Selamat

Rabu, 22 September 2021

02 Agustus 2021|20:45 WIB

Mengajak Orang Beternak Lalat

Magobox menjadi solusi bagi peternak pemula maggot BSF

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

ImageMaggot in The Box (Magobox), Produk kolaborasi Almagot dan Biomagg untuk pengolahan sampah organik t ingkat rumah tangga. Magobox.id/dok

JAKARTA – Medio Agustus–September 2020, daya beli masyarakat makin limbung. Pandemi di Indonesia berumur enam bulan, terhitung sejak ‘resmi’ masuk Tanah Air pada awal Maret 2020. Selama itu juga ekonomi nasional, bahkan dunia tergopoh-gopoh tak tentu arah. 

Dampak tak luput menimpa Fathimah Himmatina, ibu dua anak di Jakarta Selatan, yang pendapatan keluarganya ikut-ikutan melandai. Suaminya yang bekerja sebagai guru, jelas mesti menyukseskan kebijakan pemerintah dengan mengajar dari rumah. 

Namun, Fathimah dan suami juga melihat secercah harapan di balik keterbatasan kegiatan serba di rumah. Ada waktu yang lebih luas dan bisa dimaksimalkan untuk menambah penghasilan di samping gaji normal guru SD kala pagebluk. 

Pasangan ini lantas teringat proyek lingkungan yang diajarkan suami pada anak didiknya. Kala itu, dipilihlah lalat Black Soldier Fly alias BSF untuk peragaannya. Meski namanya lalat, serangga ini sama sekali tidak serupa dengan lalat, khususnya lalat rumah. Serangga ini lebih mirip dengan serangga tawon atau lebah. Ukurannya agak besar dari lalat rumah.

"Di situ suami ngajak saya untuk coba mengolah sampah dari BSF. Jadi sisa makanan, daripada dibuang, kita bisa olah. Sementara maggot bisa dijual karena tinggi protein, bisa jadi pakan ternak dan seterusnya," serunya di ujung telepon kepada Validnews, Jakarta, Jumat (9/7).

Keduanya menghitung potensi ekonomis pengolahan BSF itu. Ia dan suami memulai budidaya dengan membuat rumah maggot atau ulat macam belatung yang merupakan larva lalat, bikinan sendiri. Fathimah sempat terpikir risiko budidaya maggot rumahan bakal menemui banyak keterbatasan, utamanya soal lahan. 

Umumnya pembudidaya BSF menggelar usahanya di atas lahan yang besar. Karena itu, keterbatasan lahan menjadi tantangan usaha yang ingin dirintis Fathimah. Namun, ia meniupkan keyakinan pada diri sendiri, kondisi ini juga bisa menciptakan diferensiasi skema di pasar dan jadi peluang bisnis tersendiri. 

Percobaan awal, selayaknya pembudidaya awam, pasti menemui kegagalan. Banyak larva yang mati dan kabur. Namun, keduanya terus mengotak-atik alat bikinannya.  Malahan dari proses coba-coba yang serba terbatas di rumah, dirinya jadi makin kenal seluk-beluk dan karakteristik serangga ini. 

Akhirnya, lahirlah Magobox berbentuk box ceper seukuran dua ubin yang memiliki rongga udara dan botol kecil di sampingnya. Ukuran minimalis inilah yang cocok dipakai untuk budidaya skala rumahan dan bisa dipindah-geser. 

"(Bentuknya) tempat sampah yang menunjang budidaya. Jadi tinggal buang sampah organik yang benar-benar dipilah dari sisa makanan di rumah, tinggal masukin dan tebar di sekitar baby maggot. Lama-lama sampah jadi pupuk dan bisa dimanfaatkan, sementara larva bisa dipanen," terangnya. 

Keberhasilan membuat Magobox membuat pasangan ini ingin menginjak kelas berikutnya. Mereka kemudian menjual Magobox. Pasarnya jelas, banyak orang yang ingin mencoba beternak maggot. 

Tak afdal rasanya jika ingin memasarkan bisnis, yang meskipun berpotensi tinggi di sisi ekonomi dan lingkungan, namun belum diuji kelayakannya. Sembari mengedukasi BSF via media sosial, Fathimah menguji alatnya dengan mengikuti beberapa ajang lomba. 

Hasilnya, Magobox buatannya bisa menempati peringkat I pada gelaran Indosat Virtual Hackaton 2020. Pada saat bersamaan, dirinya mulai dikenal oleh kalangan pemerintah hingga pengusaha. 

Puncaknya, pada awal 2021, dirinya mulai membuka kolaborasi dengan Biomagg, sebuah industri maggot BSF terintegrasi di Depok, Jawa Barat untuk memasarkan Magobox. Per Februari 2021 juga, dirinya mulai memasarkan alat buah idenya kepada khalayak luas di e-commerce

Saat ini, Magobox hadir dalam tiga varian. Dua diantaranya bisa untuk menampung jumlah maggot sebanyak 1 kg (Magobox mini) dan 3 kg (Magobox XL). Sementara satunya, berupa kandang BSF dewasa yang bisa menghasilkan 10 gram telur. 

Peluang Bagi Pemula
Setelah berulang kali mencari formula paling efektif untuk Magobox-nya, Fathimah menyadari kegagalan pembudidaya pemula adalah ketidaktahuan karakteristik hidup utuh BSF secara mendalam. Padahal, tekannya, kunci sukses utama budidaya apapun adalah tekun dan memahami sifat yang dibudidayakan. 

"Makanya kita mau branding Magobox buat benar-benar pemula yang mau coba, agar tahu siklus, karakteristik dan lainnya," katanya. 

Fathimah berulang kali menekankan proses belajar soal karakteristik serangga ini. Pengetahuan yang mumpuni juga penting untuk menekan potensi penipu yang mungkin berseliweran di tengah pasar industri ini. 

Tidak sedikit dirinya mendengar langsung pembudidaya lain yang habis puluhan hingga ratusan juta yang gagal menjalani industri BSF. 

Selain sisi bisnis, dirinya juga menyasar kalangan yang begitu peduli terhadap kondisi sampah di dalam negeri. Informasi saja, hampir setengah jumlah sampah Indonesia pada 2020 berasal dari sisa makanan yang dominasinya bersumber dari rumah tangga dan pasar tradisional. 

Pandemi nyatanya meng-unlock kreativitas masyarakat untuk menjalani kegiatan baru dalam waktu sehari. Suami-istri ini pun menawarkan aktivitas pengolahan sampah organik mandiri yang lebih cepat dan efisien dari lingkungan terkecil di rumah masing-masing. Fatimah membandingkan proses composting sampah organik dengan bantuan larva BSF jauh lebih unggul daripada proses konvensional. Dari sekitar 6–12 bulan menjadi hanya 2–3 pekan hasil komposnya.

Nantinya, proses biokonversi lewat maggot BSF bisa dicampur sekam tanam untuk bisa menyuburkan tanaman di sekitar. 

"Sementara maggot BSF (panen) kalau tidak mau dijual bisa untuk pakan ternak dan sejenisnya. Sehingga bisa menghemat pakan ternak perbulannya," ungkapnya. 


Potensi Besar Ekspor
Fathimah sendiri optimistis potensi ekonomi yang berasal insect-protein BSF bakal terus berkembang, jauh lebih besar daripada hari ini. 

Mengutip MeticulousResearch, pasar BSF global diperkirakan akan mencapai US$3,4 miliar pada 2030, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun atau CAGR 34,7% selama periode 2020-2030. 

Hal itu terdorong oleh peningkatan permintaan global untuk produk hewani, perluasan industri akuakultur, peningkatan permintaan dari industri pakan ternak untuk protein alternatif karena kenaikan harga kedelai, hingga peningkatan persetujuan pemerintah untuk tepung serangga dalam pakan ternak. 

Di sisi lain, dia mengakui, untuk menggarap potensi ekspor, produksi BSF milik pembudidaya sudah selayaknya naik ke skala industri. Bukan lagi skala rumahan. 

"Karena maggot organik, di luar negeri pemakaiannya sudah mulai jadi rules buat livestock seperti sapi, kambing hingga babi. Kalau Indonesia kan masih belum biasa (maggot) untuk sapi-kambing, kalau di luar negeri yang makan maggot enggak cuma unggas dan ikan," jelas Fathimah. 

CEO Biomagg Sinergi Internasional Aminudi mengamini pernyataan tersebut. Di tingkat global, penerimaan BSF sebagai asupan protein berbasis serangga sudah jauh lebih dulu jauh berkembang dibandingkan di dalam negeri. 

Hal ini disebabkan antusiasme yang tinggi dari pelaku usaha terkait BSF di luar negeri. Bahkan, dalam kondisi yang lebih advance hilirisasi lalat ini tidak hanya terbatas pada pemenuhan pakan ternak semata. 

Amin mencontohkan Korea Selatan sedang mengembangkan produk kosmetik dengan salah satu bahan bakunya dari BSF. Apalagi, penelitian lebih lanjut mampu mengembangkan produk turunan lain yang masih begitu luas.

Sementara permintaan BSF di Tanah Air baru menggeliat sekira 1–2 tahun terakhir. "Sisi lain Indonesia lebih optimal untuk produksi maggot BSF, karena daerah tropis yang notabene begitu menguntungkan untuk budidayanya," katanya kepada Validnews, Rabu (28/7). 

Kendala budidaya BSF luar negeri, adalah cuaca yang lebih ekstrem. Di luar, biaya produksi yang dibutuhkan lebih besar. 

Sejauh ini, perusahaan yang didirikan pada 2016 telah memiliki reseller produk yang tersebar di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Thailand. Sementara, pihaknya juga tengah menjajaki intensif calon buyer dari Belanda dan AS untuk menandatangani kontrak. 

Sementara itu, sejalan dengan penerimaan pasar di dalam negeri, omzet Biomagg di waktu yang sama juga meningkat. Untuk nasional, kunci penjualan berada pada edukasi pengolahan dan penggunaan maggot BSF untuk kebutuhan pakan hewan. 

Saat ini, setiap bulannya perusahaan mampu meraih omzet penjualan sekitar puluhan hingga ratusan juta. Biomagg sendiri menawarkan variasi produk akhir, seperti maggot bentuk beku, kering, tepung, minyak, pelet ikan, hingga produk turunan berupa sabun. 

Mayoritas pembeli Biomagg masih dominan di Pulau Jawa dan terkonsentrasi di Jabodetabek. Meski demikian, pihaknya sudah menyediakan sekitar 70 reseller yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Diferensiasi produk akhir menjadi keunggulan dibandingkan produk serupa di pasaran. Begitu juga memperkuat posisi industri di tengah persaingan dengan kompetitor. Data riset dan pengembangan terus dikumpulkan agar bisa terbentuk kemauan pasar. 

“Selain pakan ikan, ada juga pupuk. Kalau dilihat, komoditas penjualan berdasarkan hobi semakin meningkat signifikan," ujarnya. 

Coba Memecah Tantangan Serapan
Kini, Magobox dan Biomagg tengah menggodok cara terbaik agar panen maggot BSF skala rumahan bisa diserap dalam tingkatan industri. 

Adapun pembahasan tersebut bakal mencakup sistem logistik pengiriman dari rumah ke tempat produksi Biomagg, sistem harga pembelian, kualitas yang diterima dalam skala industri dan teknis-teknis yang lain. 

Langkah ini diyakini strategis agar membuat orang semakin tertarik untuk budidaya. Pendistribusian dan pemanfaatan lanjutan maggot BSF seringkali membuat tanda tanya besar bagi pembudidaya awam. 

Harapannya, pembudidaya tidak lagi bingung memikirkan hilirisasi panen maggot, dan bisa fokus mengolah sampah organik. 

"Misal, tidak ada channel (disalurkan) ke peternakan atau mereka tidak mau jual sendiri. Padahal, kalau bisa mengemas dan jual sendiri harganya bisa lebih tinggi, soalnya di Shopee banyak yang jual,” ujarnya. 

Amin beserta timnya pun bakal membuka kemungkinan-kemungkinan kolaborasi lebih lanjut di masa depan dengan Magobox. Memang salah satu visinya adalah Biomagg jadi offtaker produksi Magobox skala kecil. 

"Agar perputaran ekonomi semakin bagus dan agar industri semakin menggeliat. Kurang lebih, kami siap," kata Amin. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER