Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

16 Juli 2021|18:29 WIB

Koperasi Untuk Maksimalkan Potensi Industri Pariwisata

Ketimbang bersaing, pelaku UMKM lebih baik bekerja sama dalam satu wadah agar menghasilkan manfaat bersama-sama.

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

ImagePembuatan topeng Panji untuk suvenir wisata dan pementasan tari di Sanggar Lintang Pandu Sekar, Malang, Jawa Timur, Rabu (3/3). ANTARA FOTO/Ari Bowo S

JAKARTA - Sektor pariwisata di Indonesia memiliki segudang potensi yang bisa dimanfaatkan oleh berbagai kalangan pelaku usaha.

Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Ekonomi Makro Rulli Nuryanto menjelaskan peluang di sektor pariwisata itu juga seyogianya dimanfaatkan oleh para pelaku koperasi, termasuk unit-unit UMKM di dalamnya.

Menurut Rulli hal itu tak lepas dari realita ketika ada industri wisata atau destinasi-destinasi yang mulai berkembang, di situ pula terdapat banyak pelaku UMKM turut meramaikan ekosistem pariwisata.

"Jadi menurut saya, industri pariwisata dengan para pelaku koperasi dan UMKM itu sama saja dua sisi berbeda dalam satu koin yang sama," ungkap dia dalam Rangkaian Webinar Hari Koperasi Ke-74 bertopik 'Peran dan Strategi Koperasi Pariwisata Dalam Pembangunan Nasional' di Jakarta, Jumat (16/7).

Menurut Rulli, dewasa ini sudah banyak koperasi yang turut meramaikan dunia kepariwisataan nasional. Beberapa tempat ataupun destinasi wisata, lanjutnya, sudah dalam status kelolaan koperasi.

Koperasi-koperasi tersebut antara lain mewadahi para pemandu wisata, pengelola homestay, pengelola berbagai macam jenis pelatihan, penyewaan sarana arung jeram, perlengkapan menyelam, hingga penyewaan peralatan paralayang.

Data olahan Rulli juga menunjukkan hingga saat ini, sudah terdapat 79 koperasi aktif yang bergerak di sektor pariwisata dengan jumlah anggota yang tidak kurang dari 4.046 orang.

"Artinya kalau dari sisi jumlah, masih banyak yang harus kita dorong agar koperasi sektor pariwisata ini bisa terus berkembang," kata dia.

Mengenai pengembangan koperasi pariwisata, Rulli meyakini jika dilakukan secara maksimal maka kemudian juga akan memiliki manfaat bagi para pelaku UMKM agar mereka bisa masuk ke skala ekonomi.

"Kita tidak ingin UMKM berusaha sendiri-sendiri, tetapi saling mensinergikan potensi mereka dalam satu wadah yang juga mereka miliki dan dikelola bersama-sama," harapnya.

Rulli menyebut, para pelaku UMKM, khususnya yang ada di destinasi wisata semestinya fokus menghasilkan produk kreatif yang berkualitas. Nantinya, koperasi akan berperan memberi dukungan bagi para pelaku usaha di sektor pariwisata.

Menurut dia, hal tersebut jauh lebih baik ketimbang UMKM pariwisata menjalankan usahanya sendiri-sendiri dan berpotensi menimbulkan persaingan antarpelaku usaha yang kemudian malah saling merugikan.

Ia menegaskan entitas koperasi memiliki peluang besar untuk memulai kiprah di industri pariwisata dan memberi manfaat yang besar bagi para pelaku UMKM di sektor tersebut.

"Sehingga lebih baik mereka bekerja sama dalam satu wadah yang kemudian bisa menghasilkan manfaat dan keuntungan bersama-sama," tandas Rulli.

Lebih lanjut, Rulli mengimbau para pelaku KUMKM yang ikut meramaikan sektor pariwisata agar bisa beradaptasi dan berinovasi di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian ini.

Menurut dia, industri pariwisata di masa pandemi sangat mengedepankan sejumlah aspek, mulai dari tingkat higienitas, sanitasi, keamanan, kenyamanan, hingga keberlanjutan usaha.

"Penerapan protokol kesehatan juga harus menjadi pegangan utama bagi mereka (pelaku KUMKM.red) yang masuk ke industri pariwisata," tegasnya.

Perebakan pandemi covid-19 menurutnya menjadi salah satu disrupsi bagi pengembangan KUMKM. Beriringan dengan pandemi, muncul pula disrupsi demografi berupa perubahan struktur penduduk Indonesia. Kini, sekitar 64% didominasi oleh kalangan muda yang terdiri dari milenial dan Generasi Z.

Tak sampai situ, proses pengembangan KUMKM juga berhadapan dengan disrupsi teknologi informasi atau revolusi industri 4.0 yang berkembang begitu pesat. Dengan begitu, Rulli mengimbau agar para pelaku KUMKM bisa beradaptasi agar bisa mengatasi disrupsi tersebut.

"Ketiga hal tersebut harus kita antisipasi dan manfaatkan sebaik mungkin untuk perkembangan ekonomi nasional dan khususnya industri pariwisata," ucap Rulli.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER