MenkopUKM Dan Menteri ATR Konsolidasikan Lahan Petani TORA Ke Koperasi | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

24 November 2021|09:55 WIB

MenkopUKM Dan Menteri ATR Konsolidasikan Lahan Petani TORA Ke Koperasi

Koperasi Agro Tora Wajasakti akan terhubung dengan PT Great Giant Pineapple sebagai offtaker produk petani

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Dian Hapsari

MenkopUKM Dan Menteri ATR Konsolidasikan Lahan Petani TORA Ke KoperasiMenteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

JAKARTA – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN RI Sofyan Djalil sepakat untuk mengonsolidasikan para penerima program redistribusi lahan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) di Warungkiara, Sukabumi untuk usaha produktif dalam wadah koperasi.

Menteri Teten mengatakan bahwa langkah untuk mengonsolidasikan para petani ke dalam koperasi itu dilakukan guna memperkuat sektor pangan nasional yang diimplementasikan dengan menanam produk unggulan berkualitas ekspor.

"Koperasi nantinya juga akan terhubung dengan offtaker dan lembaga pembiayaan bank," ungkap MenkopUKM dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (23/11).

Proses membangun korporatisasi pangan, sebut Teten, akan menjadi sulit ketika para petani berlahan sempit hanya bekerja secara individu. Artinya, tidak akan efisien, produk tidak kompetitif, serta tidak memiliki daya saing.

Untuk itu, MenkopUKM menegaskan pihaknya akan membangun model bisnis dimana nantinya para petani penerima redistribusi lahan TORA di Sukabumi, Jawa Barat akan bergabung dalam Koperasi Agro Tora Wajasakti. Koperasi tersebut juga akan berperan sebagai offtaker pertama sekaligus agregator dari produk petani.

Tak hanya itu, koperasi tersebut juga akan terhubung dengan PT Great Giant Pineapple (GGP) yang turut berperan sebagai offtaker. Menteri Teten mengatakan bahwa PT GGP lewat skema Creating Shared Value akan menjalin kemitraan dengan petani dan pemda atas dasar pemberdayaan dan saling menguntungkan dalam hal budidaya dan pemasaran tanaman, khususnya komoditas pisang.

"PT GGP sudah terbukti di Lampung. Awalnya, kampung pisang di Tenggamus, Lampung hanya seluas 10 hektare, sekarang sudah berkembang hampir 400 hektare dan dikelola 800 petani," kata MenkopUKM Teten.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Koperasi Agro Tora Wajasakti Puloh Saepul Anwar menyebut pihaknya bisa menangkap model bisnis yang diinginkan pemerintah setelah diajak studi banding ke Lampung untuk dikenalkan dengan sistem offtaker hingga pendampingan.

Tak sampai situ, Saepul juga mengatakan bahwa nantinya para petani anggota koperasi bisa mendapatkan aliran pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tentu akan membantu para petani guna menghasilkan produk yang berkualitas.

"Offtaker dan pendampingan bisa menciptakan nilai ekonomi yang bagus. Selain bantuan modal, ada juga pendampingan pengelolaan tanah hingga panen. Jelas ini sangat membantu kami," tandasnya.

Lebih lanjut, Teten mengatakan bahwa model bisnis kemitraan sangat diperlukan untuk memberi jaminan harga dan pasar bagi produk petani. Dengan begitu, ia yakin pihak perbankan tak ragu membiayai sektor pertanian yang selama ini sulit karena potensi NPL-nya tinggi.

"Dengan model bisnis seperti ini, petani atau peternak tidak lagi harus memikirkan kemana produknya akan dipasarkan. Itu sudah menjadi urusan koperasi," papar MenkopUKM.

Sebagai informasi, saat ini di Warungkiara, Sukabumi, baru tersedia sekitar 3 hektare untuk penanaman pisang cavendish. Meski begitu, Teten tak menutup kemungkinan untuk meningkatkan jumlah lahan, tak hanya dari masyarakat penerima TORA.

"Kami akan mengembangkan komoditas buah mangga di Majalengka, Indramayu (Jabar), dan Gresik (Jatim). Kita akan terus membangun Corporate Farming berbasis tanah rakyat dan koperasi," ucap Teten Masduki.

Pada kesempatan itu, Menteri ATR Sofyan Djalil meminta para petani di Warungkiara, Sukabumi bisa bekerja sesuai dengan arahan atau petunjuk dari PT GGP sebagai offtaker. Dengan penerapan teknologi, Menteri Sofyan yakin kualitas produk petani akan memenuhi standar internasional.

Ia meyakini bahwa kunci sukses dari korporatisasi pangan ialah kedisiplinan petani. Dari pihak pemerintah, Sofyan menyebut telah menyediakan lahan lewat program redistribusi lahan TORA yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

"Sehingga jika koperasinya bisa dikelola dengan benar, saya yakin akan melahirkan kemakmuran masyarakat setempat," imbuh Sofyan.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA