Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

14 Oktober 2021|15:38 WIB

Kapasitas Penampungan CO2 Indonesia Capai 1,5 Gigaton

Penerapan CCUS di lapangan migas Gundih, Sukowati, dan Tangguh diproyeksi bisa menyimpan 50 juta ton CO2

Penulis: Zsasya Senorita,

Editor: Fin Harini

ImageIlustrasi. Fasilitas produksi gas PT Pertamina EP Asset 4 Cepu Field CPP Gundih di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. ANTARA/HO/Dokumentasi PT Pertamina EP.

JAKARTA – Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tutuka Ariadji menyebutkan kapasitas penampungan CO2 di Indonesia mencapai total 1,5 Gigaton di depleted minyak dan gas reservoir yang diidentifikasi. Pemerintah pun telah memetakan lokasi-lokasi untuk penerapan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).

CCUS merupakan salah satu solusi teknologi yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan sekaligus dapat meningkatkan produksi migas melalui Enhanced Oil Recovery (EOR) atau Enhanced Gas Recovery (EGR). Sumber CO2 dapat diperoleh dari lapangan migas yang mengandung kadar CO2 tinggi, dari pembangkit maupun dari industri lainnya.

CCUS pun akan diterapkan di lapangan migas yang memiliki kandungan CO2 tinggi, demi mengurangi dampak perubahan iklim yang disebabkan emisi karbon dari produksi migas. Mengingat, Indonesia telah menargetkan peningkatan produksi minyak bumi menjadi 1 juta barel per hari (bopd) dan 12 miliar standar kaki kubik per hari (MMscfd) gas pada 2030 mendatang.

“Sudah ada beberapa data untuk kapasitas dan studi implementasi awal yang dilakukan oleh industri migas,” ujar Tutuka dalam siaran pers hari ini, Kamis (14/10).

Ia menjelaskan, terdapat enam proyek CCUS potensial yang tengah dalam tahap kajian. Pertama, proyek di lapangan migas Gundih yang merupakan pengembangan antara ITB, J-Power, dan Janus.

Ada juga proyek CO2-EOR Sukowati oleh PT Pertamina EP yang tengah dikembangkan dengan menggandeng Japex dan Lemigas. Sementara, penerapan CCUS dan EOR lainnya tengah dikaji di lapangan Limau Biru oleh Japex dan Lemigas yang juga terlibat dalam proyek MRV methodology.

Dua proyek lainnya adalah proyek Sink Match oleh ITB dan Janus, serta proyek CCUS di Tangguh oleh BP Berau Ltd dan ITB.

“Dari tiga proyek CCUS di Gundih, Sukowati, dan Tangguh diharapkan bisa menyimpan CO2 sebanyak 50 juta ton nantinya,” ucap Tutuka.

Selain studi CCUS per lapangan, di Indonesia juga telah dilakukan studi COSource-Sink Match khususnya di area Sumatra, Jawa, dan Kalimantan yang telah dilaksanakan oleh Center of Excellence ITB. Studi ini dilaksanakan untuk memetakan sumber CO2 dan lapangan yang berpotensi untuk dilakukan injeksi CO2.

Sumber COdimaksud, tidak hanya dari lapangan migas, tetapi dari pembangkit listrik dan industri lainnya. Identifikasi sumber CO2 ini dipercaya akan memberi kemudahan dalam memetakan sumber dan potensi lokasi injeksi terdekat, serta membuka kemungkinan untuk dibuat system clustering atau hub sehingga injeksi dapat dilakukan dari beberapa sumber CO2 ke beberapa lokasi yang berdekatan.

Strategi berikutnya, pemerintah akan mengupayakan agar industri hulu migas bisa melakukan efisiensi energi termasuk mengurangi flaring dan venting. Tutuka menginformasikan Kementerian ESDM telah menerbitkan Peraturan Menteri mengenai hal ini, baik dari sisi teknis maupun komersial.

Pemerintah juga menempuh upaya implementasi perdagangan karbon atau carbon cap and trade, serta mempromosikan carbon offsetting.

“Jadi bisa diperdagangkan, tapi kita harus punya aturannya,” tandas dia.

Tutuka pun menegaskan Kementerian ESDM tengah menaruh perhatian secara serius dalam menurunkan emisi karbon di sektor hulu migas. Kendati begitu, target peningkatan produksi migas tetap menjadi prioritas demi menjaga ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

“Kami mencari upaya keseimbangan antara penambahan produksi migas dengan pengurangan emisi karbon,” pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA