Kementan Usung One Health Untuk Hentikan Ancaman AMR | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

25 November 2021|09:30 WIB

Kementan Usung One Health Untuk Hentikan Ancaman AMR

Ancaman resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR), yang diprediksi akan menjadi pembunuh nomor satu di dunia pada 2050

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

Kementan Usung <i>One Health</i> Untuk Hentikan Ancaman AMRMenteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (kanan) di Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (11/9/2021). ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

BALI – Kementerian Pertanian terus waspadai ancaman resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR), yang diprediksi akan menjadi pembunuh nomor satu di dunia pada 2050. Pada laporan yang dirilis Global Review pada 2016, tingkat kematian disebut akan mencapai 10 juta jiwa/tahun. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menggarisbawahi, prediksi tersebut dapat terjadi apabila tidak ada upaya konkret dalam pengendalian penggunaan antimikroba. 

"Oleh karena itu, perlu upaya bersama merealisasikan resolusi global yang diterjemahkan ke dalam Rencana Aksi Global dan Rencana Aksi Nasional dalam pengendalian AMR,” katanya dalam siaran pers 'Puncak Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia', Jakarta, Rabu (24/11). 

Kondisi AMR mengacu pada keadaan saat bakteri, virus, jamur, dan parasit mengalami perubahan seiring waktu, sehingga tidak lagi merespons obat-obatan yang dirancang untuk membunuh mikroba-mikroba tersebut. Kondisi ini terjadi karena antimikroba diberikan dengan dosis dan indikasi yang tidak tepat. 

Pendekatan One Health atau kerangka kerja kesehatan terpadu, sebut SYL, bisa menjadi panduan dalam memastikan semua pemangku kepentingan dari berbagai disiplin ilmu terlibat dalam proses membangun ketahanan dan memecahkan permasalahan kesehatan. 

Pentingnya penggunaan pendekatan One Health karena AMR tidak lagi hanya dilihat sebagai masalah yang berdiri sendiri. Persoalan AMR terkait dengan berbagai sektor, seperti kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, rantai makanan, pertanian, dan sektor lingkungan.

One Health ini bertujuan untuk mencapai kesehatan yang optimal melalui komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi multi-sektoral. Semua sektor masyarakat harus terlibat, aktif dan bertanggung jawab atas penyebaran AMR,” ungkapnya.

Untuk sektor pertanian, serta peternakan dan kesehatan hewan, AMR menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ketahanan pangan dan turut mengancam pengembangan kesehatan hewan. 

“Untuk itu, kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan kapasitas sektor pertanian, dalam mengelola risiko AMR dan membangun ketahanan terhadap dampak AMR,” jelas SYL.

Dengan menggunakan One Health, Kementan bersama kementerian, lembaga dan stakeholders terkait lain, telah menyiapkan rencana strategis serta peta jalan dalam berbagai upaya pengendalian dan penanggulangan AMR di Indonesia. 

Langkah penting lain yang telah dilakukan Kementan adalah pengaturan penggunaan antibiotik, di bidang peternakan dan kesehatan hewan yang melarang penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan. 

SYL berharap, sejumlah program yang dijalankan pemerintah dapat didukung semua pihak. “Dibutuhkan komitmen bersama, tidak hanya di Indonesia, tapi juga dengan lembaga-lembaga dunia, untuk mewujudkan gerakan pengendalian AMR,” ujar SYL.  

Dukung Ajakan Kementan 
Kepala Perwakilan FAO di Indonesia Rajendra Aryal menyambut positif ajakan dari Kementan Indonesia. Dirinya menilai, pemerintah Indonesia telah menunjukkan upaya penanggulangan AMR dengan menerapkan pendekatan One Health.  

Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba (RAN PRA) telah dikembangkan dan diimplementasikan oleh pemangku kepentingan multisektoral. 

“FAO telah bekerjasama dengan Ditjen Peternakan dan Layanan Hewan di bawah Kementan untuk memberikan dukungan teknis yang diperlukan agar tercapainya target RAN PRA dalam sistem produksi peternakan dan pangan,” sebutnya. 

Rajendra menambahkan, pengendalian AMR tidak hanya cukup dilakukan melalui pendekatan institusional. Menurutnya, penting bagi semua pihak untuk memperoleh saran dari pakar atau professional, sebelum membeli dan menggunakan antimikroba dalam proses produksi dan kesehatan hewan. 

“Kewaspadaan kita pada bahaya AMR akan mengarahkan pada sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan tangguh,” tegasnya.

Sekretaris Jenderal Kementan Kasdi Subagyono menyebut, dalam kerangka One Health, sangat penting bagi semua pihak untuk memberikan perhatian khusus pada persoalan kesehatan hewan. 

“Bagaimanapun kesehatan hewan bisa berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Dan dampaknya bisa berupa kematian. Sehingga penting bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk mengerti,” jelas Kasdi. 

Untuk itu, Kementan akan melakukan pemetaan kelompok masyarakat dan pelaku usaha yang belum memahami ancaman yang diakibatkan AMR. Di sisi lain, Kementan pun akan mengidentifikasi wilayah-wilayah yang rentan mikroba. 

“Data dari hasil mapping ini bisa menjadi dasar kita dalam menentukan action plan untuk mengendalikan AMR,” imbuhnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA