Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

WIRAUSAHA

31 Mei 2021|20:07 WIB

Menkop : Ekspor Briket Tempurung Kelapa Jadi Peluang Bagi UMKM

Terkendala modal, CV Coconut Internasional Indonesia tak mampu optimalkan peluang ekspor

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Nadya Kurnia

ImagePekerja membakar batok kelapa untuk dijadikan arang di Desa Sampaga, Mamuju, Sulbar. ANTARA FOTO/Akbar Tado

MAKASSAR – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki secara resmi melepas ekspor briket tempurung kelapa sebanyak tiga kontainer ke Arab Saudi dan Jordania dari Makassar, Sulawesi Selatan oleh CV Coconut  Internasional Indonesia dengan nilai US$35.000 per kontainer. 

Dalam sambutannya, Menteri Teten mengatakan, ekspor briket menjadi salah satu potensi ekspor UMKM mengingat pasarnya yang luas atau ada di seluruh dunia.

"Namun, ekspor briket ini harus didukung dari sisi pembiayaan dan pendampingan agar volumenya terus meningkat," kata Menkop Teten di Makassar, Senin (31/5). 

Di sisi lain, Owner CV Coconut Internasional Indonesia Asriani membeberkan sejumlah kendala dalam pelaksanaan ekspor briket, seperti permintaan dari Timur Tengah yang mencapai 10–20 kontainer per bulan. Namun hanya bisa terpenuhi 3–5 kontainer per bulan karena terkendala modal kerja. 

Asriani pun menegaskan pihaknya mendapatkan bahan baku briket tempurung kelapa melalui sinergi bersama 15 kelompok tani dengan anggota 15 orang per kelompoknya.

"Kami sebenarnya bisa meningkatkan produksi 5 kali lipat, kapasitas mesin bisa memproduksi hingga 2 kontainer per hari. Akan tetapi, kami belum bisa mewujudkannya karena modal usaha terbatas," kata Asriani. 

Untuk itu dalam kesempatan yang sama, Asriani juga melaksanakan penandatanganan kerja sama pembiayaan antara CV Coconut Internasional Indonesia dengan Bank Mandiri. 

Menjawab hal itu, Teten menegaskan perlu sinergi semua pihak, mulai dari perbankan lewat Himbara, pemda, BUMN, dan pemerintah pusat dalam rangka pengembangan ekspor UMKM. Saat ini, ekspor UMKM masih 14% dari volume ekspor nasional dan ditargetkan mencapai 17% pada 2024.

Kemenkop UKM, lanjutnya, terus mempersiapkan ekosistem yang mendukung UMKM go global. Ikhtiar itu dilakukan salah satunya dengan pembinaan UMKM lewat pendampingan model inkubasi.

"Pendampingan dilakukan secara profesional mulai dari peningkatan produksi, kurasi sampai dapat sertifikasi yang dibutuhkan di negara tujuan ekspor," ujar Menteri Teten. 

Selain itu, Menkop UKM juga mendorong perbankan menyalurkan pembiayaan bagi UMKM dengan porsi yang lebih besar. Penyaluran kredit dari perbankan kepada UMKM baru mencapai 19,8%. 

Jumlah tersebut dinilai masih sangat rendah dari porsi kredit ideal 30% kepada UMKM. Teten mengharapkan perbankan dapat  mengubah pendekatan penyaluran kredit dari pendekatan aset ke cashflow.  

"Bank harus berubah, untuk menyalurkan kredit jangan lagi hanya mengutamakan pendekatan aset lihat juga track record cashflow. Buat apa aset banyak kalau cashflow rendah," tegas Teten. 

Menteri Teten sangat mengharapkan tidak ada UMKM yang terganjal pembiayaan untuk meningkatkan produksi dan ekspor. Ia mengatakan, pemerintah melalui kebijakan KUR terus menyalurkan kredit yang lebih besar kepada UMKM. 

Kebijakan KUR bagi kredit mikro juga semakin dipermudah dengan meningkatkan nilai kredit tanpa agunan dari Rp50 juta menjadi Rp100 juta. Nantinya, KUR juga dapat menyalurkan kredit hingga Rp20 miliar bagi UMKM.

"Di samping itu, ada LPDB-KUMKM yang juga mendukung pembiayaan untuk koperasi produksi," tandasnya.

Lebih lanjut, Menteri Teten meyakini potensi ekspor UMKM sangat besar apabila tiap daerah bisa fokus pada produk-produk unggulan UMKM yang hendak dikembangkan. Provinsi Sulawesi Selatan, misalnya, memiliki banyak produk unggulan mulai dari produk kelautan, pertanian, kopi, dan kakao. 

"Jika tiap daerah bisa melakukan identifikasi produk unggulan dan secara serius melakukan pendampingan bagi tiap UMKM, ekspor akan meningkat," kata Teten.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA