Kepala BPS Sebut Indonesia Masih Beruntung Memiliki Inflasi Rendah | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

25 November 2021|15:25 WIB

Kepala BPS Sebut Indonesia Masih Beruntung Memiliki Inflasi Rendah

Margo menuturkan, masyarakat Indonesia saat ini mudah mendapatkan barang serta komoditas untuk dikonsumsi. Hal ini membuat inflasi menjadi terkendali

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Dian Hapsari

Kepala BPS Sebut Indonesia Masih Beruntung Memiliki Inflasi RendahPedagang sayur mayur menunggu pembeli di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya.

JAKARTA – Indonesia disebut beruntung memiliki angka inflasi rendah di tengah pandemi covid-19. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan, hal ini menyebabkan masyarakat tidak kekurangan pasokan barang yang dibutuhkan.

"Kita beruntung memiliki inflasi yang rendah, karena pasokan di dalam negeri yang terjaga," katanya dalam Workshop Wartawan di Jakarta, Kamis (25/11).

Margo menuturkan, masyarakat Indonesia saat ini mudah mendapatkan barang serta komoditas untuk dikonsumsi. Hal ini membuat inflasi menjadi terkendali.

Ia bilang, hal tersebut berbanding terbalik dengan negara lain. Di negara lain, tingkat inflasi mulai melonjak antara lain di Amerika Serikat (AS) hingga Eropa, harga-harga barang dan komoditas melonjak sangat tinggi karena sempat terganggunya produksi barang akibat disrupsi pagebluk.

"Di tingkat produsen beberapa negara, sudah ada pergerakan harga yang tinggi, bahkan keadaan ini ditakutkan akan sampai ke konsumen," ujarnya.

Meskipun begitu, ia berpendapat efek lonjakan inflasi internasional tersebut tetap perlu diwaspadai dipelajari untuk mengantisipasi kemungkinan adanya kelangkaan produksi di dalam negeri.

Seperti diketahui, BPS melaporkan inflasi Januari–Oktober 2021 mencapai 0,9% (year to date/ytd), sedangkan inflasi bulan Oktober 2021 sebesar 1,66% secara tahunan (year on year/yoy).

Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyebut kenaikan inflasi pada bulan Oktober 2021 sudah diprediksi seiring dengan pelonggaran aktivitas sosial masyarakat. Hal ini terjadi karena melandainya kasus covid-19 yang berimplikasi pada pelonggaran aktivitas dan mobilitas masyarakat yang meningkat drastis.

"Mobilitas yang tinggi mendorong pertumbuhan permintaan untuk makanan minuman serta transportasi. Bahkan permintaan barang-barang bahan bangunan ikut meningkat. Semua ini menyebabkan meningkatnya inflasi," kata Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah kepada Validnews di Jakarta.

Ia menegaskan, kenaikan inflasi yang terjadi pada bulan Oktober 2021 adalah konsekuensi wajar dan mulai pulihnya aktivitas masyarakat. Hal ini menurutnya membuka peluang pulihnya ekonomi.

Meski begitu, ia mengatakan inflasi yang terjadi kali ini merupakan kabar baik karena masih dalam kisaran yang rendah. Ia memprediksi, hingga akhir tahun inflasi masih dalam target yang ditetapkan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia.

"Diperkirakan inflasi hingga akhir tahun masih akan dalam range target pemerintah dan BI. saya perkirakan inflasi dua bulan ke depan masih akan meningkat sehingga inflasi tahun 2021 akan berada dalam kisaran 2 sampai dengan 3%," imbuhnya.

Sementara itu, dihubungi terpisah, Center of Economic and Law Studies CELIOS menyatakan faktor lain dari naiknya inflasi pada bulan Oktober 2021 menyatakan pemerintah mesti memperhatikan komoditas minyak goreng karena adanya kenaikan harga internasional minyak kelapa sawit berdampak juga ke harga eceran di Indonesia.

"Jangan sampai stok didorong untuk ekspor semua," kata Direktur CELIOS Bhima Yudhistira kepada Validnews.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA