Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

30 April 2021|20:16 WIB

Kementan Dukung Penuh Digitalisasi Dan Regenerasi Pertanian

Pertanian berteknologi memudahkan petani dalam berbudidaya secara lebih efisien

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Nadya Kurnia

ImageSeorang operator mengoperasikan mesin panen padi kombinasi di area persawahan Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

BANDUNG - Kementerian Pertanian merespon positif pelaku usaha di bidang teknologi-informasi atau IT yang memasuki sektor pertanian. Terbukti dengan semakin maraknya pertanian berbasis smart farming. 

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengklaim, pertanian berteknologi dapat memudahkan petani dalam berbudidaya secara lebih efisien. 

Langkah itu juga sekaligus mendorong anak muda untuk terjun ke dunia pertanian. Karena itu, dirinya sangat mengapresiasi petani muda yang mampu menguasai teknologi pertanian.

“Hortikultura Indonesia akan semakin maju dan modern dengan hadirnya petani milenial yang mampu menguasai smart farming untuk peningkatan efisiensi produksi, kualitas dan kontinuitas produk-produk hortikuktura,” ujar Prihasto dalam siaran pers, Jakarta, Jumat (30/4). 

Ketua kelompok tani Serenity Farm Ade Rukmana berharap usaha sayuran yang dipasarkan ke luar negeri dapat benar-benar meningkatkan animo pemuda tergabung di sektor pertanian. 

Selain itu usaha yang diakukannya juga sekaligus membangun desa. Tujuannya, mendorong regenerasi anak muda untuk bertani dan mengurangi jumlah petani perambah hutan.

“Selain ingin menghasilkan komoditas pertanian yang bersih dan sehat, kami juga ingin menumbuhkan SDM petani milenial sehingga mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat seperti nongkrong,” ujar Ade.

Informasi saja, poktan Serenity Farm yang terletak di Desa Cibodas, Lembang yang sukses membudidaya baby buncis Kenya yang diekspor ke Singapura. Selain itu, ada horenzo, beetroot dan tomat beef yang dipasarkan di Bandung dan Jakarta. 

Untuk memenuhi permintaan pasar, poktan bekerja sama dengan Dompet Dhuafa sebagai mitra petani. Mitra petani diberi dukungan dalam bentuk pembibitan dan pemupukan. 

Sementara itu, keduanya juga melakukan pemberdayaan terhadap petani yang tidak memiliki lahan melalui program Desa Tani. Petani perambah hutan dan buruh tani bisa bertani sendiri dengan bantuan modal pembiayaan kebun dan disewakan lahan.

“Saat ini, sudah terdapat tiga Desa Tani dengan luas kurang lebih 3 hektare per desa. Dari tiap luasan per desa dibagi menjadi 20 blok dan digarap per minggu oleh dua orang,” sambung Ade.

Di lapangan, keberadaan Serenity Farm di Desa Cibodas ternyata, sangat membantu mitra petani karena dapat memberikan kepastian harga. Sebab poktan sudah memiliki pasar tetap, begitu pula dengan menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas komoditas sehingga menjamin mitra petani.

Pengenalan Smart Farming 

Pada satu waktu, Ade berencana untuk memiliki sistem pertanian modern di wilayahnya. Hanya saja, ada tantangan kesulitan air. Setidaknya, jarak sumber air ke lahan petani cukup jauh sekitar 2,8 km, sehingga perlu bantuan pipanisasi. 

Mendengar hal itu, Diskominfo Jabar yang menggandeng start up Habibi Garden untuk menawarkan solusi bagi poktan. Solusi tersebut pun akhirnya dimaksimalkan seluruh pihak sebagai lahan percontohan desa digital dengan menerapkan smart farming berbasis teknologi IoT. 

Teknologi tersebut memberi kemudahan bertani dengan aplikasi di smartphone. Dengan teknologi Habibi Garden usaha tani yang dijalankan di serenity farm menjadi lebih efektif dan efisien. 

"(Akhirnya), kegiatan penyiraman, pemupukan dan monitoring lahan dapat diakses jarak jauh melalui smartphone. Selain itu, teknologi ini juga dapat menghemat pemakaian air dan nutrisi karena penyiraman dan pemupukan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang terinfo dalam aplikasi," jelas Ade. 

Keberhasilan proyek membuat penggunaan air dan pupuk terbuang percuma. Bahkan, pemakaian air pun diklaim bisa hemat hingga 60%.

Teknologi tersebut juga mampu memberikan informasi mengenai kondisi lahan optimal untuk setiap komoditas, informasi kondisi riil lahan sejak kegiatan penanaman hingga panen, serta dapat memprediksi waktu dan kuantitas panen. 

Sistem atau instrumen yang dibangun dalam teknologi Habibi Garden adalah sistem rekayasa lingkungan seperti monitoring kondisi suhu, pH tanah dan lainnya.

Rangkain instrumen tersebut dapat dipilih sesuai dengan jenis tanaman hortikultura yang ingin dibudidayakan. Terdapat 20 jenis tanaman hortikultura pada menu aplikasi; terdiri dari cabai, buncis, tomat, paprika dan lainnya.

Sistem smart farming dapat berjalan dengan prasyarat memenuhi empat hal yakni; ketersediaan air, listrik, internet dan sosial. Dengan kemiringan lahan maksimal 11 derajat.

“Saya optimis anak muda akan semakin tertarik bertani dengan adanya teknologi ini. Memang biaya teknologi ini cukup mahal sehingga perlu integrasi program dan kegiatan lintas kementerian dan lembaga untuk mereplikasi smart farming ini,” ujarnya.


 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA