Kemenperin Dorong Industri TPT Nasional Manfaatkan Teknologi Hijau | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

25 November 2021|19:52 WIB

Kemenperin Dorong Industri TPT Nasional Manfaatkan Teknologi Hijau

Langkah ini selaras dengan tren industri global yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

Kemenperin Dorong Industri TPT Nasional Manfaatkan Teknologi HijauIlustrasi energi hijau. PLTS Irigasi Tanjung Raja yang dibangun PT Bukit Asam Tbk di Tanjung Raja, Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (18/11). ANTARAFOTO/Nova Wahyudi

JAKARTA – Kemenperin mendukung penerapan teknologi pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT) untuk mendukung peningkatan produktivitas, dengan tetap menggunakan pendekatan ramah lingkungan dan keberlanjutan secara global. 

Kepala BSKJI Kemenperin Doddy Rahadi mengatakan, Kemenperin meyakini penerapan teknologi industri hijau dinilai mampu memacu efektivitas dan efisiensi dalam proses produksi di sektor manufaktur.

“Sebagai salah satu sektor prioritas Making Indonesia 4.0, industri TPT nasional perlu meningkatkan kualitas produk secara berkelanjutan melalui penerapan standar mutu produk dan sistem manajemen mutu, serta memperhatikan prinsip industri hijau,” katanya dalam keterangan pers, Jakarta, Kamis (25/11).

Doddy menegaskan, komitmen pemerintah terkait penerapan industri hijau di sektor tekstil telah tertuang dalam Permenperin 13/2019 tentang Standar Industri Hijau untuk Industri Tekstil, Pencelupan, Pencapan, dan Penyempurnaan. 

Ia menyebutkan kehadiran standar industri hijau menjadi bukti komitmen dari pemerintah dalam membina industri nasional ke arah pembangunan berkelanjutan. 

Adapun pembinaan yang telah dilakukan, antara lain terkait pemilihan bahan baku, bahan penolong, energi, air, proses produksi, produk, kemasan, limbah, dan emisi gas rumah kaca. 

Selain itu, dilakukan pembinaan di tataran manajemen perusahaan seperti kebijakan dan organisasi perencanaan strategis, pelaksanaan dan pemantauan, tinjauan manajemen, tanggung jawab sosial perusahaan, serta ketanagakerjaan.

“Upaya pembangunan berkelanjutan telah menjadi tren global, yang perlu diamati dan diadopsi oleh industri nasional, termasuk sektor TPT,” tutur Doddy. 

Oleh sebab itu, pemerintah berkomitmen akan terus mendorong sektor industri TPT nasional agar bertransformasi menuju industri 4.0. Serta secara sinergis memenuhi standar industri hijau mendukung pembangunan berkelanjutan.

Industri National Lighthouse yang telah mentransformasi industri 4.0 melaporkan, efisiensi hingga 70% untuk pengeluaran cost non-produktif, kemudian 6–15% efisiensi di lini produksi, peningkatan produktivitas hingga 4–8%, penurunan 30% reject ratio, 4,8% efisiensi energi, serta peningkatan produktivitas SDM hingga lebih dari 12%.

Guna mendorong perusahaan TPT Tanah Air dapat menerapkan teknologi industri hijau, Kemenperin telah menggelar kegiatan Diseminasi Teknologi Industri TPT 2021, bertema 'Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi TPT Berkelanjutan untuk Mendukung Peningkatan Substitusi Impor'.

Kegiatan ini dilakukan secara virtual, dan diikuti sebanyak 250 peserta dari kalangan pelaku industri TPT, asosiasi, pemerintah daerah, civitas akademisi, lembaga penguji, serta kementerian dan lembaga.

Di samping itu, Kemenperin telah menginisiasi kebijakan substitusi impor yang bertujuan memperbaiki neraca perdagangan nasional. Terutama, bahan baku dan bahan penolong yang menjadi tulang punggung industri pengolahan nasional. 

Upaya Substitusi Impor TPT 
Sekretaris Jenderal Kemenperin Dody Widodo berharap, substitusi impor tidak hanya memacu peningkatan konsumsi bahan baku dan bahan penolong lokal. Namun juga memacu industri nasional, dalam mengisi kekosongan pada struktur industri yang selama ini diisi dengan cara impor.

Beberapa upaya yang dilakukan Kemenperin untuk mewujudkan hal tersebut, antara lain pemberian insentif teknologi melalui program restrukturisasi mesin/peralatan 4.0 pada industri penyempurnaan kain dan pencetakan kain.

Selanjutnya, penyiapan SDM industri siap kerja melalui pendidikan vokasi berfokus pada high-skill engineer. Kemudian, meningkatkan konektivitas hulu-hilir industri TPT melalui platform Indonesia Smart Textile Industry Hub (ISTIH) yang kini telah digunakan oleh 525 industri TPT.

“Ada pula pendirian National Lighthouse sebagai benchmark implementasi industri 4.0, serta upaya pengembangan ekosistem industri special fiber, high quality yarn, dan functional clothing berbasis polyester, rayon dan padat karya melalui pendirian Apparel Park di KIT Batang,” ungkap Dody.

Menurutnya, inisiasi kebijakan substitusi impor dan pengoptimalan penggunaan produk dalam negeri membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Tidak terkecuali peran masyarakat sebagai konsumen, yang dapat mendukung dengan cara membeli produk dalam negeri. 

“Dukungan ini akan mengoptimalkan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN),” tuturnya.

Kemenperin memiliki Balai Besar Tekstil, yang merupakan satuan kerja di bawah BSKJI Kemenperin yang siap mendukung program-program tersebut dalam bentuk layanan dan pendampingan bagi industri TPT. 

Industri akan memperoleh akses informasi dan self-assessment industri terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta ikut serta dalam program INDI 4.0. 

Selain itu, BBT melayani Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu, Sertifikasi Produk, dan Sertifikasi Industri Hijau, serta memberikan konsultasi problem solving melalui Industrial Services and Solution Center (ISSC).

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA