Selamat

Rabu, 22 September 2021

09 Agustus 2021|21:00 WIB

Menjaga Bumi Dengan Bisnis Isi Ulang

Setiap 20 detik, satu truk plastik dibuang ke lautan Indonesia. Eksesnya banjir, penyakit, dan banyak hewan laut mati.

Penulis: Zsasya Senorita,

Editor: Fin Harini

ImageSiklus mengantarkan isi ulang untuk produk rumah tangga tanpa kemasan plastik langsung ke rumah pelanggan. Siklus/dok

JAKARTA – Bila menyinggung masalah sampah plastik, kita mungkin akan teringat pada tuduhan dunia yang menyebut Indonesia menjadi penyumbang utama sampah plastik ke laut. Bahkan, posisi Indonesia tak beranjak dari penyumbang terbesar kedua setelah China sejak 2018.

Laporan World Bank (2018) menyebutkan 87 kota di pesisir Indonesia memberikan kontribusi sampah ke laut sebanyak 1,27 juta ton. Kemudian secara keseluruhan, negeri gemah ripah loh jinawi ini turut menyumbang 9 juta ton sampah plastik yang sampai ke laut. 

Sementara Gerakan Global Break Free From Plastic melalui audit merek menemukan, 43% dari 476.423 sampah pada 2019 adalah sampah yang masih jelas terlihat mereknya. Persentase ini meningkat menjadi 63% sampah plastik dengan merek dari 346.494 sampah pada 2020. 

Di sisi lain, mereka juga mencatat jumlah sampah kemasan saset yang sulit didaur ulang mencapai 63.972 buah pada kurun 2020. Bahayanya, sampah plastik memerlukan ratusan bahkan ribuan tahun untuk terurai kembali ke bumi.

Untuk mengatasi hal tersebut, sejumlah LSM maupun kementerian dan lembaga sudah mulai menggerakkan bank sampah sejak beberapa tahun lalu. Namun jumlahnya jelas belum mampu menekan angka sampah plastik yang mengalir sampai laut.

Permasalahan sampah plastik tampaknya memang harus diredam dari hulu. Tepatnya, dari si penghasil sampah yakni konsumen. Sebab, produsen produk-produk berkemasan plastik terlihat belum bisa menghentikan rezim pengemasan dengan plastik karena sifatnya yang ekonomis, ringan, tahan lama, hingga anti air.

Lantas, apa yang bisa dilakukan konsumen? Masyarakat kelas menengah atas mungkin bisa membeli produk yang cepat habis dikonsumsi atau fast moving consumer goods (fmcg) dengan jumlah yang lebih besar sehingga tidak menghasilkan sampah plastik yang lebih banyak.

Akan tetapi, bagaimana dengan masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini membeli kemasan yang lebih kecil lantaran daya beli yang lebih minim? Untuk mereka, kemasan atau layanan isi ulang, belum terjangkau.

Di sinilah Jane Von Rabenau mengambil peran, menyediakan jasa isi ulang produk FMCG rumah tangga, yang dimulai dari gerobak keliling untuk menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah. Siklus Refill namanya.

Kurangi Sampah Plastik
Ide bisnis Siklus Refill berangkat dari kekhawatiran Jane terhadap penumpukan sampah plastik yang sangat sulit terurai dan menyebabkan pencemaran lingkungan hingga bencana banjir.

Sebelum berkuliah di Harvard, perempuan yang menguasai tujuh bahasa ini tinggal di Chennai, India Selatan. Ia bekerja dengan individu berpenghasilan rendah sebagai manajer lapangan untuk studi yang meneliti efek kurang tidur.

Jane mengaku sering mengunjungi desa-desa nelayan kecil di luar kota. Teman-temannya di India Selatan banyak menggunakan produk berkemasan saset untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Kebiasaan belanja produk tersebut merupakan hal baru baginya.

Produk dimaksud mengacu pada paket kebutuhan sekali pakai yang dibungkus secara individual seperti detergen yang biasa dijual di negara-negara berkembang. Di Indonesia, misalnya, 70% detergen dijual dalam bentuk saset.

“Teman-teman saya menggunakan saset untuk membeli 10 mililiter sampo. Itu tampak gila,” seru Jane terkejut.

Pada waktu itu, ia kerap melihat sampah di banyak lokasi, air, pantai, dan hutan. Masyarakat di sana tidak terjangkau oleh layanan pengelolaan sampah, hingga semua plastik dibakar dan justru menyebabkan penyakit pernapasan di daerah tersebut.

“Atau dibuang ke sungai terdekat, sampai ke laut. Di daerah yang sering terjadi banjir, sampah plastik akan menyumbat drainase dan yang lebih parah lagi, saset sekali pakai dan tidak dapat didaur ulang,” tegas Jane dalam wawancara eksklusif dengan Validnews via surat elektronik.

Ihwalnya adalah pada peristiwa pada 2015. Perempuan yang meraih gelar master of Public Administration in International Development dari Harvard Kennedy School ini terdampak banjir dahsyat di India yang menyebabkan ratusan orang meninggal.

“Ini adalah pertama kalinya saya mengalami bencana lingkungan dan saat itulah saya tahu saya ingin melakukan sesuatu tentang hal itu,” sambung Jane.

Ketika sedang melakukan penelitian untuk tesis gelar masternya tentang pencegahan sampah plastik di Filipina, ia sekali lagi memperhatikan polusi dari saset. Jane melihat stasiun isi ulang air di sebuah toko sederhana. Konsumen hanya perlu memasukkan koin untuk mengisi ulang air.

Banyak pelanggan berpenghasilan rendah menggunakan layanan tersebut sebagai alternatif yang lebih murah daripada air minum kemasan. Jane berpikir, mengapa hal yang sama tidak dilakukan untuk produk yang biasanya dijual dalam saset? Seperti detergen, sampo, dan lainnya.

“Ketika lulus dari Universitas Harvard pada 2019, saya tahu pilihannya adalah sekarang atau tidak sama sekali. Jadi saya pindah ke Indonesia -tidak mengenal siapapun- tetapi dengan ide membangun dan memasok stasiun isi ulang untuk kebutuhan sehari-hari, dan dengan demikian kisah Siklus dimulai,” kenangnya.

Dia memilih Indonesia berdasarkan penelitian. Negeri ini disebut pencemar plastik laut tertinggi kedua di dunia, setelah China dan lebih tinggi dari India.

Pindah ke Indonesia pada akhir 2019, Jane terjun langsung meriset masyarakat berpenghasilan rendah untuk menemukan apa sebenarnya yang akan mereka minati. Hasil riset, dia bawa untuk menjadi bahan diskusi dengan perusahaan barang konsumsi.

“Ternyata mereka tertarik dengan modelnya. Mereka juga tertarik untuk mengurangi biaya pengemasan serta mendapatkan data yang dapat diandalkan tentang kebiasaan pembelian konsumen,” ungkap Jane.

Dengan umpan balik dan informasi berharga dari konsumen Indonesia dan dengan dukungan perusahaan FMCG, Siklus Refill pun lahir dan secara resmi mulai beroperasi di Indonesia pada April 2020.

Satu Solusi
Jane menyebutkan, usaha yang ia lakukan menjadi satu solusi dari dua masalah yakni sampah dan borosnya pengeluaran masyarakat konsumen produk saset.

Berdasarkan data yang Siklus Refill kumpulkan, ada sebanyak satu truk plastik dibuang ke lautan Indonesia setiap 20 detik. Barang yang paling sering ditemukan di pantai Indonesia adalah saset dan kantong plastik yang tidak dapat didaur ulang. Eksesnya banjir, penyakit, dan banyak hewan laut mati.

Di sisi lain, mengkonsumsi produk-produk saset ternyata membuat masyarakat berpenghasilan rendah secara tidak sadar kian terbebani. Mereka membayar 15% dari total harga produk yang dibeli hanya untuk biaya kemasan.

“Pembeli membayar lebih besar dan ini yang dinamakan pajak kemiskinan,” ujar Jane.

Satu solusi mengatasi kedua masalah tersebut, Siklus Refill menyediakan alternatif pengganti kemasan saset dengan produk isi ulang yang diantarkan langsung ke rumah. Pembeli bisa isi ulang menggunakan wadah yang mereka bawa sendiri dari rumah dan murah.

Jane mengklaim, produk yang dibeli dari layanan Siklus Refill bisa lebih murah 20-50% dibandingkan pembelian melalui metode ritel tradisional.

Perusahaan rintisan yang mulai hadir sejak April 2020 ini menyediakan kebutuhan rumah tangga yang dibagi menjadi tiga kategori utama. Kategori pertama adalah produk kebutuhan pribadi atau personal care, seperti sampo, sabun mandi, sabun cuci tangan, hingga hand sanitizer.

Kategori kedua adalah produk yang digunakan untuk membersihkan rumah tangga, seperti sabun cuci piring, pembersih kaca, pembersih lantai, detergen bubuk dan cair, serta detergen parfum.

Sementara kategori ketiga meliputi produk makanan seperti kopi, milo, susu bubuk dan sereal, hingga menjual minyak goreng.

Konsumen dapat memesan produk di Siklus Refill dengan mengunduh aplikasi seluler yang tersedia di Google Play Store atau memesan melalui WhatsApp dan direct message di Instagram.

“Setelah pesanan diambil, stasiun isi ulang seluler Siklus kami mengirimkan pesanan pelanggan ke depan pintu mereka. Dengan teknologi pengeluaran eksklusif kami, kami mendistribusikan produk secara akurat, higienis, dan efisien ke wadah pelanggan,” aku Jane.

Layanan startup yang berangkat dari niat baik mengurangi jumlah sampah plastik ini pun telah tersedia di berbagai kawasan DKI Jakarta.

Meski sejak awal merencanakan untuk menggunakan aplikasi seluler dan sistem pengiriman sebagai model bisnisnya, Siklus Refill tetap menguji coba berbagai metode dan model penjualan.

Jane dan kawan-kawannya ‘mengkaryakan’ juga gerobak dorong, serta stasiun isi ulang di warung dan minimarket sebagai bagian dari penelitian dan pengembangan bisnis.

Tak seperti bisnis kebanyakan, perempuan yang telah aktif bergelut di berbagai LSM sejak di bangku sekolah ini mengaku, bisnisnya justru mengalami pertumbuhan yang lebih kuat dalam permintaan produk. Pandemi tak jadi masalah buat mereka.

Kepala Pemasaran Siklus Refill AJ Lee bahkan menginformasikan bahwa penjualan mereka telah tumbuh 10 kali lipat pada periode Januari–Juni 2021. Serta, pengguna aktif juga meningkat hingga lima kali lipat.

Ia menegaskan, polusi plastik telah meroket selama pandemi dan sekarang, lebih dari sebelumnya. Karenanya, masyarakat harus bersatu untuk mengatasi krisis plastik.

“Dengan mengingat hal itu, Siklus telah memulai dengan bekerja sama dengan badan amal dan LSM lokal untuk menyediakan produk konsumen gratis atau diskon,” jelasnya.

Meski mengalami pertumbuhan yang sangat baik, Jane masih menyimpan obsesi tersendiri. Dia ingin  Siklus Refill bisa menginspirasi perilaku konsumen permanen dari penggunaan saset sekali pakai ke sistem isi ulang. Untuk hal ini, dia dan para koleganya menggunakan model terukur yang dibantu oleh teknologi.

Dampak yang Siklus Refill ukur didasarkan pada penghematan konsumen dan pengurangan sampah plastik yang tidak dapat didaur ulang di setiap area operasi.

Dalam dua tahun pertama beroperasi, Jane bertujuan mencegah 200 juta saset masuk ke laut, sekaligus menghemat $2,5 juta untuk pelanggan berpenghasilan rendah hingga menengah di Indonesia saja. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA