Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

BERITA

03 Mei 2021|20:55 WIB

Menperin Sebut Pelaku Industri Bangkit

Sepanjang dua bulan beruntun, PMI manufaktur Indonesia menorehkan rekor tertinggi

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

ImagePekerja mengecek sepatu di Pabrik Sepatu Aerostreet, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (17/4/2021). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

JAKARTA - Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia mampu mencapai level 54,6 pada April 2021, naik signifikan dibanding Maret yang berada di posisi 53,2, yang mencerminkan sektor industri sedang ekspansif.

"Selama ini, sektor industri pengolahan nonmigas masih menjadi motor penggerak roda perekonomian nasional. Oleh karena itu, diperlukan perhatian lebih dalam rangka meningkatkan kinerjanya," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Senin(3/5).

Kabar baik dari sektor industri ditunjukkan melalui PMI Manufaktur Indonesia yang ekspansif dan menembus level 54,6 poin pada April 2021. Capaian tersebut naik tipis dibanding Maret yang berada di posisi 53,2 poin. 

Sepanjang dua bulan beruntun, PMI manufaktur Indonesia menorehkan rekor tertinggi. Selain itu, kondisi bisnis dinilai telah menguat dalam enam bulan terakhir ini di tengah kondisi pandemi, dengan tren positif dari sektor industri yang gencar melakukan perluasan usaha.

“Alhamdulillah, para pelaku industri kita mulai bangkit lagi. Sebab, kalau kita melihat ke belakang, pada April 2020 adalah kondisi PMI manufaktur Indonesia saat jatuh ke titik terendah di level 27,5 poin,” ungkap Menperin.

Menurutnya, PMI manufaktur Indonesia yang ekspansif menjadi salah satu indikator perekonomian yang membaik, serta kepercayaan dunia usaha dan industri terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai sudah on the track.

Atas hal itu, pemerintah mengapresiasi kepada pelaku industri yang terus semangat menjalankan usaha. Sehingga efek domino atau multiplier effect meluas bagi perekonomian, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penerimaan devisa.

Guna menjaga kinerja gemilang di sektor industri, Agus menyebutkan pemerintah telah berupaya menciptakan perbaikan iklim usaha. Langkahnya antara lain melalui pemberian kemudahan izin usaha dan stimulus insentif. 

“Misalnya, dengan penerbitan UU Cipta Kerja untuk semakin memberikan kepastian hukum bagi para pelaku industri di tanah air,” imbuhnya.

Menperin juga mengemukakan, utilisasi industri pengolahan nonmigas sudah kembali melonjak hingga 61,30%, meningkat signifikan dibanding dua bulan sebelumnya. Pemerintah, lanjutnya, akan berupaya menjaga momentum tersebut dengan berbagai kebijakan dan program untuk menstimulasi pertumbuhan industri nasional. 

Menanggapi hasil PMI manufaktur Indonesia April 2021, Direktur Ekonomi IHS Markit Andrew Harker mengatakan, produksi manufaktur Indonesia terus meningkat pada bulan April, di tengah-tengah ekspansi permintaan baru yang sangat kuat. 

“Yang menggembirakan, total bisnis baru didukung oleh kenaikan pertama pada ekspor sejak pandemi covid-19 melanda, karena permintaan internasional menunjukkan tanda perbaikan,” tuturnya.

Sepanjang kuartal I/2021, BPS mencatat, nilai ekspor industri pengolahan tembus hingga US$38,96 miliar atau tumbuh 18,06% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sektor manufaktur menjadi kontributor terbesar pada nilai ekspor nasional, yakni mencapai 79,66%.

Kondisi Makro Industri
Terkait PMI manufaktur Indonesia di bulan keempat, IHS Markit juga mencatat, output, permintaan baru, dan pembelian; naik semua pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya selama periode survei sepuluh tahun. Sementara permintaan ekspor baru kembali tumbuh setelah 16 bulan periode penurunan.

Optimisme output akan terus naik pada tahun mendatang kembali menyebar, dengan tiga perempat panelis memperkirakan ekspansi. 

Kepercayaan diri berpusat pada harapan bahwa pandemi covid-19 akan berakhir pada tahun mendatang, memungkinkan kenaikan lanjutan pada permintaan baru.

Di samping itu, bisnis baru mengalami ekspansi substansial, sejauh ini merupakan laju tercepat sejak survei di mulai pada April 2011. Perusahaan sering menyebutkan perbaikan pada permintaan pelanggan. Terlebih lagi, total permintaan baru didorong oleh kembalinya bisnis baru dari luar negeri.

Bahkan, dengan bisnis baru mengalami ekspansi tajam, perusahaan manufaktur juga menaikkan volume produksi mereka. Sebagaimana halnya dengan permintaan baru, kenaikannya merupakan yang paling tajam.

Berikutnya, rekor kenaikan pada aktivitas pembelian juga terjadi karena perusahaan menanggapi arus pesanan baru yang masuk. 

Sementara itu, waktu pengiriman dari pemasok secara umum tidak berubah pada April, menandakan bahwa gangguan pada rantai pasokan mulai berkurang. Hal ini membantu perusahaan melakukan ekspansi stok pembelian, sehingga mengakhiri 15 bulan periode penurunan inventaris pra-produksi. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA