bagus-bagus amat.

"Akhirnya bingung bikin apa ya, selain ini (tas dan dompet rajut.red). Terus, melihat boneka rajut ternyata kok menjanjikan gitu ya. Bentuknya bagus juga, unik-unik gitu kan. Ya udah coba belajar akhirnya sampai sekarang,” katanya saat bercerita kepada Validnews di Jakarta, Kamis (1/7).

Setelah pertimbangan cukup masak, Susancrafts dibentuk. Langkah awal tak selalu mulus. Kendala pertama ada pada modal.

Susan harus merogoh kocek lumayan dalam untuk melengkapi stok benang yang bermacam-macam warnanya. Belum lagi, bahan pendukung lainnya seperti mata atau dakron untuk isian.

Untungnya, seiring waktu berjalan dan produk terjual, Susan bisa kulakan aneka warna benang untuk disulap menjadi boneka.

Tantangan pertama sudah dilewati, lalu muncul tantangan selanjutnya. Yakni, bagaimana caranya agar produknya dikenal orang.

Langkah mainstream pun diambil. Ia membuat akun Instagram @susancrafts. Namun, platform berbagi foto tersebut tidak terlalu mendongkrak penjualan. Lagi-lagi alasannya karena Susancrafts yang baru-baru seumur jagung belum banyak dikenal.

Tak menyerah, Susan mengambil langkah lain untuk mendorong penjualan. Ia membuat akun di e-commerce, seperti Tokopedia dan Shopee.

Gayung bersambut. Pembeli mulai berdatangan. "Lama-lama ada tuh yang beli satu dua, eh terus ada," kata Susan.

Mengimbangi langkah promosi, Susan juga berupaya meningkatkan produksi. Salah satu yang ia perkuat adalah pemilihan karakter boneka yang hendak dibuat. Pilihan Susan jatuh pada seri princess yang digemari gadis cilik, seperti Snow White, Rapunzel, Ariel, Belle, Jasmine. Strateginya terbukti jitu, produk Susancrafts makin dilirik karena unik.

Boneka Custom
Namun, kian hari persaingan membuat boneka rajutan atau amigurumi semakin ketat. Susan pun memutar otak. Sebuah gebrakan harus dilakukannya agar tidak tergerus kejamnya roda persaingan.

"Akhirnya aku bikin, aku bisain buat custom aja deh. Kalau di tempat lain kan belum tentu bisa ya custom gitu. Kalau di aku bisa custom gitu. Jadinya kelebihannya itu sih buat bisnis," katanya.

Alhasil, pesanan mulai membanjiri keranjang Susancrafts.

Di tengah euforia membludaknya pesanan boneka custom, kendala menghampiri lagi. Kali ini, kendala yang dihadapi ialah waktu.

Membuat satu boneka custom memerlukan waktu yang lumayan lama. Apalagi, semua dilakukan dengan tangan.

"Bikinnya lama, biasanya kan aku waktunya sih kalau untuk boneka rajut itu sehari paling satu," ujarnya.

Karena custom, berarti Susan harus membuat dari awal semuanya termasuk pola. Trial error pun juga harus dilakukan, agar bentuk boneka yang dihasilkan sesuai keinginan customer.

Karena waktu yang lebih lama, antrean boneka amigurumi custom jadi lebih panjang. Setidaknya, butuh waktu 2 minggu setelah membayar uang muka, baru pesanan bisa masuk ke dalam proses pembuatan.

Bukan Susan tak mau merekrut karyawan untuk membantunya. Ia termasuk orang yang hati-hati karena mengedepankan kualitas. Butuh pelatihan yang lama untuk menyamakan dengan hasil karya tangan Susan.

"Kalau boneka rada rumit soalnya," ucap Susan.

Dengan keterbatasan produksi, bisnis Susan tetap berjalan. Ia mematok harga boneka rajutan karakter hewan ukuran kecil sekitar Rp50 ribu. Namun, untuk karakter custom di kisaran Rp150 hingga Rp500 ribu.

Dari situ, ia berhasil meraup omzet sekitar Rp4 hingga Rp5 juta rupiah setiap bulannya. "Lumayan banget. jadi enggak ngandelin gaji suami doang gitu," celetuknya.

Boneka amigurumi karya Susanti. Susancrafts/Dok 

Tembus Pasar Amerika
Bosan dengan pasar dalam negeri, Susan berhasil menembus pasar internasional. Awalnya, ia hanya coba-coba saja sebuah e-commerce internasional yang diperuntukkan khusus produk buatan tangan (handmade) yaitu etsy.com.

Tiga bulan berselang. Ponsel pun berdering. Notifikasi pesanan dari Negeri Paman Sam masuk ke ponsel pintarnya.

"Nah kemarin kebetulan ada yang pesan dari California, berarti kan emang ada pasarnya di sana ada tuh," kata Susan.

Dari situ, ia berpikir ada pangsa pasar untuk produknya di negeri Paman Sam.  Kemudian, pesanan lain pun datang. Kali ini datang dari Negeri Jiran Malaysia, tepatnya di Pahang.

Susan mengungkapkan, adapun pesanan ke luar negeri lebih banyak untuk karakter gim, seperti Identity V dan Genshin Impact.

Menjual karya ke luar negeri menjadi kebanggaan tersendiri buat Susan. Namun, lebih dari itu, ia merasa lebih dihargai oleh pembeli luar negeri. Pasalnya, boneka rajutan yang ia jual bisa sampai Rp1 jutaan.

Menurutnya, konsumen dalam negeri masih sangat membutuhkan edukasi untuk lebih menghargai produk handmade. Ia bilang, di dalam negeri masih ada konsumen yang tega menawar jauh di bawah harga jual.

Meski demikian, amigurumi karya Susan pun sudah tersebar. Mulai dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra. Keperluannya pun berbeda-beda, mulai dari untuk kado hingga koleksi pribadi.

"Orang enggak tahu nih jerih payah kita untuk bikin satu boneka itu sehari. Belum biaya bahannya, yang mahal itu ongkos bikinnya kan. Sama kita perjuangan bikin dengan kualitas seperti sekarang itu kan butuh belajar bertahun-tahun, yang mahal kan itu nya ilmunya gitu," katanya.

Butuh Subsidi
Kini, saat Susancrafts sudah mendapatkan tempat di hati pelanggan, Susan kembali mengalami kendala. Yaknin, berbagai biaya tambahan saat mengimpor bahan dari luar negeri.

Menurutnya, kebijakan pemerintah kurang mendukung pengusaha kecil. Biaya pengiriman produknya ke luar negeri juga terbilang mahal. Hal itulah yang membuat harga pokok produksi meningkat.

"Cuma di Indonesia itu, sekarang saya masukin barang dari Aliexpress, barang-barang tekstil kena pajak," katanya. Ia menuturkan,

"Ke California kemarin saja Rp350 ribu, orang sana kan kadang enggak mikir harga berapa saja, yang penting bagus. Cuma kan kalau di-support ongkos kirim lebih murahkan kita jualnya juga bisa lebih banyak," katanya.

Lebih jauh, Susan menceritakan langkah untuk membuat produknya lebih berdaya saing. Ia telah membuat website untuk menjual produknya yakni di susancrafts.net.

Selain itu, ia juga sedang mengembangkan Facebook Fans Page Susancrafts. Dia masih belum puas.

Ke depan, ia mengaku ingin belajar lebih untuk mendetailkan karakter yang ja buat.

"Kalau saya sih sekarang masih benar-benar boneka ya pengennya sih belajar kayak bentuk-bentuk orang Rusia, bonekanya lebih detail lagi gitu. Sama mungkin pengin bikin tas lagi cuma tapi tasnya karakter gitu sih ke depannya," kata Susan.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER