Selamat

Rabu, 22 September 2021

06 September 2021|08:50 WIB

Kemenkop UKM Fokus Perkuat SDM Koppontren

Lemahnya SDM, kelembagaan, manajemen, pasar, hingga teknologi dan inovasi menjadi permasalahan koperasi secara umum.

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Dian Hapsari

ImagePerajin menyelesaikan pembuatan miniatur alat musik di rumah produksi Jhon's Drum, Desa Rancapetir, Kabupaten Ciamis. ANTARAFOTO/Adeng Bustomi.

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM tengah memprioritaskan penguatan SDM dalam rangka mengembangkan entitas koperasi pondok pesantren atau koppontren di berbagai daerah.

Deputi Bidang Perkoperasian Kemenkop UKM Ahmad Zabadi menyebut langkah itu tak lepas dari aspek pengelolaan koperasi, khususnya koppontren, harus dilakukan secara profesional. Fungsi manajemen pun harus digarap mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, hingga pengawasan.

"Semua harus berjalan simultan dan saling interdependensi satu dengan yang lain agar mencapai target yang telah disusun dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Koperasi (RAPBK)," ulasnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (5/9).

Zabadi menjelaskan bahwa permasalahan koperasi secara umum ialah masih lemahnya SDM, kelembagaan, manajemen, pasar, hingga teknologi dan inovasi. Sejumlah aspek tersebut, lanjutnya, perlu diperkuat agar koperasi, termasuk koppontren, bisa tetap menjaga eksistensinya.

Untuk itu, Zabadi mengatakan pihaknya dewasa ini terus menggelar pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan guna mengurai permasalahan yang ada dalam operasional koperasi.

"Seperti misalnya di Sukabumi, kami akan melepas tenaga pendamping sebanyak 25 orang yang akan ditempatkan pada koperasi yang akan dimodernisasi," tuturnya.

Ia menyebut saat ini jumlah koppontren telah mencapai 2.439 unit dengan anggota lebih dari 163 ribu orang. Berdasarkan data itu, Zabadi menegaskan semestinya koppontren menjadi pelopor gerakan perekonomian berbasis koperasi, terlebih produknya sudah memiliki pasar yang jelas, yakni para santri.

Selanjutnya, kemitraan pun dapat terjalin dengan perusahaan di luar ponpes sebagai offtaker. Untuk itu, Zabadi menerangkan koppontren harus berani keluar dari zona nyaman, salah satunya membentuk holding guna memperluas jaringan bisnis.

Para SDM atau anggota dari koppontren ia sebut harus menerapkan aspek gotong-royong untuk membesarkan lembaga itu. Dengan begitu, Zabadi yakin ke depannya koppontren tidak menutup kemungkinan menjadi entitas bisnis kerakyatan yang memiliki sejumlah fasilitas umum.

"Saya yakin koppontren ke depannya bisa memiliki rumah sakit, pabrik, peternakan, hingga bank mikro syariah," kata Zabadi.

Penguatan bisnis koppontren, ucapnya, akan memperlancar strategi pengembangan koperasi modern yang telah disiapkan Kemenkop UKM, antara lain pengembangan model bisnis koperasi melalui korporatisasi pangan hingga pengembangan factory sharing dengan kemitraan terbuka agar terhubung dalam rantai pasok.

Strategi selanjutnya ialah pengembangan koperasi multi pihak dan terakhir penguatan kelembagaan usaha anggota koperasi melalui strategi amalgamasi atau spin off dan split off. Untuk itu, Zabadi mengimbau para pengurus segera membentuk holding company.

Lebih lanjut, Ahmad Zabadi mengingatkan bahwa membangun koperasi tidak bisa dijadikan pekerjaan sampingan. Ia meyakini pengelolaan koperasi tidak berbeda jauh dengan mengelola sebuah perusahaan. Menurutnya, yang membedakan koperasi dengan perusahaan adalah kepemilikan.

"Kalau koperasi itu dimiliki anggota, sedangkan perusahaan dimiliki segelintir orang pemegang saham. Namun, secara operasional hampir sama," tandasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA