Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

19 Juli 2021|21:00 WIB

Membangun Komunitas Dengan Lukisan

Digawangi oleh tiga pendiri, Bartega tak hanya meraup untung. Mereka juga mengembangkan komunitas.

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Fin Harini

ImageBenson Putra (28), Nadia Daniella (27), dan Jazz Pratama (26) membangun usaha Bartega sejak April 2017. Bartega/Dok

JAKARTA – Saban hari Benson Putra menghabiskan waktunya berlama-lama di depan komputer. Kegiatannya bukan untuk bermain games . Namun, Benson menghabiskan waktunya untuk berkali melakukan panggilan Zoom dengan beberapa orang di seberang layar. Tak hanya orang dewasa saja, ia juga kerap melakukannya dengan anak-anak.

Selama panggilan berlangsung, kedua tangannya tampak sibuk memegang kanvas dan kuas. Tatapannya pun terlihat fokus. Secara perlahan, ia menorehkan cat di atas kanvas putih, kemudian memadukan warna hingga membentuk sebuah gambar yang diinginkan.

Langkah demi langkah, ia coba jelaskan secara perlahan kepada lawannya bicara.  Dia berharap mereka mengerti dan mengikuti setiap arahannya tanpa tertinggal. Benson memandu mereka melukis hingga selesai.

Tak terasa, sudah satu tahun lebih Benson melakukan kegiatan rutin ini secara virtual. Jika digabung dengan sebelum pandemi, total dia sudah menjadi pengajar Bartega selama empat tahun lamanya.

Bagi penikmat karya seni, nama Bartega mungkin tidak asing lagi. Di bawah bendera Bartega yang didirikan sejak April 2017, Benson bersama kedua teman kampusnya di University of Southern California, yaitu Nadia Daniella dan Jazz Pratama, berhasil menyalurkan hobi melukis menjadi sebuah peluang usaha.

Bartega awalnya dikenal sebagai penyelenggara berbagai kegiatan komunitas, seperti wine tasting dan workshop melukis di tiga kota utama, yakni Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Namun belakangan, karena adanya pandemi covid-19, perusahaan yang digawangi oleh tiga founder ini mengalihkan seluruh kegiatan yang tadinya offline menjadi online. Bartega telah menyadari tren disrupsi digital, terutama bagi kalangan milenial.

Karenanya, perusahaan ini berupaya untuk mengandalkan teknologi digital pada setiap fase bisnisnya. Mulai dari memproduksi karya seni via aplikasi, menghadirkan user journey yang seamless di website-nya, hingga mendistribusikan tiket acara melalui platform digital.

Kini, Bartega terbilang sukses. Usaha ini meraup omzet menggiurkan, berkisar ratusan juta rupiah. Perusahaan juga telah mempekerjakan belasan tenaga yang menempati beberapa posisi, sesuai keahlian. Mulai dari tim desain, marketing, business development, guru, tim kreatif, dan lainnya.

"Mungkin kita bertiga tidak semuanya fasih di teknis, tapi semua percaya kalau misalkan art itu mestinya sesuatu yang accessible ke semua orang," ujar pria kelahiran tahun 1992 kepada Validnews saat dihubungi, soal bisnisnya ini, melalui sambungan telepon, Selasa (13/7).

Mereka percaya seni bukan hanya untuk yang profesional. Apapun profesinya, tetap bisa memiliki akses ke seni dan menganggap itu sebagai sebuah aktivitas yang bermanfaat.

Satu Hobi
Keinginan mendirikan Bartega berasal dari ide bersama. Kala itu, mereka memiliki harapan untuk menciptakan komunitas seni yang unik di Jakarta.  

Mereka kemudian mencari tahu lebih dalam melalui riset. Alasan kenapa orang tidak mau menggambar atau melukis, apa yang membuat mereka takut, hingga apa yang membuat mereka merasa terintimidasi, adalah di antara yang mereka amati.

Setelah mengantongi sejumlah jawaban dan merasa mantap, ketiganya sepakat memulai mewujudkan ide usaha kelas melukis.

Perjalanan dimulai saat Bartega mengambil langkah berani untuk coba menggelar sebuah acara melukis. Bermodal uang tabungan yang mencapai jutaan rupiah, ketiganya mulai menyewa tempat dan memperkenalkan produknya secara luas.

Ide ini menarik banyak perhatian. Masyarakat antusias menyambut. Tiket untuk mengikuti event itu terjual. Modal berubah menjadi omzet pertama yang diraih. Kemudian, omzet ini dijadikan dana membeli sejumlah peralatan, mengedukasi guru, hingga membayar sewa tempat.

"Jadi, penjualan tiket di awal kita untuk dibelikan peralatan, untuk edukasi guru. Terus karena challenge kita tidak punya tempat juga, kita kerja sama dengan restoran atau kafe," terang Benson.

Hal yang digagas mereka bukan layaknya kelas melukis biasa. Harapannya, semua orang dibuat dapat menikmati seni bersama teman atau bahkan keluarga.

Mereka membuatnya dengan atmosfer yang rileks dan santai, namun tetap dapat menyampaikan cerita. Idealnya, peserta bisa mendapatkan manfaat maksimal dari melukis.

Tak mau hanya mengandalkan promosi mulut ke mulut, Bartega mulai melebarkan sayap dengan menjelajah internet dan menyediakan beragam konten online tutorial melalui YouTube dan Instagram.  

Kini, jumlah pengikut Instagram dan YouTube Bartega terbilang banyak. Instagram resmi @bartega.studio, misalnya, telah diikuti lebih dari 50 ribu pengikut. Sementara untuk YouTube-nya, telah ada lebih dari 3.000 subscriber

Lihai Melihat Peluang
Saat pandemi covid-19 menerpa, Bartega turut terkena dampaknya. Berbagai pembatasan membuat mereka tak leluasa lagi menggelar event melukis.

Perusahaan memanfaatkan peluang yang ada. Mereka melakukan beberapa penyesuaian, seperti memasarkan paint kit melalui website resmi dan platform Tokopedia. Kemudian, penyelenggaraan kelas dilakukan melalui secara virtual dengan Zoom.

Selain itu, Bartega juga menyediakan produk baru berupa paint by number, sebuah gambar tanpa warna dengan panduan berupa nomor untuk memudahkan pewarnaan. Produk ini terdiri dari dua pilihan, yakni collection dan custom. Untuk collection, tersedia 21 gambar yang selalu tersedia, harganya dibanderol mulai dari Rp200 ribu.

Sementara untuk custom, terdiri dari tiga artwork style, yaitu realistic, modern 2D illustration, dan colorful pop art. Harga tergantung dari isi paket dan ukuran canvas.  

Paint by number diklaim lebih leluasa dibandingkan kelas. Karena, tidak terikat waktu dan dapat dikerjakan kapan saja saat punya waktu luang. Pemula pun bisa menghasilkan lukisan indah, karena ada panduan yang bisa diikuti saat mewarnai.

Namun, walau telah meluncurkan beberapa produk baru, pendapatan Bartega sepenuhnya masih berasal dari event. Event di tengah pandemi ternyata masih banyak diminati, meski dilaksanakan secara virtual.

"Paint by number hanya salah satu produk yang tidak terlalu menjadi karakter utama Bartega. Sebenarnya kita ada kelas, penjualan peralatan lukis, corporate events juga masih banyak dan kita juga ada beberapa social media campaign dengan beberapa brand untuk menunjukkan produk mereka atau story telling," terangnya.

Untuk saat ini, event yang tengah digandrungi sendiri adalah event untuk anak-anak. Hal ini dikarenakan anak-anak tidak bisa bebas beraktivitas di luar dan hanya bisa di rumah. 

Sementara itu, business to business (B2B) Bartega kebanyakan datang dari perusahaan, yakni perusahaan membuat sebuah program yang eye catching atau menarik perhatian pelanggan mereka. Misalnya bank atau perusahaan asuransi. Program ini juga bisa dilakukan perusahaan untuk karyawannya. Kegiatan yang dilakukan, misalnya adalah bagaimana mereka masih bisa ngobrol satu sama lain tapi bukan dari pekerjaan, melainkan dari melukis.

Kalahkan Persepsi
Meski dapat bekerja sesuai dengan hobi dan dengan tim yang memiliki misi yang sama, namanya usaha tetap tak selalu berjalan mulus. Perjalanan Bartega pun penuh dengan liku-liku. Kemudian, muncul pandemi.

"Walaupun berlangsung dua tahun, kita belum menemukan formula yang tepat. Tetep harus menyesuaikan berdasarkan pelanggan baru. Ekspektasi mereka seperti apa, penyambutan mereka seperti apa, dan apa yang mereka inginkan untuk lakukan di rumah sekarang," tuturnya.

Begitu pula untuk melakukan kolaborasi dalam bentuk produk, acara, dan campaign tak bisa memilih secara asal. Ia menekankan harus memilih brand yang tepat. Perlu upaya untuk mengetahui karakteristik calon pelanggan Bartega. Juga, pelanggan dari perusahaan yang akan menggunakan jasa Bartega.

Antara online dan offline, Benson menilai keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saat offline, Bartega lebih fleksibel untuk mengembangkan service.


Sementara kalau online, meski dapat menjangkau lebih banyak orang di luar pulau Jawa dan Bali. Namun, keadaan saat ini membuatnya harus lebih berhati-hati memilih pemasaran. Selain itu, pengeluaran untuk mendapat pelanggan baru juga mesti kencang.

Kini, Benson belum dapat membeberkan rencananya ke depan. Meski demikian, ia mengaku ingin fokus memperluas komunitas pada masa yang serba online seperti saat ini. Yang jelas, membantu orang menjadi lebih percaya diri di bidang seni, dan bisa memanfaatkan kemampuan yang dimiliki, adalah mimpi besar Bartega.

 "Jadi community development itu yang salah satu yang kita ingin kencangkan banget sekarang," tutupnya.


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER