Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

14 Oktober 2021|21:00 WIB

Kaspersky Prediksi Keuangan Digital Akan Rajai Pembayaran Asia Pasifik

Selanjutnya, Connel juga menjelaskan, faktor keamanan dan kenyamanan memicu lebih banyak pengguna Asia Pasifik untuk menggunakan teknologi keuangan

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Dian Hapsari

ImageLayanan Paylater dari aplikasi uang digital OVO. Shutterstock/dok.

JAKARTA – Kaspersky memprediksi penggunaan layanan keuangan digital di Asia Pasifik akan makin mendominasi ke depan. Sebaliknya penggunaan uang tunai akan makin menurun di waktu bersamaan. 

Managing Director Kaspersky Asia Pasifik Chris Connell menyebutkan, saat ini uang tunai masih dominan digunakan di Asia Pasifik. Dengan 70% responden masih menggunakan catatan fisik untuk transaksi sehari-hari mereka.

Namun, pembayaran mobile (58%) dan aplikasi mobile banking (52%), tidak jauh tertinggal. Pengguna setidaknya menggunakan platform ini sekali/minggu hingga lebih dari sekali/hari, untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan keuangan mereka. 

"Dari statistik tersebut, kami menyimpulkan, pandemi telah memicu lebih banyak orang untuk terjun ke ekonomi digital, yang dapat sepenuhnya menurunkan penggunaan uang tunai di kawasan ini dalam tiga hingga lima tahun ke depan,” katanya dalam webinar 'APAC Digital Payment & Business Update', Jakarta, Kamis (14/10).

Spesifik, data Kaspersky juga menunjukkan, sebagian besar (90%) responden Asia telah menggunakan aplikasi pembayaran seluler setidaknya sekali dalam setahun terakhir, mengonfirmasi ledakan tekfin di wilayah tersebut.

Sementara, hampir 2 dari 10 (15%) di antaranya baru memulai menggunakan platform ini setelah pandemi. Filipina mencatat persentase pengadopsi uang elektronik (e-cash) baru tertinggi sebesar 37%. 

Diikuti oleh India (23%), Australia (15%), Vietnam (14%), Indonesia (13%), dan Thailand (13%). Sementara terendah adalah China (5%), Korea Selatan (9%), dan Malaysia (9%).

China telah menjadi pemimpin terkemuka dalam pembayaran seluler di Asia Pasifik. Bahkan sebelum pandemi, platform lokal teratasnya, Alipay dan WeChat Pay, telah menyebabkan adopsi massal yang signifikan dan menjadi contoh bagi negara-negara Asia lainnya.

Selanjutnya, Connel juga menjelaskan, faktor keamanan dan kenyamanan memicu lebih banyak pengguna Asia Pasifik untuk menggunakan teknologi keuangan.

Lebih dari setengah responden survei tercatat mulai menggunakan metode pembayaran digital selama pandemi, karena lebih aman dan nyaman daripada melakukan transaksi tatap muka.

Responden juga menyebut, platform digital memungkinkan pengguna untuk melakukan pembayaran sembari mematuhi aturan jarak sosial (45%). Sekaligus menjadi satu-satunya cara mereka dapat melakukan transaksi moneter selama masa penguncian sosial (36%). 

Untuk 29% pengguna, gateway digital sekarang lebih aman dibandingkan dengan era sebelum covid-19. Persentase yang sama juga mengapresiasi beragam insentif dan hadiah yang ditawarkan oleh penyedia pembayaran digital.

"Meskipun memiliki persentase kecil, teman dan kerabat (23%) masih memengaruhi pengguna baru serta pemda (18%) dalam mempromosikan penggunaan metode pembayaran digital," ujarnya. 

Adapun pengguna pertama kali mengakui khawatir kehilangan uang secara online (48%) dan takut menyimpan data keuangan secara online (41%), ketika ditanya persiapan sebelum menggunakan mobile banking dan aplikasi pembayaran, 

Hampir 4 dari 10 juga mengungkapkan, mereka tidak mempercayai keamanan platform ini. Lebih dari seperempat juga menganggap teknologi ini terlalu merepotkan dan membutuhkan banyak kata sandi atau pertanyaan (26%). sementara 25% mengaku perangkat pribadinya tidak cukup aman.

"Untuk mendorong ekonomi digital aman ke depan, penting bagi kami untuk mengetahui titik kesulitan pengguna dan mengidentifikasi celah yang perlu segera Kaspersky tangani," ujarnya. 

Tetap Berhati-hati 
Connel melanjutkan, temuan pihaknya juga menggambarkan, publik menyadari risiko yang menyertai transaksi online. Karena itu, pengembang dan penyedia aplikasi pembayaran seluler sekarang harus melihat celah keamanan siber di setiap tahap proses pembayaran. 

"Kemudian menerapkan fitur keamanan, bahkan pendekatan desain yang aman untuk mendapatkan kepercayaan penuh pengguna pembayaran digital di masa depan dan yang sudah ada,” tambah Connell.

Untuk membantu pengguna Asia Pasifik menggunakan teknologi pembayaran digital dengan aman, para ahli Kaspersky menyarankan hal berikut; 

Waspada terhadap komunikasi palsu, dan berhati-hatilah saat menyerahkan informasi sensitif. Jangan langsung membagikan informasi pribadi atau rahasia secara online. 

"Terutama jika menyangkut permintaan informasi keuangan dan detail pembayaran Anda," jelasnya. 

Gunakan komputer dan koneksi internet anda sendiri saat melakukan pembayaran online. Sebagaimana hanya membeli dari toko terpercaya saat berbelanja secara fisik, terapkan kehati-hatian yang sama ketika melakukan pembayaran online. 

"Anda tidak akan pernah tahu apakah komputer umum memiliki spyware yang merekam seluruh ketikan di keyboard, atau ketika koneksi internet publik telah dicegat oleh pelaku kejahatan siber yang menunggu melancarkan serangan," katanya. 

Jangan bagikan kata sandi, nomor PIN, atau kata sandi satu kali (OTP) dengan keluarga atau teman. Meski tampak nyaman dan praktis, hal ini ini memberikan jalan masuk bagi pelaku kejahatan siber untuk mengelabui pengguna. 

"Sehingga mengungkapkan informasi pribadi untuk mengumpulkan kredensial bank. Simpan untuk Anda sendiri dan selalu lindungi informasi pribadi.

Gunakan produk keamanan untuk minimalkan risiko menjadi korban ancaman siber dan menjaga keamanan informasi keuangan Anda. Manfaatkan solusi keamanan yang andal untuk perlindungan menyeluruh dari berbagai ancaman.

"Seperti Kaspersky Internet Security, Kaspersky Fraud Prevention dan Kaspersky Safe Money untuk membantu memeriksa keaslian situs web bank, sistem pembayaran, dan toko online yang anda kunjungi, serta membangun koneksi yang aman," pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER