c

Selamat

Sabtu, 20 April 2024

EKONOMI

11 September 2023

20:15 WIB

Menperin Resmikan Groundbreaking Smelter Nikel di Balikpapan

Smelter nikel baru diharapkan bisa dorong ekosistem kendaraan listrik dengan hilirisasi nikel.

Penulis: Aurora K M Simanjuntak

Editor: Rheza Alfian

Menperin Resmikan Groundbreaking Smelter Nikel di Balikpapan
Menperin Resmikan Groundbreaking Smelter Nikel di Balikpapan
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan sambutan saat groundbreaking industri smelter nikel PT Mitra Murni Perkasa di Balikpapan, Kalimantan Timur, (11/9/2023). Dok. Kemenperin

BALIKPAPAN - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong hilirisasi nikel karena bisa meningkatkan nilai tambah hingga 340 kali, terlebih ketika menjadi prekusor bahan baku baterai.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan nilai tambah dari pengolahan bijih nikel menjadi nickel matte 14 kali. Jika menjadi nikel murni bahan baku baterai menghasilkan nilai tambah 19 kali, dan jika menjadi prekursor mencapai 340 kali.

Ia menerangkan pemerintah mendorong hilirisasi nikel untuk membangun ekosistem kendaraan listrik. Sejalan dengan itu, Menperin meresmikan groundbreaking industri smelter nikel PT Mitra Murni Perkasa di Balikpapan, Kalimantan Timur.

"Sejak kepemimpinan Bapak Presiden Joko Widodo, terus menerus (berupaya) agar semua nilai tambah tetap berada di Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (11/9).

Agus berharap pembangunan industri smelter dalam rangka program hilirisasi dapat memberikan penyediaan bahan baku yang beragam. Selain itu, dalam jumlah cukup, dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan sektor industri lainnya.

Baca Juga: Dari 34 Perusahaan, Baru 4 Smelter Yang Lakukan Hilirisasi Nikel

Menperin menyampaikan industri logam tumbuh double digit dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, PDB sektor industri logam dasar senilai Rp124,29 triliun atau tumbuh 14,80% dibandingkan 2021.

Ia menyebutkan saat ini, terdapat 38 smelter nikel yang telah beroperasi di bawah binaan Kemenperin. Adapun nilai investasinya mencapai US$15,8 miliar.

Dari 38 smelter tersebut, 35 di antaranya adalah smelter pyrometallurgy. Sementara itu, sisanya merupakan smelter hydrometallurgy dengan produk akhir MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) yang dapat diolah lebih lanjut menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik.

Agus melaporkan pihaknya telah menyusun roadmap pengembangan industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Pemerintah menargetkan produksi KBLBB roda empat atau lebih sebanyak 1 juta unit pada 2035, serta KBLBB roda dua atau tiga mencapai 12 juta unit pada 2035.

Baca Juga: Bertujuan Jadi Pemain Besar Dunia, Ini Arah Hilirisasi Nikel Indonesia

“Sesuai target tersebut, proyeksi kebutuhan nikel sebagai bahan baku baterai khususnya jenis baterai NMC 811 (Nickel, Manganese, Cobalt) dalam mendukung program pengembangan EV (electric vehicles) akan terus meningkat,” terang Agus.

Kemenperin melaporkan, PT Mitra Murni Perkasa (MMP merupakan smelter nikel yang menerima 100% Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Rencananya, kapasitas produksi smelter nikel itu sebesar 27.000 MT nickel matte per tahun dan akan digunakan sebagai bahan baku baterai. Smelter nikel ini dijadwalkan
melakukan commissioning pada 2025.

"PT MMP akan menjadi smelter nikel kedua di Indonesia yang memproduksi nickel matte. Ini membuktikan PMDN juga mampu hadir, membangun sebuah proyek industri smelter nikel yang begitu besar, bernilai puluhan triliun rupiah, untuk mendukung industri baterai listrik nasional,” tutur Agus.


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentarLoginatauDaftar