Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

12 Juli 2021|13:08 WIB

Kemenkop UKM Fokus Kembangkan Factory Sharing

Pembentukan factory sharing hingga korporatisasi pangan akan me-rebranding koperasi, juga mendukung performa UMKM

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

ImageIlustrasi budidaya udang vaname di lahan tambak Desa Singajaya, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (9/10/2020). ANTARAFOTO/Dedhez Anggara

JAKARTA – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan pihaknya tengah mengejar target yang tercantum dalam RPJMN. Khususnya terkait kontribusi koperasi terhadap PDB sebesar 5,5% dan pembentukan 500 koperasi modern pada 2024 mendatang.

Guna merealisasikan itu, Teten menjelaskan Kementerian Koperasi dan UKM akan melakukan pengembangan model bisnis koperasi melalui korporatisasi pangan, pengembangan factory sharing agar terhubung rantai pasok, hingga pengembangan koperasi multipihak dan penguatan kelembagaan serta usaha anggota.

"Langkah itu juga sekaligus upaya rebranding koperasi sebagai entitas bisnis yang modern, kontributif, serta kompetitif," ujar Menteri Teten dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-74 di Jakarta, Senin (12/7).

Pengembangan koperasi pangan, lanjut Teten, berjalan beriringan dengan pembentukan factory sharing atau rumah produksi bersama untuk sejumlah komoditas, seperti misalnya kacang koro di Sumedang, juga sayur mayur dan buah-buahan di Ciwidey. 

Tak ketinggalan, komoditas pisang di Lampung, Aceh, Lumajang, dan Garut.

Kementerian Koperasi dan UKM juga tengah membentuk factory sharing untuk komoditas udang vaname di Muara Gembong, Jawa Barat, serta komoditas udang windu di Pinrang, Sulawesi Selatan. Pembentukan kedua factory sharing tersebut bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Selanjutnya, factory sharing juga dikembangkan untuk peternakan sapi perah dan susu di Batu, Jawa Timur, serta Pangalengan, Jawa Barat yang juga menggandeng kementerian/lembaga terkait serta industri pengolahan susu.

"Kami juga mengembangkan komoditas ayam dan telur bersama Kementerian Pertanian. Pengembangan industri peternakan melalui korporasi ini perlu dilakukan mengingat kasus stunting yang tinggi," kata Teten Masduki.

Peluang
Menteri Teten meyakini sekalipun di tengah pandemi, namun para pelaku koperasi dan UMKM (KUMKM) tetap memiliki peluang untuk menjaga eksistensinya. 

Pasalnya menurut survei dari berbagai lembaga, ada indikasi peningkatan konsumsi masyarakat pada kuartal I 2021 sehingga para pelaku usaha bisa memanfaatkan peluang tersebut.

Namun demikian, Teten tak memungkiri kehadiran pandemi covid-19 tak hanya memukul kesehatan, tetapi juga sektor perekonomian. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 yang masih terkontraksi -0,75% secara year-on-year.

"Meski terkontraksi, tapi sudah menunjukkan perbaikan dibanding kuartal IV 2020 yang mencapai -2,19%," ungkap Menteri Teten.

Sementara untuk mendukung peluang yang dimiliki pelaku usaha, Teten menyebut pihaknya tengah melancarkan implementasi PP Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan KUMKM sebagai turunan dari UU Cipta Kerja.

Kemudahan yang termaktub dalam regulasi itu antara lain jaminan kredit, perizinan usaha, kemitraan strategis, alokasi 40% belanja pemerintah bagi KUMKM, hingga penyediaan 30% ruang infrastruktur publik bagi ruang usaha UMKM.

Teten menyebutkan pihaknya juga sudah meningkatkan plafon KUR tanpa agunan dari Rp50 juta menjadi Rp100 juta. Serta, mengupayakan peningkatan porsi pembiayaan perbankan kepada KUMKM hingga 30% pada 2024 mendatang.

"Di samping itu, tengah dipersiapkan juga regulasi kredit bagi KUMKM dengan plafon sebelumnya Rp500 juta menjadi Rp20 miliar. Saya kira ini kemajuan yang luar biasa dari sisi kebijakan pemerintah," tandasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

INFOGRAFIS

TERPOPULER