Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

BERITA

04 Mei 2021|19:10 WIB

Kepala BKF Ingin Momentum Pemulihan Tetap Dijaga

PMI Manufaktur Global dan Nasional Kembali Cetak Rekor Tertinggi.

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Fin Harini

ImagePekerja menyelesaikan proses perakitan bodi mobil di pabrik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Risky Andrianto

JAKARTA - Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur global meneruskan penguatannya dan mencapai angka tertinggi sejak April 2010 di angka 55,8. Sejalan dengan global, Indonesia juga meneruskan penguatan dan kembali mencatatkan rekor tertinggi sejak survei dilakukan. 

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, pemerintah perlu menjaga momentum pemulihan dengan tetap menjaga daya beli masyarakat dan berkomitmen untuk melanjutkan dukungan terhadap pelaku usaha.

Pelaksanaan percepatan program vaksinasi nasional memperkuat optimisme pelaku bisnis sektor manufaktur terhadap prospek pemulihan ekonomi yang lebih cepat.

“Namun demikian, pelaksanaan vaksinasi harus terus diimbangi dengan peningkatan upaya 3M dan 3T untuk mencapai herd immunity,” katanya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa (4/5).

Seperti diketahui, PMI Global meningkat didorong oleh pertumbuhan solid di sisi new orders, new export business, dan employment. Eropa dan AS mencatatkan kinerja manufaktur yang sangat kuat yang didorong pertumbuhan new orders seiring kenaikan permintaan.

PMI manufaktur AS sebesar 60,5 atau angka tertinggi sejak Mei 2007, sementara manufaktur negara lain di benua Amerika, seperti Kanada dan Brazil masih berada dalam tren ekspansif meski angkanya turun dibandingkan bulan sebelumnya. Pada April, PMI Kanada mencapai 57,2, sedangkan Brazil 52,3.

Sementara, Tiongkok, Jepang, dan India berhasil mempertahankan tren positif didukung pertumbuhan pada tingkat permintaan. PMI masing-masing adalah 51,9, 53,6 dan 55,5.

Dari sisi regional, ASEAN menunjukkan performa manufaktur yang bervariasi. Aktivitas manufaktur Indonesia dan Malaysia (53,9) berada pada zona ekspansif, tetapi Filipina (49,0) kembali ke zona kontraksi akibat eskalasi covid-19 yang memicu pengetatan restriksi.

Secara global, efek gangguan supply chain masih dirasakan, tekanan inflasi atas bahan baku masih tinggi dan menambah beban biaya produksi. Namun, tingginya optimisme bisnis di tengah percepatan vaksinasi diharapkan mempercepat pengendalian pandemi serta mendongkrak pemulihan permintaan global.

Rekor Dua Bulan
Di dalam negeri, PMI Manufaktur Indonesia tercatat pada angka 54,6 di bulan April 2021. Hal ini menunjukkan terjadinya ekspansi selama enam bulan berturut-turut.

Angka tersebut meningkat dari rekor sebelumnya pada 53,2 di Maret 2021 dan merupakan rekor dalam dua bulan berturut-turut. Momentum ekspansi ini menggambarkan kenaikan output, permintaan baru, dan pembelian, serta permintaan ekspor yang kembali tumbuh setelah 16 bulan berkontraksi. 

Febrio bilang, angka PMI tersebut mencerminkan perbaikan nyata pada kondisi bisnis, seiring dengan lonjakan permintaan baru dan kembalinya bisnis baru dari luar negeri.

“Dengan bisnis baru mengalami ekspansi tajam, perusahaan manufaktur juga menaikkan volume produksi. Perbaikan volume pada produksi ini kedepannya diharapkan dapat meningkatkan tenaga kerja baru secara umum,” katanya.

Di sisi lain, volume produksi yang semakin tinggi menimbulkan permintaan input yang lebih tinggi, dengan pasokan yang relatif terbatas. Hal ini secara alami menyebabkan peningkatan harga input yang berpengaruh terhadap harga jual kepada konsumen selama enam bulan terakhir.

Hal ini tampak pada tingkat inflasi yang mulai muncul meskipun belum kembali ke tingkat sebelum pandemi. Secara umum, produsen di Indonesia masih sangat optimistis produksi akan terus menguat, didorong harapan bahwa pandemi covid-19 akan berakhir pada tahun mendatang.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA